Perspektif Lain tentang Poligami

Di Facebook sedang ramai film “Surga yang Tak Dirindukan” yang berkisah seputar poligami. Topik kontroversial yang dikupas menjadi sebuah film.

Bicara poligami pada umumnya orang akan bilang, “enak si suami”, “si istri sakit hati” atau “wah hebat, si istri ikhlas dimadu”. Pembicaraan hanya seputar suami istri, bahkan mungkin di kalangan jomblo hanya seputar urusan ‘kasur’ atau yang tahu agama sedikit bilang, “itu sunnah yang terzhalimi”. Sedikit yang mengupas, bagaimana sesudahnya. Kehidupan rumah tangga yang dipenuhi api cemburu istri yang bertolak belakang dengan api asmara ke-2 pihak suami itu rupanya yang banyak dikupas dan dibahas.

Saya ingin melihat dari sisi lain. Yaitu keturunan. Anak-anak dari beda ibu. Seorang bapak bukan hanya harus kuat masalah finansial dan urusan membagi cinta dengan para istri tapi juga menjaga kelangsungan keturunan-keturunannya dari istri-istrinya.

Ingatkah kisah Yusuf a.s. dan saudara-saudaranya? Satu ayah namun beda ibu, melahirkan kisah dahsyat yang ditulis dengan lengkap dan jelas pada surat Yusuf. Yusuf a.s dibenci saudara-saudara tirinya yang mengakibatkan penderitaan batin luar biasa bagi ayahnya, Ya’qub a.s.

Kenalkah anda dengan Khalifah Harun al Rasyid? Khalifah bani Abbasiyah yang terkenal kemasyhurannya. Namun adakah yg tahu bahwa anak-anaknya yang beda ibu berseteru dan saling membunuh untuk memperebutkan khilafah? Muhammad al Amin bin Harun al Rasyid memiliki ibu dari bangsa Arab. Abdullah al Ma’mun bin Harun al Rasyid memiliki ibu dari bangsa Persia. Perseteruan dua bersaudara ini sudah terasa pada waktu ayahnya masih hidup. Sehingga ayahnya membagi kerajaannya, yg jazirah arab dikuasai al Amin, sedangkan persia dikuasai al Ma’mun. Keduanya disumpah di depan Ka’bah. Namun tak lama setelah ayahnya wafat, keduanya berperang dan al Amin dibunuh pasukan saudara tirinya.

Kenalkah anda dengan Sultan Salahuddin al Ayyubi, Pahlawan al Quds. Setelah Salahuddin meninggal, anaknya Ali al Afdhal berperang melawan saudara tirinya Utsman al Aziz.

Kenalkah anda dengan Sultan Muhammad al Fatih, pembuka Konstantinopel dan juga pahlawan Islam dalam melawan Drakula. Anaknya Bayazid berperang dengan saudara tirinya Cem. Cem meminta tolong ke Eropa untuk mengalahkan saudara tirinya, Bayazid. Namun oleh Paus waktu itu Cem dijadikan semacam jaminan agar Bayazid tidak memperluas wilayahnya ke Eropa. Paus juga meminta uang jaminan yg besar agar bisa menjadikan Cem sbg tahanan rumah. Jika tidak, Cem akan didukung penuh Eropa untuk mengalahkan Utsmaniyah. Dan berperang melawan saudara tiri sendiri tentu sangat tidak enak bagi Bayazid.

Itu hanya sekelumit kisah yang saya baca. Namun point pentingnya adalah, jika anda ingin menikah lagi, namun mengkhawatirkan para istri cemburu, itu alasan kuno dan sangat nggak penting. Istri-istri saling cemburu itu normal. Anda bisa langsung tidur saja atau hang out dengan kawan-kawan atau nonton film box office terbaru. Kalau ingin relijius, ya tilawah Quran saja. Biarkan istri-istri anda cemburu dan toh mereka sudah dewasa. Tidak penting ubtuk ikut melankolis seperti sinetron-sinetron. Dan nggak usah terlalu dipikir urusan kamar tidur, itu sudah by default seperti itu. Yang harus anda prioritaskan adalah masa depan keturunan-keturunan anda dari istri-istri yang berbeda. Mereka  rawan konflik. Mulai dari soal kasih sayang (yang abstrak), finansial (yang nyata) hingga warisan.

Mungkin kesan tulisan di atas seolah-olah saya mengharamkan poligami. Tidak, saya tidak mengharamkannya. Namun lebih ingin mengupas resikonya dari sisi keturunan (high risk), dan bukan dari sisi perempuan (low risk) yang sering dibahas di media. Sama saja seperti ini. Sekolah di Al Azhar, Madinah, maupun yang lain itu bagus dan sangat dianjurkan untuk menambah keilmuan agama. Tapi apa semua orang bisa? Haji itu termasuk rukun Islam. Namun apa semua orang bisa Haji dengan kondisi saat ini? Poligami itu boleh atau sunnah (menurut yang lain) atau bahkan mungkin wajib (utk beberapa kasus spesifik), tapi apa semua orang bisa siap dengan efeknya?

Semoga bapak-bapak tetap semangat dan ibu-ibu tetap waspada.

Ust. Hilman Rosyad