Memberi Makna dalam Hidup

Muhammad Irsan

“Sesuatu itu tidak bermakna sampai anda memberi makna atasnya”

Sepakatkah anda dengan kutipan di atas? Mungkin ada yang sepakat, ada yang tidak sepakat, atau bahkan mungkin berkata, “Maksudnya apaan sih?”

Agar mudah mencernanya, mari kita dengar contoh berikut. Pernahkah anda kehilangan uang lima ratus rupiah? Bisa jadi anda yang merasa pernah kehilangan lima ratus rupiah tidak peduli, karena bagi anda kehilangan lima ratus rupiah tidak berarti apapun bagi anda. Tapi lain ceritanya bagi seseorang yang di kantongnya punya uang pas-pas-an, hanya Rp. 4.000 dalam bentuk recehan. Dan itu adalah ongkos pulang ke rumahnya. Saat mau naik angkot, ia baru sadar kalau uang koin lima ratus rupiahnya hilang. Baginya uang koin lima ratus itu sangat penting, karena tanpa uang lima ratus ia sulit untuk pulang ke rumah naik angkot.

Memberi makna terhadap suatu peristiwa, kejadian, benda, perbuatan bahkan identitias diri kelihatannya hal yang sepele, tapi ternyata bila kita kurang tepat memberikan makna atasnya bisa berakibat buruk. Itu sebabnya sejumlah media massa terkemuka mengubah headline news nya tentang peristiwa penyerangan terhadap jamaah sholat Ied di Tolikara. Salah satu media yang headline awalnya adalah “Saat Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musholla di Tolikara” Lalu judul diubah menjadi “Amuk Massa di Tolikara.”

Makna yang terkandung pada headline pertama pasti akan membuat umat Islam akan marah. Untuk itu headline newsnya diubah agar makna yang ditangkap menjadi berbeda.

Begitu pula berita yang sedang hangat belakangan ini yaitu tentang haram atau tidaknya BPJS. Sosial media guncang saat ada berita bahwa fatwa MUI menyatakan bahwa BPJS haram. Namun belakangan diralat bahwa MUI tidak pernah memberikan fatwa haram terhadap BPJS.

Din Syamsuddin memastikan bahwa MUI hanya mengeluarkan rekomendasi yang berisi pandangan ulama terkait dengan layanan BPJS Kesehatan dalam acara Forum Ijtima Ulama MUI di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah di Cikura, Tegal, Jawa Tengah, pada 8-10 Juni lalu. Sejauh ini ulama menganggap ada sejumlah hal dalam BPJS yang belum sejalan dengan syariat Islam. Di antaranya adalah mekanisme pencairan yang dianggap menyusahkan masyarakat. “Kami hanya meminta untuk disempurnakan,” ujar dia, mengklarifikasi.

Sebelumnya anggota Komisi Fatwa MUI, Arwani Faisal, menganggap BPJS perlu disempurnakan karena mengandung gharar atau tipuan, maysir atau untung-untungan, dan melahirkan riba. Dia mencontohkan peserta BPJS yang rutin membayar premi. Namun, ketika peserta tidak bisa membayar premi, dia terkena denda. “Ditolak dan tidak mendapat pelayanan. Ini kan unsur gharar,” ujar dia.

Coba bayangkan bila BPJS tetap mendapat label haram dari MUI, kira-kira apakah umat Islam yang benar-benar ingin menjalankan syariat mau ikut serta dalam keanggotaan BPJS? Dengan kalimat yang lebih elegan, pernyataan Din Syamsuddin mampu mengubah makna dari haram menjadi sistem BPJS yang BELUM sejalan dengan syariah harap disempurnakan. Perubahan makna ini tentunya bisa mengubah sikap pemerintah dan umat Islam di Indonesia terhadap BPJS.

Mmm.. padahal kalau suatu sistem ada ribanya, itu haram gak sih? Bukankah ada ayat yang menyatakan, “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), memberi makna dinamakan framing, mengubah makna adalah reframing. Sedangkan dalam ilmu komunikasi kita mengenal kerangka berpikir, sudut pandang, dan persepsi.
Saat kita bisa memberi makna positif terhadap sebuah peristiwa, maka kita akan merespon peristiwa itu juga dengan cara berpikir dan perilaku yang positif. Sekarang bagaimana caranya agar dengan memberikan makna yang positif, maka kualitas hidup kita juga menjadi lebih baik? Biar enak, kita bahasnya pakai contoh keseharian. Kita ambil contoh saat kita bangun tidur.

