(MARET 2015) Ahok: “Siapa yang Dipanggil Bareskrim, Dialah yang Jahat.”

Mulutmu harimaumu. Kata itu tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama yang akhirnya dipanggil oleh Bareskrim Polri, Rabu (29/7). Ia diperiksa sebagai saksi terkait kasus pengadaan perangkat UPS (Uninterruptible Power Suply) tahun 2014. Mengapa demikian?

Empat bulan lalu, tepatnya Selasa (24/3/2015) di Balaikota, dengan lantangnya Ahok berucap kepada media soal kasus UPS.

“Nanti saya nunjuk siapa yang jahat dari (anggota DPRD) siapa yang dipanggil Bareskrim. (Anggota) DPRD yang dipanggil Bareskrim, dialah yang jahat,” kata Basuki.

Hal ini untuk menjawab tantangan Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi yang meminta Basuki untuk menunjuk satu orang yang disebut sebagai maling. Sehingga tidak terkesan menuduh semua anggota dewan sebagai maling.

“Kalau saya pakai oknum DPRD, dia (Prasetio) marah,” kata Basuki.

Basuki menyerahkan hal ini kepada pihak berwenang. Menurut dia, hukum yang akan membuktikan soal anggota DPRD yang terbukti “bermain” anggaran. Terlebih, Bareskrim Mabes Polri akan memanggil anggota DPRD terkait kasus pengadaan perangkat UPS (uninterrruptible power supply) tahun 2014. Di APBD-Perubahan 2014, sekolah-sekolah di Jakarta dianggarkan pengadaan UPS dengan nilai fantastis Rp 5,8 miliar tiap sekolah.

Kini setelah Ahok diperiksa Bareskrim, pantaskah jika Ahok disebut sebagai penjahat?

Ridho, Bekasi