Sang Kyai di Dadaku

Nabi Ibrahim menempati posisi yang sangat istimewa. Kaum Yahudi, Nashrani dan Muslimin senang dengan sosok Ibrahim dan menisbatkan diri sebagai penerus asli millah ibrahim. Bahkan kaum musyrik Makkah juga sering mengklaim hal yang sama.

Politik klaim seperti itu terjadi dimana saja, termasuk juga di NU. Mereka yang masuk “darah biru” pendiri NU merasa paling sah sebagai pewarisnya. Mereka yang berada dalam struktur merasa paling memiliki otoritas. Mereka yang mengkaji pemikiran dan ajarannya merasa paling memiliki legitimasi.

Dalam konteks perjuangan, mereka yang dianggap sebagai pewaris lebih ditekankan pada pihak yang konsisten mengikuti jejak langkahnya dan meneruskan cita – cita perjuangannya. Karena itulah rasulullah saw pernah berseru “Kita lebih berhak atas Musa daripada kaum yahudi”.

Mengenal Sang Kyai

Bisa jadi kita termasuk kaum nahdliyin kelas akar rumput, bahkan sering pula diingkari sebagai warga nahdliyin. Bukan karena tidak yasinan, tahlilan, shalawatan dan ziarah kubur, tapi lebih karena tidak berkiprah di suatu partai politik tertentu atau karena menolak paham Syiah, Pluralis, Liberal dan Sekuler.

Tidak perlu berkecil hati dengan semua itu. Mari terus kita pelajari kisah hidupnya, teruskan perjuangannya dan mempraktikkan ajaran – ajarannya. Sungguh, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari adalah salah seorang ulama Rabbani. Semoga dengan itu, kita bisa dipertemukan dengan beliau di akherat kelak. Amin.

Pertama, Guru yang Bijak

Beliau benar – benar memiliki toleransi yang tinggi. Meski menjadi Rais Syuriyah NU, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya di Ponpes Tebu Ireng untuk menjadi orang NU. Meski menganut thoriqoh, namun beliau tidak mewajibkan seluruh santrinya untuk mengikuti jejaknya. Beliau juga sangat dekat dan akrab dengan KH Ahmad Dhalan, karena sama – sama sebagai santrinya Kyai Saleh Darat Semarang dan Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah. Dan, daftarnya masih banyak…

Hal ini mengingatkan kita dengan Imam Malik bin Anas, gurunya imam Syafi’i. Beliau kan mengarang kitab Al Muwaththa’. Kitabnya menjadi rujukan standar bagi para ulama salaf maupun khalaf saat mereka mulai belajar islam (mondok), mulai dari Imam Syafi’i, Imam Nawawi sampai seorang Ibnu Hazm (mahzhab zhahiri) sekalipun. Namun, ia menolak saat kitabnya akan dijadikan standar yang dilegitimasi melalui kekuatan negara.

Bahkan ia menolak tawaran dari Harun Al Rasyid yang meminta Al Muwaththa di gantung di Ka’bah (demi menyatukan ilmu umat islam). “Sesungguhnya para shahabat telah banyak berselisih dalam masalah cabang (fiqih), mereka telah tersebar di banyak negara dan masing – masing telah berfatwa kepada kaumnya” jawabnya. Padahal, Kitab Al Muwaththa’ adalah kitab paling shahih dimasanya.

Kedua, Ilmu yang Shahih

Ilmunya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari benar – benar shahih. Selepas nyantri ke Syaikh Khalil Bangkalan dan Kyai Saleh Darat Semarang, beliau melanjutkan petualangannya nyantri sampai ke Makkah. Diantaranya ke Syaikh Mahfuzh At Turmusi sampai diijazahi untuk mengajarkan kitab Shahih Bukhari. Beliau seorang ahli hadits terkemuka. Santri yang mondok ke Tebu Ireng, karena ingin belajar hadits. Hadist yang shahih, bukan yang dhaif apalagi mursal.

Beliau juga nyantri ke Syaikh Khatib Al Minangkabawi. Harap diingat, Syaikh Khatib Al Minangkabawi adalah salah satu ulama dari nusantara yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram. Dulu, imam Masjidil Haram bisa siapa saja dan dari mana saja, pokoknya yang paling faqih dimasanya. Sekarang oleh pemerintah Arab Saudi, Imam Masjidil Haram dipatok harus berasal dari orang arab.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga berani meluruskan banyak hal dari praktek thariqah yang menyimpang. Kita jadi ingat dengan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah, santrinya Imam Ibnu Taimiyah. Meski beliau juga mengikuti thariqah, tapi tetap kritis meluruskan praktek yang menyimpang. Kita bisa membaca koreksinya dalam kitab Madarijus Salikin.

Karena ilmunya shahih, maka Syaikh Hasyim Asy’ari juga mampu memberikan panduan mana paham yang harus diikuti dan mana paham yang harus dijauhi. Golongan mana yang harus dijadikan kawan dan golongan mana yang harus dilawan. Alhamdulillah beliau mewariskan risalah qanun asasi kepada kita semua sebagai pegangan.

Ketiga, Pejuang Sejati

Beliau ini meneruskan semangat dan perjuangannya Imam Bonjol yang memimpin perang Paderi di Sumatra. Meskipun tidak tampil seheroik Imam Bonjol yang langsung terjun di medan juang, tapi fatwa jihad yang disampaikan mampu menggerakkan arek – arek Surabaya untuk maju ke medan laga. Mungkin karena faktor usia dan fisiknya. Yap, tiap – tiap orang ada medan jihadnya sendiri. Dan medan jihad yang paling menonjol dari “Sang Kyai” adalah jihad ma’rifah, tanpa menafikan kontribusinya dibidang yang lain.

Namanya juga ulama rabbani, maka dia tidak tunduk dengan tekanan maupun rayuan. Karena dipundaknya ada tugas besar sebagai penyambung lidah rasulullah saw.

Khatimah

Saat dakwahnya ditolak oleh penduduk kota Thoif, rasulullah saw tidak berkecil hati. Bahkan beliau mendoakan agar diantara tulang sulbi meraka semoga bisa dibangkitkan generasi yang beriman kepada Allah.

Karena itu, jangan pula kita kehilangan harapan terhadap NU. Mari kita berdoa agar kelak akan lahir pengurus yang benar – benar meneladani jejak “Sang Kyai” di dadanya. Bukan sekedar di spanduk dan balihonya. Amin.

Sebuah catatan menjelang Muktamar NU

Eko Jun