Sebelum Merasakan Nikmatnya Ibadah…

Mendatangi masjid untuk sholat zhuhur, saya terlambat sholat berjamaah rombongan pertama. Keperluan di kantor yang dilanjut makan siang membuat saya hanya bisa mengikuti rombongan sholat jamaah berikutnya.

Lalu sempat terfikir untuk memperbaiki semangat beribadah. Saya harus membaca lagi artikel-artikel fadhilah amal, atau kalau perlu membaca khusyuknya ibadah para sufi yang lurus.

Di dalam masjid, beberapa jamaah ada yang sudah beranjak meninggalkan tempat sholatnya, dan sebagian masih duduk meneruskan dzikir. Ada space kosong di tengah yang bisa diisi untuk sholat jamaah gelombang berikutnya. Kami yang belum menunaikan kewajiban segera menuju ke sana berkumpul membentuk shaf.

Di dekat shaf pertama, ada seorang yang terlihat begitu asyik berdzikir. Menundukkan kepala, memejamkan mata, dan memutar tasbih dengan mulut komat-kamit. Entah ia mendengar iqomat yang dikumandangkan di dekatnya, atau tidak.

Orang-orang makin berdatangan untuk bergabung. Sementara shaf pertama mentok oleh orang yang duduk itu. Ditunggu-tunggu, orang itu tak jua beranjak. Akhirnya dibuatlah shaf kedua.

Peristiwa tadi menyentuh saya. Ada yang lebih penting dari merasakan nikmatnya beribadah, yaitu peduli dengan sesama.

Teringat kisah Rasulullah saw mempercepat sholatnya saat ia sedang mengimami umat muslim, karena terdengar suara anak kecil menangis. Agar sang ibu yang ikut serta berjamaah bisa segera mengurusi anaknya. (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Aulawiyat pun menjelaskan bahwa hak hamba lebih prioritas atas hak Allah semata-mata. (Untuk mengerti duduk perkaranya dan menghindari salah paham, silakan langsung merujuk ke buku tersebut)

Orang yang asyik duduk berdzikir tadi menyentil saya untuk introspeksi adakah perilaku saya yang kurang peduli dengan sekitar? Ya, saya tetap harus mencoba memperbaiki kualitas ibadah saya yang kurang ini, tapi yang utama adalah jangan sampai ibadah saya baik namun hubungan pada sesama manusia buruk. Atau malah ibadah saya membuat orang lain kesusahan.

Allahua’lam bish showab

 

Zico Alviandri