Jelang Muktamar NU ke-33: Meluruskan Gerakan NU

Segala sesuatu harus ada yang jadi standar. Dengan standar itu, kita bisa menentukan salah atau benar, masih lurus atau sudah melenceng.

Jika berbicara tentang Islam, maka standar kebenarannya adalah Al Qur’an dan Hadits. Jika kita berpegang teguh kepadanya, jaminan tidak akan tersesat untuk selamanya.

Al Qur’an dan Al Hadits lah yang menjadi standar kebenaran dan akan menghakimi semua pendapat, fatwa, wacana dari siapapun yang berbicara masalah agama Islam. Mulai dari ulama, cendikiawan sampai orientalis.

Jika berbicara tentang NU, maka standar kebenarannya adalah risalah qanun asasi. Qanun asasi inilah yang akan menghakimi apakah seseorang masih lurus atau sudah melenceng dari gerakan NU.

Purifikasi Gerakan NU
Kaum nahdliyin itu beragam. Ada yang menimba ilmu di pesantren, adapula yang menimba ilmu di IAIN. Ada yang berkiblat ke timur tengah, adapula yang berkiblat ke Barat. Ada yang di PKB, ada yang dipartai lain, bahkan adapula yang tidak berpolitik.

Semua berebut pengaruh dan gerakan NU. Ada yang memperjuangkan NU, adapula yang mengatasnamakan NU. Bahkan adapula yang bersembunyi dibalik nasab dan dzuriyah pendiri NU.

Sebagian besar kaum nahdliyin sengaja dibuat bingung dengan beragam isu untuk mentahbiskan keabsahan pendapat masing-masing. Dalam situasi seperti ini, tidak ada nasehat selain ucapan hikmah: “Jangan ikuti kebenaran karena tokohnya, tapi kenalilah kebenaran maka engkau akan tahu siapa tokohnya”.

Kembalilah kepada Qanun Asasi NU, maka kita akan tahu siapa yang masih lurus dan siapa yang sudah melenceng dari ajaran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Syubhat Nasab
Dalam situasi tertentu, ada kalanya seorang anak mewarisi nasab, ilmu, perjuangan dan bahkan kenabian dari orang tuanya. Seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail atau seperti Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Namun kondisinya tidak selalu paralel.

Kita bisa melihat betapa kontrasnya seorang Soekarno dengan Megawati. Atau Nabi Nuh dengan anaknya. Karena itu, jangan sampai faktor nasab membutakan hati kita dari melihat kebenaran. Karena berbangga dalam masalah nasab termasuk diantara sifat jahiliyah.

Yang mewarisi perjuangan nabi adalah para ulama, baik dari dzuriyahnya maupun bukan, baik dari bangsa arab maupun ‘ajam. Yang mewarisi perjuangan ulama adalah santrinya, baik mereka berasal dari anak cucunya maupun diluar garis keturunannya.

Khatimah
Kehadiran Forum Kyai Muda NU yang dimotori oleh KH Muhammad Idrus Romli cs dari Ponpes Sidogiri Jatim cukup menjadi oase penyejuk selama beberapa tahun terakhir.

Demikian pula dengan portal NU Garis Lurus yang digawangi oleh KH Luthfi Bashori. Alhamdulillah sekarang aplikasinya sudah bisa bisa di download di Google Play.

Gerakan NU Garis Lurus bukan untuk merubah amaliah warga NU seperti tahilan, shalawatan, ziarah dll. Karena pengusungnya memang orang nahdliyin yang lekat dengan amaliah tersebut dan membelanya secara ilmiah di banyak majelis.

Gerakan NU Garis Lurus digulirkan semata-mata untuk mengembalikan NU kepada ajaran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dan memurnikan ajarannya dari pengaruh agen Syiah, Pluralisme, Liberal dan Gus Durian.

Kami ucapkan selamat kepada pengelola portal NU Garis Lurus. Pastikan aplikasinya hadir di ponsel antum semua.

Eko Jun