Bolehkah Hutang Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Syawal?

Pengasuh: Ustadz Ardi Budiman, Lc. (Dirasat Islamiyah wal ‘Arabiyah, Al Azhar Kairo)

TANYA:
Assalaamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, saya ingin sekali melaksanakan puasa Syawal. Namun saya juga masih memiliki hutang puasa yang jumlahnya lumayan. Sebelumnya saya tak terbiasa puasa di luar Ramadhan. Kalau saya dahulukan membayar hutang, khawatir saya didominasi rasa malas untuk melanjutkan puasa Syawal. Pertanyaan saya:

1. Apakah harus mendahulukan membayar hutang puasa daripada puasa sunnat?

2. Apakah niat puasa bisa digabung?

Terima kasih.

Faza, Subang

JAWAB:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara/i seiman yang dirahmati Allah ta’ala. Sebelum menjawab pertanyaan di atas maka penting untuk saya sampaikan bahwa orang-orang yang secara syariat dianggap memiliki hutang puasa ramadhan, seperti wanita haid di bulan ramadhan atau orang yang tidak berpuasa di bulan ramadhan karena safar, maka mereka diwajibkan mengqadha di hari lain, yaitu di hari yang tidak diharamkan berpuasa. Jumlah qadhanya adalah sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan. Jika hutang puasa ramadhannya adalah 4 hari, maka puasa qadhanya juga empat hari. Begitu seterusnya.
Dalil terkait masalah di atas adlah surah Al-baqarah 184.
Karena itu saudara/i ku yang dirahmati Allah ta’ala jangan pernah menunda qadha puasa ramadhan jika memang memiliki hutang puasa ramadhan.
Adapun puasa syawal, memang hukumnya adalah sunnah. Namun keutamaannya sangat besar. Karena itu seyogyanya kita tidak meninggalkannya apalagi dengan alasan malas.

Terkait dua pertanyaan yang disampaikan,
Pertama:  apakah puasa qadha ramadhan wajib didahulukan sebelum puasa sunnah?
Kedua : bolehkah menggabungkan niat puasa sunnah dan puasa qadha ramadhan ?

Puasa qadha hukumnya wajib. Namun waktu pelaksanaannya luas, yaitu rentang antara ramadhan ke ramadhan berikutnya dan tidak harus berturut-turut. Karena itu jika waktunya masih longgar maka diperbolehkan melaksanakan puasa sunnah terlebih dahulu, seperti puasa sunnah syawwal kemudian puasa qadha. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Perihal menggabungkan niat puasa sunnah syawal dan puasa qadha ramadhan.

Jika yang dijalankan adalah dua niat secara bersamaan, yaitu niat puasa sunnah dan niat puasa qadha maka ada yang berpendapat sah puasa sunnahnya saja, ada yang berpendapat sah puasa qadhanya saja, dan ada juga yang berpendapat tidak sah dua-duanya. Misal, si A puasa pada bulan syawal dengan menggunakan dua niat sekaligus. Pertama niat puasa sunnah syawal dan kedua niat puasa qadha.

Jika yang dijalankan adalah salahsatu niat saja :
1. Jika niatnya puasa sunnah syawal, maka yang tertunaikan puasa sunnah syawal saja. Sedangkan puasa qadhanya belum tertunaikan.
2. Jika niatnya puasa qadha, maka kedua-duanya (puasa sunnah syawal dan puasa qadha) sudah tertunaikan.

فإن صام بنية القضاء عن شهر رمضان وبنية الست من شوال فهل يقع قضاء أم نفلا؟ أم لا يقع عن واحد منها ؟ فقيل يصح قضاء وقيل نفلاً وقيل لا يقع عن واحد منها. 

Jika ia berpuasa (di bulan syawal, pent) dengan niat puasa qadha dan juga niat puasa syawal maka apakah yang sah adalah puasa qadha saja, puasa sunnah syawal saja, atau tidak sah keduanya ? Ada yang mengatakan sah puasa qadhanya saja. Ada yang mengatakan sah puasa sunnah syawalnya saja. Ada pula yang mengatakan tidak sah semuanya. (Lihat fatwa islamweb)

Syeikh Ali Jumah mengatakan dalam fatwanya
يجوز عند كثير من الفقهاء اندراج صوم النفل تحت صوم الفرض، وليس العكس؛ أي لا يجوز أن تندرج نية الفرض تحت نية النفل. وبناءً عليه: يجوز للمرأة المسلمة أن تقضي ما فاتها من صوم رمضان في شهر شوال، وبذلك تكتفي بصيام قضاء ما فاتها من رمضان عن صيام الأيام الستة، ويحصل لها ثوابها؛
Menurut kebanyakan fuqaha (ulama fiqh) diperbolehkan mengikutsertakan puasa sunnah kepada puasa wajib, tapi tidak sebaliknya. Artinya, niat puasa wajib tidak boleh dicukupkan dengan niat puasa sunnah. Berdasarkan hal itu, bagi wanita muslimah yang ingin mengqadha puasa ramadhan di bulan syawal, maka cukup berniat puasa qadha saja sehingga pahala puasa sunnah syawal juga bisa didapat.

Wallahu a’lam bish-showab.

* Kirimkan pertanyaan Anda ke Redaksi: [email protected]