Bagaimana Menghadapi Anak Tetangga yang Buruk Perilakunya?

Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan)

Diasuh oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhori (Abah Ihsan)

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wr. wb.
Abah Ihsan, di rumah ada anak tetangga belakang yang tiba-tiba suka main di gang kami. Dia baru saja punya adik jadi seperti anak “LIAR” yang dilepas sama ortunya. Usianya baru 3,5 tahun dan jenis kelaminnya perempuan. Nah masalahnya dia ini jahat banget kalau ngomong sambil marah-marah, berani sama orang tua, bagi saya dia membawa pengaruh buruk sekali dalam dunia pertemanan anak-anak, tutur katanya buruk sekali, ringan tangan juga.

Bagaimana Abah caranya mengatasi anak ini,gak mungkin juga anak saya di larang main, dia sudah jarang sekali main, sesekali saja mainnya,tetapi tiap kali main selalu ada anak ini. Saya sebenarnya sangat terganggu dengan dia.
Terimakasih Abah.

Abu Alfian, Depok

Jawaban:

Dear parent shalih, shalihah..

1. Sadarilah anak ini adalah anak kekurangan kasih sayang (perhatian). Jarang diberikan batasan dan lainnya.

2. Kadang selain karena tak diberikan batasan, untuk menarik perhatian orang lain (karena kurang perhatian tadi), mirip anak remaja, ia melakukan sesuatu yang akan memancing orang dewasa memerhatikannya.

3. Pilihan paling lemah adalah mengabaikannya, menjauhinya. Tidak sulit melarang anak untuk menjauhi dia. Jika memang sudah berbahaya untuk pengaruh anak kita.

4. Pilihan terbaik adalah merangkul anak itu. Jangan-jangan itu ladang da’wah kita. Sebelum dia membesar dan lebih merusak, kita urus dia. Jangan-jangan ini adalah peluang Allah untuk kita. Ketika urus anak tetangga yang sering bergaul dengan kita, hakikatnya kita mengurus anak kita sendiri. Ketika kita menjaga anak tetangga bisa jadi kita menjaga anak kita juga.

Bagaimanapun akhlak anak tetangga yang sering bergaul dengan anak kita, akan mewarnai anak kita kan? Meski mungkin kita berharap anak kita yang mewarnai dia.

Daripada menganggap anak itu “syetan” lebih baik anggap anak itu adalah “sumber pahala dan ridlo Allah”

5. Rangkul anak itu, warnai dia, pengaruhi dia, da’wahi dia. da’wah dg ma’na sebenarnya mengajak pada kebaikan, bukan diselewengkan jadi kemampuan pidato agama kayak di tivi. Da’wah bukan hanya dengan menasihati lewat lisan, tapi juga dengan kasih sayang dan kebaikan untuknya.

Undang dia ke rumah kita. Abaikan dulu keburukannya sebab kita lagi proses mewarnai. Ajak main ke rumah kita. Temani dia main. Berikan makanan yang menyenangkan anak. Bacakan cerita, dongengnkan dia. sekalian dengan anak kita. Kalau perlu minta izin ibunya sesekali tidur siang di rumah kita.

Saya, jika ada anak ribut di masjid setelah selesai sholat, alih-alih membentak, saya lebih memilih menyentuh kepala mengusapnya, memberi mereka senyum dan ngajak bicara “namanya siapa? Ayah dimana? Ibu dimana? Ke masjid sama siapa? Senang ke masjid? Apa senanngya?”

Setelah mereka senyum-senyum lalu baru kita ngomong “senang main ya? Boleh anak shalih sudah rajin ke masjid masya Allah… Kerennn! Klo mau main juga boleh, tapi selesai sholat ya. Orang-orang besarnya terganggu… Nak.. Boleh nanti mainnya?”

Besok-besok gak akan langsung berhenti seketika. Bisa ratusan kali saya melakukannya. Kadang saya sholat di samping mereka. Kadang saya pisahkan dan selip-selipkan mereka saat jadi giliran imam agar para ma’mum dewasa menyelipkan anak-anak itu. Dan seterusnya.