Raja-raja Kecil

Ide-ide sentralistik memang sudah ketinggalan zaman.
Desentralisasi dan kekuasaan yang terbagi lebih kita percaya di hari-hari ini. Di era ini, kita khawatir dengan terkumpulnya kekuasaan pada satu sosok atau satu entitas.

Dalam pencarian bentuk idealnya, kadang ada upaya untuk terus mengoreksi gagasan-gagasan desentralisasi itu. Ini sebagian upaya untuk menghindari desentralisasi yang kebablasan.

Tapi itu tidak akan mudah.

Karena kita suka menjadi sentral. Suka menjadi pusat perhatian. Suka ada banyak pihak yang mengorbit. Suka banyak pelayan dan dayang-dayang. Dan suka orang-orang tawajjuh, mewajahkan dirinya, pada kita. Suka menjadi raja. Raja kecil. Raja kecil-kecil.

Kita suka jika pendapat kita di berbagai media dijempoli, di-like, di-klik, di-share, dikomentari positif, atau dipuja-puji.

Jempol dan puja-puji itu tak terhindarkan ketika gagasan kita memang brilian. Like, shared, dan klik itu tak bisa dilarang ketika ide kita layak untuk itu. Komentar positif itu tak perlu dihindari dengan alasan kualitas dan kesesuaian. Justru, sejak awal, memang sudah harus ada kesadaran dan keyakinan bahwa apapun yang kita produksi akan berguna bagi kebaikan.

Tapi, juga perlu kewaspadaan. Bahwa pasti ada kemungkinan munculnya penjilat-penjilat, dan kita cuma tak perlu terlalu girang dan genit terhadapnya. Cuma, kita harus memastikan bahwa tak semua orang akan tulus memuji. Kita cuma harus melek bahwa sangat mungkin ada mereka yang memendam benci di satu sudut sepi yang kita tidak tahu. Dan kita cuma harus maklum jika ada mereka yang tidak faham, mereka yang gagal faham, atau mereka yang tidak mau faham pada gagasan kita.

Itu saja.

Tidak mudah mencegah desentralisasi. Karena ide sentralisasi sudah kehilangan momentumnya. Karena kita suka jadi sentral. Dan karena ada yang akan bersedia menjadikan kita sentral, dengan beragam alasan.

Rasah kemayu, aja gumunan, aja aji mumpung, dan rasah iyik. Itu saja. Mungkin sudah cukup.

Jakarta, 4 Agustus 2015
Eko Novianto