Menjadi Dewasa

Foto: arthanadventure365.blogspot.com

Waktu adalah rangkaian perjalanan setiap mahlukNya,khususnya manusia, dimana setiap pribadi mengalami cerita hidup yang berbeda meski secara tema sama. Ketika manusia alami kesedihan, meski temanya sama yakni sedih, tapi rasa pada setiap kejadian tidak akan bisa sama.

Ketika lewati perjalanan hidup,adakalanya yang bisa bersikap dewasa yang pada akhirnya mampu tapaki kehidupan dengan penuh rencana dan kehati hatian,sebagaimana Imam Syafi’i selalu berpikir sebelum ia berbicara. Itulah jejak kedewasaan bagi orang yang berpikir.

Al Quran telah begitu banyak mengisahkan sejarah untuk dipelajari, diambil hikmah dan direnungi mendalam agar tidak terjadi pada kita, ataupun ketika mengalami sejarah yang serupa, solusi yang diambil akan pas karena telah teruji. Belum lagi kisah dalam siroh nabawiyah, akan lebih menguatkan kita ketika dihadapkan dengan kondisi sekarang: tentang ukhuwah,tentang tata potensi,tentang agitasi.

Pada posisi inilah,orang beriman seharusnya bukan pada posisi gagal paham mengapa kondisi kekinian harus terjadi,mengapa Islam itu terpinggirkan, mengapa Islam itu terpecah belah dan sebagainya.

Perjalanan hidup sebenarnya memberikan kisah yang kuat,bahwa masa depan itu milik Allah bersama dengan kekuatan doa dan ikhtiar. Dimana proses ikhtiar tidak akan mencapai hasil manakala ia hanya dikerjakan ala kadarnya saja,perlu ilmu agar proses ikhtiar itu optimal.

Dewasa adalah pilihan bagi seseorang yang ingin selalu tumbuh meningkat lebih baik,dimana ia hanya akan melekat pada orang orang yang berpikir dan memperbaiki masa lalunya. Begitupula dengan umat,ia harus tumbuh menjadi umat yang dewasa,berani ambil peran dalam proses kehidupan global, menampilkan Islam adalah solusi bagi kehidupan. Dan yang jelas Islam itu adalah sistem hidup yang relevan untuk manusia.

Ridwan, Karawang