Meretas Jalan Kejayaan (Catatan Jelang Muktamar NU ke 33)

Suatu ketika, Imam Al Auza’i bertemu dengan Abdullah Ibnu Al Mubarak. Beliau memaki – maki Imam Abu Hanifah yang dianggapnya membuat bid’ah karena banyak menggunakan ra’yu. Abdullah ibnu Al Mubarak diam saja, karena beliau sangat cinta kepada Imam Abu Hanifah sekaligus sangat hormat kepada Imam Al Auza’i. Imam Al Auza’i adalah ahli fiqih dari Syam.

Setelah Imam Al Auza’i selesai berbicara, Abdullah Ibnu Al Mubarak tidak menanggapinya. Dia justru menyampaikan beberapa persoalan fiqih yang cukup rumit dan pelik. Kemudian beliau memaparkan analisa dan penjelasannya, beserta fatwanya.

Rupanya, Imam Al Auza’i sangat terpesona. Akhirnya beliau bertanya : “Darimana engkau belajar hal demikian?” Abdullah Ibnu Al Mubarak menjawab : “Dari seorang syaikh di Kufah (Abu Hanifah)”.

Imam Al Auza’i lalu berkata : “Teruslah engkau belajar kepadanya. Ternyata dia tidak seperti apa yang aku dengar tentangnya”. 

Pelajaran dan hikmah dari kisah itu bisa panjang lebar dan luas. Kami coba uraikan beberapanya, semoga bisa mendewasakan kita semua.

Melawan Fanatisme
Jika kita masuk ke group diskusi antar mazhab maupun antar harokah dimedia sosial, biasanya lebih didominasi dengan fitnah, sumpah serapah dan caci maki antar satu golongan dengan pihak lainnya. Sedikit sekali yg konsen dengan diskusi, hujjah dan dalil.

Fenomena itu sudah terjadi sejak dulu. Bukan sekedar membuat hadits palsu untuk mengangkat mazhabnya, bahkan juga terjadi “perang doa”. Ada ulama shaleh yang pernah berdoa “Ya Allah matikanlah Imam Syafi’i. Jika tidak, niscaya mazhab Imam Malik akan punah”. Tidak lama berselang Imam Syafi’i wafat, demikian pula dengan orang yang berdoa tersebut.

Dalam situasi dimana kebenaran sulit terlihat, ada baiknya kita berdiam diri dan menurunkan tensi. Terlebih zaman sekarang, dimana banyak beredar info yang tidak jelas sanad dan validitasnya. Jangan sampai kita meninggalkan prinsip yang penting yaitu “Asyiddaa-u ‘alal kuffari, ruhamaa-u bainahum”

Buka Mata, Buka Hati 
Bisa jadi kita memang berasal dari satu madrasah tertentu, mazhab tertentu dan ormas tertentu. Kita pun berkewajiban untuk menjaga warisan ilmiah dari guru – guru kita. Namun bukan berarti kita menutup diri dari khazanah keilmuan diluar kelompok kita.

Mari kita kaji Imam Syafi’i lebih dekat, agar kita paham mengapa beliau dijuluki “Nashirus Sunnah”. Ayo kita berkenalan dengan Ibnu Taimiyah agar kita mengerti mengapa beliau digelari “Syaikhul Islam”. Ayo kita selami pemikiran Al Ghazali agar kita tahu mengapa beliau disebut “Hujjatul Islam”.

Monggo dibaca kitabnya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, supaya kita paham mengapa beliau disebut – sebut sebagai “Imam Nawawi Abad Ini”. Ayo kita telaah warisan Hasyim Asy’ari, agar kita mengerti mengapa beliau dijuluki “Hadratusy Syaikh”. Daftarnya masih panjang.

Sebagaimana kita diciptakan berbangsa – bangsa agar saling mengenal, mari kita santap sajian keilmuan dari beragam madrasah agar timbul rasa hormat. Baik kepada ulamanya, maupun kepada santri-santri yang menimba ilmu darinya.

Semakin lama kita menimba ilmu, semestinya semakin banyak corak madrasah yang kita pelajari. Agar jika ada orang bertanya “Kemana jalan menuju ke Mesir?”, kita bisa menjawabnya dengan mudah. Bahkan, kita juga bisa menunjukkan pula jalan menuju ke Makkah, Madinah, Syam dan Kufah.

Dengan memadukan beragam corak keilmuan dari banyak madrasah, bisa jadi kita akan menemukan ilmu – ilmu yang baru. Sebagaimana Imam Syafi’i yang mampu memadukan madrasah ahli hadits dengan madrasah ahli ra’yu, sehingga bisa membuat khazanah ilmu baru yang sangat penting, yaitu ushul fiqih.

Reformasi Gerakan
Dari sejarahnya, NU memang lahir sebagai bentuk kristalisasi perjuangan melawan gerakan dan paham wahabi, khususnya yang berkaitan dengan thariqah, ziarah dll. Karenanya mudah dipahami mengapa kaum nahdliyin sangat anti terhadap frase “wahabi”, “salafi”, “bid’ah” dan turunannya. 

Oleh sebagian kalangan, kondisi ini dimanfaatkan sedemikian rupa demi meraih tujuan – tujuan tertentu, seperti untuk meraih dukungan politik, mengisolasi pemikiran kaum nahdliyin maupun mempertegas identitas kejama’ahannya. 

Sebagian dari kita dididik dan dibesarkan dengan doktrin ketat sejak kecil. Generasi mbah kita mungkin pernah mengalami doktrin bahwa “Islam itu NU”. Seolah MD (Muhammadiyah) bukan islam. Sekarang kita tahu bahwa doktrin itu salah.

Sebagian teman – teman kita masih didoktrin bahwa gerakan diluar NU (atau yang mengkritik NU) sebagai paham wahabi. Sekarang kita tahu bahwa sebagian yang mengkritik orientasi (PB)NU juga banyak yang berpaham Asy’ariah.

Saat ini kalangan elit NU sangat longgar terhadap paham Syi’ah dan Muktazilah, padahal mereka bukan keluarga besar ahlus sunnah. Bahkan akademisi NU di IAIN sangat getol mempromosikan metode dan kajian islamologi dari orientalis, padahal mereka bahkan tidak beragama islam. 

Jika (PB)NU mau mereformasi diri, ada kemungkinan kaum nahdliyin akan naik ke panggung sejarah dunia. Karena modal sosial ummat Islam di Indonesia sudah sangat kuat, siap ber-fastabiqul khairat dengan Turki. Pertanyaannya, apakah (PB)NU juga sudah siap?

Eko Jun