Yuk kita ingat-ingat kembali saat kita bangun tidur, apa makna yang anda berikan saat bangun tidur dan bagaimana dampaknya?
Berikut ini beberapa pemaknaan saat seorang muslim bangun tidur saat mendengar azan subuh:
a. Biasa saja
b. Malas aah..
c. Panggilan dari Allah untuk sholat
d. Ibadah terbaik apa yang bisa saya lakukan di hari ini?

Kita bahas yang pertama: Biasa aja

Ada muslim yang bangun tidur merasa biasa-biasa saja. Dia gak sholat tapi dia terbangun. Saat seorang muslim tidak melakukan sholat berarti ada masalah pada hatinya dalam memaknai azan. Bila azan sebagai panggilan untuk menyembah Allah tidak membangunkan jiwanya, berarti hanya fisiknya saja yang terbangun tapi tidak dengan jiwanya. Saat seseorang belum menuntut ilmu tentang Islam dan tidak mendidik dirinya untuk taat, maka saat azan berkumandang ia menganggap hal yang biasa saja dan tidak tergerak untuk melakukan sholat.

Kedua: Malas aah

Saat anda terbangun mendengarkan azan subuh, lalu ada perasaan malas dan anda menurutinya berarti anda memaknai azan dan sholat subuh sebagai hal yang tidak lebih penting dibandingkan yang anda lakukan sekarang. Bisa jadi muslim yang seperti ini belum bisa memaknai “Asholatu khairumminannaum” (sholat itu lebih baik daripada tidur). Bisa jadi dia belum paham bahwa sholat subuh lebih baik daripada bumi dan seisinya

Ketiga: Azan adalah panggilan dari Allah untuk sholat

Saat anda dengar suara azan lalu anda terbangun, lalu anda memaknai azan sebagai panggilan dari Allah agar anda segera melakukan sholat subuh, maka anda pasti bergegas bangun dan berwudhu untuk menunaikan sholat subuh.
Keempat: Ibadah terbaik apa yang bisa saya lakukan hari ini.
Bayangkan bila saja anda sudah mendapatkan vonis dari dokter bahwa ternyata anda memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan bahkan anda diramalkan akan meninggal dunia esok hari. Dan saat esok hari ternyata anda terbangun saat azan berkumandang, apa yang anda rasakan? Apa yang anda maknai dari kehidupan anda di subuh itu. Bisa jadi selain anda bergegas sholat, anda juga merasa bersyukur dan merasa bahwa anda memiliki amanah atau misi dari Allah untuk melakukan amal ibadah terbaik yang bisa anda lakukan pada hari itu.

Sahabat, ternyata satu peristiwa subuh bila dimaknai dengan makna yang berbeda akan menghasilkan, sikap dan perilaku yang berbeda pula. Bila kita maknai sebuah peristiwa dengan makna yang positif, maka otomatis kita akan memiliki pemikiran, perasaan, sikap dan perilaku yang positif juga. Sayang sekali bila peristiwa berlalu namun kita luput memberi makna yang positif atasnya.

Itu sebabnya sebagai muslim kita diminta untuk selalu memiliki niat yang baik. Saat kita memiliki niat yang baik, ikhlas disertai pemaknaan yang tepat, maka insya Allah amal ibadah yang kita lakukan akan jauh lebih bermakna dan bernilai.

Insya Allah dalam tulisan berikutnya kita akan belajar bagaimana Rasulullah sawdan para ulama memberikan makna pada perbuatan mereka sehingga amal ibadah mereka memiliki kualitas yang sangat tinggi.

Semoga bermanfaat.

Wallahu ‘alam bishowab.

Muhammad Irsan

Penulis adalah seorang trainer yang banyak memberikan training motivasi, hypno selling, komunikasi persuasif dan training sertifikasi internasional NLP berikut aplikasinya.