Mengelola Harta ala Al-Qur’an

Sedari kecil, kita selalu diajarkan untuk menabung, yaitu menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk kebutuhan di masa yang akan datang atau mengumpulkan harta sedikit demi sedikit sampai terkumpul untuk membeli apa yang ingin kita miliki.
Ya, bahkan ada lagunya untuk hal ini, “bing beng bang yok kita ke bank.. bang bing bung yok kita nabung.. tang ting tung hey jangan dihitung, tau-tau kita nanti dapat untung”.

Saat kita sudah beranjak dewasa pun, amat banyak seminar, buku, dan masih banyak lainnya tentang mengelola keuangan kita.. kebanyakan yang diajarkan dalam buku tersebut adalah mewajibkan kita untuk menabung dalam bentuk tabungan bank, investasi, deposito, reksadana, dsb.

Akan tetapi, saat kita menabung ala dunia tersebut, kita terganjal oleh sistem per-bank-an yang menjadikan harta kita syubhat bercampur dengan riba.

Meskipun kini sudah banyak bank syariah, namun saat ini bank-bank tersebut belum sepenuhnya syariah karena masih ada yang menggunakan sistem yang dikhawatirkan riba.

Sementara, Allah berfirman tentang riba,
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa:161)

Lalu, bagaimanakah sebaiknya kita mengelola harta kita demi menghindari riba yang dilaknat Allah? Ternyata, Allah telah memberikan jawabannya di dalam al-qur’an.

Dalam al-qur’an tidak ada kosakata menabung demi memiliki sesuatu. Setiap rezeki yang kita miliki adalah jaminan dari Allah sehingga apa yang kita perlukan pasti Allah akan penuhi.

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud:6)

Pertama-tama, jaminan ini harus kita tanamkan dalam hati kita, kuncinya adalah yakin pada janji Allah. Kita butuh rumah tinggal, nanti Allah kasih rumah, kita butuh kendaraan, nanti Allah kasih kendaraan, kita butuh memenuhi kebutuhan rumah tangga, nanti Allah yang penuhi kebutuhan kita. Ya, kunci pertama dalam mengelola harta menurut al-qur’an adalah yakin dengan jaminan rezeki dari Allah.

Kemudian, kita pun seringkali berpikir, memeras otak dalam-dalam dan akhirnya membuat tabungan yang berjudul, “dana tidak terduga”. Entah untuk biaya kesehatan yang mungkin sewaktu-waktu kita akan sakit, biaya bencana, dll.

Padahal lagi, untuk hal seperti ini pun Allah sudah memberi jawaban bagaimana mengelola harta untuk biaya tak terduga ini.

“…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq:2)

” Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (QS. Ath-Thalaq:3)

“…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq:3)

Tawakkal pada Allah dan Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, ya itulah jawaban Allah. Kita harus tawakkal, berserah dengan segala ketentuan Allah, dan pada akhir ketawakkalan kita, Allah akan memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka. Tak perlu kita pusing menyiapkan dana darurat, mikir keras kalo dana darurat ini terpakai atau habis akan bagaimana nanti, semua itu tak perlu, cukup tawakkal menjadi kunci kedua.

Selanjutnya adalah di bidang perencanaan masa depan. Kita ingin memiliki rumah, memiliki kendaraan, biaya sekolah anak, dsb. Demi itu semua, lagi-lagi kita seringnya mengandalkan tabungan kita, mengumpulkan sedikit demi sedikit harta kita sampai terkumpul untuk membeli yang kita inginkan. Melakukan penyimpanan harta dengan deposito, investasi, dsb. Dan lagi-lagi seperti yang saya katakan di awal, saat kita menabung di bank, artinya kita tidak terlepas dari sistem riba bank. Dan bisa jadi harta kita untuk membeli sesuatu itu jadi bercampur dengan harta riba.. na’udzubillahi min dzalik.
Dan pada masalah ini, Allah lagi-lagi memberi jawabannya,
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah : 274)

Sedekah menyuburkan harta, ya itulah jawaban Allah. Andaikan kita menginginkan sesuatu seharga 100, janganlah kita sibuk mengumpulkan 10 demi 10, atau bahkan mencicilnya dengan kredit.

Jika kita menyedekahkan 10 dari harta kita, insyaAllah Allah jamin akan diganti 10x, maka kita akan mendapatkan 100 tersebut, bisa cepat, bisa lambat semua ketentuan Allah.
Jika kita berpikir menabung 10 demi 10 atau mencicil 10 demi 10 pasti aman, belum tentu juga, jika Allah tak berkehendak bisa jadi saat uang kita mencapai 50, kita sakit sehingga 50 itu terpakai dan akhirnya kita harus mulai lagi dari awal. Ya, sedekah menyuburkan harta itulah kunci ketiga.

Lantas, apakah kita sama sekali tidak boleh menyimpan harta kita dan harus menghabiskan begitu saja? Tentu tidak, kunci keempat mengelola harta ala al-qur’an adalah tidak berlebih-lebihan dan tidak boros.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Jadi, daripada membuat istilah menabung, lebih baik diganti dengan istilah tidak boros.. harta yang kita miliki kita pergunakan seperlunya, tidak untuk berfoya-foya. Jika ada sisa, dibiarkan saja sisa tersebut dan tetap dipenuhi haknya untuk dizakatkan dan disedekahkan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersedekah dari apa yang diberi Allah dan Allah tidak suka pada orang yang kikir.

Menyimpan harta jika ia dalam jumlah besar sebaiknya tidak di bank, tapi jadikanlah ia sesuatu yang membawa manfaat bagi orang lain, seperti menjadi sebuah lahan untuk pertanian, ternak, usaha, dll. Sehingga harta tersebut tidak diam di tempat tapi bisa tetap kita miliki dan menambah manfaat bagi sekitar kita.

“(ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam, lalu dengan itu disetrika dahu, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah:35).

Menyimpan uang dalam jumlah besar pun sebaiknya tidak di bank, jadikan saja ia emas/perak yang nilainya senantiasa terjaga dan lebih syar’i karena tidak akan tercampur dengan harta riba, dengan catatan selalu dipenuhi haknya untuk dizakatkan.

Lalu, apakah tidak boleh ada uang di bank? Tentu saja boleh. karena saat ini transaksi apa pun pasti melibatkan uang di bank dan itu memudahkan seperti untuk membayar listrik, pulsa, dsb. Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai uang tersebut menumpuk begitu saja di bank dalam jangka waktu lama karena itu akan membuat uang kita makin tercampur dengan riba. Oleh karena itu, saya pribadi cenderung tidak memilih deposito untuk menyimpan harta dalam jumlah banyak dan lama.

Fitri Rachmawati, S.Kom