Interaksinya adalah Kelembutan yang Menyenangkan

Kehangatan suami istri tak canggung di tempat umum. Sumber: mujitrisno.wordpress.com

Idealnya, interaksi antar suami isteri dilumuri dgn kelembutan, baik dalam komunikasi, sikap dan perilaku. Suami isteri harus membiasakan diri membubuhi ucapannya dgn magic words (kata-kata ajaib yg melunakkan hati). Jika suami disediakan makanan oleh isteri ucapkanlah terima kasih. Jika isteri melihat suaminya tidak senang, segera ucapkanlah maaf. Kata magic words yg perlu sering disediakan selain terima kasih dan maaf adalah silakan, permisi, tolong, dan semisalnya. Jangan menggunakan magic words ketika pengantin baru saja, tapi juga pengantin lama perlu sering mengucapkannya, baik ketika ketemu tatap muka maupun lewat komunikasi jarak jauh.

Selain itu, kurangi komunikasi yg ujungnya menggunakan tanda seru (perintah). Sebaliknya, perbanyak kalimat berita atau pertanyaan untuk menghaluskan cara komunikasi suami isteri. Hal ini mungkin terasa sulit bagi suami atau isteri yg berasal dari suku tertentu yang terbiasa bersuara keras, namun jika dibiasakan insya Allah cara komunikasi kita bisa berubah lebih lembut.

Kelembutan adalah watak dari ajaran Islam. Rasulullah saw adalah orang yang paling lembut kepada orang lain, apalagi terhadap isteri-isterinya. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Qs. 3:159).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Alloh adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara” (HR Bukhori Muslim). Beliau membuktikan langsung dalam perilaku beliau tentang kelembutan tersebut. Beliau tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau juga banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Sungguh suami teladan adalah Nabi kita Muhammad saw!

Suatu ketika beliau pernah pulang kemalaman dan istrinya Aisyah ra tidak mendengar suaminya mengetuk pintu. Setelah tiga kali Rasulullah saw mengetuk pintu dan memberi salam, beliau dengan ringan tidur di teras rumahnya tanpa rasa kesal berlebihan. Beliau maklum mungkin isterinya kelelahan setelah seharian mengurus rumah. Tidak ada kemarahan yang ditunjukkan oleh beliau saw.

Beliau juga biasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Seperti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Memanggil dengan panggilan kesayangan kepada suami atau isteri kita merupakan sunnah rasul yang perlu ditiru olah suami isteri di jaman sekarang. Panggillah isteri atau suami kita dgn panggilan yang disukainya dan hanya kita yang memanggil pasangan dengan panggilan tersebut, sehingga terasa kemesraan dan makna khususnya. Jangan dengan panggilan yang terlalu umum dan pasaran, seperti mas, say, honey, ummi, abi atau yang semisalnya, sehingga menjadi tidak spesial dan istimewa.

Kalau bisa di dalam keluarga ada kode etik untuk tidak saling teriak, mengucapkan umpatan kasar, apalagi sampai melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Memang KDRT bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan proses panjangnya dari seringnya suami isteri berkata dan berperilaku kasar kepada pasangannya. Yang kemudian dibalas dengan yang lebih kasar oleh pasangannya. Demikian terus berkulminasi sampai akhirnya terjadi KDRT.

Perlu juga dipahami bahwa kadar kekasaran yang dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya tidak sama dengan kekasaran yang diterima oleh suami atau isteri dari orang di luar rumah. Kadar sakit hatinya lebih tinggi jika dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya daripada dilakukan oleh orang lain. Sebab orang yang paling potensial menyakitkan hati kita justru adalah orang yang paling kita cintai, yaitu suami, isteri atau anak-anak kita. Oleh sebab itu, berhatilah berkata-kata dan berperilaku terhadap pasangan dan anak. Luka akibat kekasaran yang dilakukan pasangan sembuhnya lebih lama daripada luka akibat kekasaran yang dilakukan oleh orang di luar rumah.

Satria Hadi Lubis

Satria Hadi Lubis