Perang, Kiamat dan Self Fulfilling Prophecy Orang Beriman

Apakah Perang Dunia III akan segera terjadi? Apakah ini “jaman wes akhir”?

Dalam literatur agama-agama samawi, yahudi, kristen dan islam, berdasarkan teks-teks nubuwat masing-masing, semua meyakini (dengan detil yang berbeda) akan datangnya hari akhir yg didahului perang akbar, “Malhamah al Kubra” atau “Armageddon”.

Nubuwat atau the sacred prophecy tersebut sepertinya menjadi “Self Fulfilling Prophecy” bagi sebagian orang-orang beriman, yaitu kita yang meyakini ramalan tersebut akan terjadi, secara sadar atau tidak sadar akan mengarahkan pikiran, kebijakan dan tindakan kita menuju kesana. Dengan demikian kita melakukan tindakan-tindakan yang sengaja mengarah ke terwujudnya prophecy tersebut.

Menjadi tidak jelas apakah ramalan itu terwujud karena ramalan itu sendiri atau karena tindakan kita. Juga menjadi kabur dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kalau tindakan-tindakan self fulfilling tersebut ternyata salah karena ternyata jaman yg diramalkan belum terjadi! Dalam kasus ini, bagaimana dampaknya kalau kita menjustifikasi dan mengobarkan peperangan akbar dengan alasan keyakinan bahwa ini jaman menjelang kiamat, lalu 60 juta orang meninggal (perang dunia II) padahal ternyata kiamatnya masih -katakanlah 500 tahun lagi?

Dalam islam, aturan-aturan tentang jihad (jihad dalam arti qital atau perang) diatur dalam fiqh yg ketat. Tidak ada satu pun dalil dalam literatur salaf pada bab fiqh siyasah dan fiqh jihad yang mengatakan bahwa salah satu syarat sah (justifikasi) “jihad bil qital” adalah karena kita sudah memasuki jaman akhir.

Ini artinya “Looping Logic Fallacy” sebagai berikut: kita menyimpulkan kalau jaman ini sudah jaman akhir karena banyaknya peperangan dan pertumpahan darah, sebaliknya, kita menyimpulkan bahwa kita harus berperang dan menumpahkan darah karena kita menganggap ini jaman akhir. Akhirnya kita lupa untuk menelisik terlebih dahulu keabsahan sebuah perang, baik dalam islam disebut “syuruthul jihad al qital” (syarat-syarat) atau dalam filsafat disebut “The Just War Pre-Condition”, perang yang adil.

Setelah pagi ini melihat seorang evangelis amerika diwawancarai di satu TV, beliau menyimpulkan kalau Syrian War akan segera menjadi armageddon, karenanya dia menyarankan amerika segera menyerang syria. Ternyata fenomena ini dimana-mana sama, muslim, jews atau christian. (Note: kalangan sekuler atau atheis tidak perlu memuji diri sendiri dalam hal ini, karena merekalah yang memegang peranan dalam memulai kebanyakan perang: Perang Dunia I, II, perang Iraq, Afghanistan, semua demi minyak, modal dan New World Order, tatanan dunia baru versi sekuler)

Apakah hal ini tidak terhindarkan sebagai takdir manusia? Malaikat telah bertanya sejak lama kepada Tuhan, “Ataj’alu fiha man yufsidu fiha wa yasfikud dima?” Ya Allah, apakah Engkau akan menjadikan di bumi makhluk manusia yang suka berbuat kerusakan di muka bumi dan suka menumpahkan darah?” Dalam jawaban Allah swt di alQuran tersebut, dikatakan bahwa kelebihan makhluk manusia itu adalah dia diberi “al Asma” atau “nama-nama” atau “segala ilmu”. Kelebihan itu diutamakan Allah sehingga Dia memutuskan tetap menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Self fulfilling prophecy yang mana yang akan kita pilih wujudkan, milik malaikat atau milik Allah? Kita manusia yang diramalkan suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, atau kita yang memakmurkan kehidupan dan akhirat dengan “Al-Asma” atau ilmu? Ar Raghib al Isfahani menerangkan bahwa manusia sbg KhalifatuLlah (pengganti Tuhan di muka bumi) ini artinya adalah menjadi ‘Abdullah (hamba Allah) dan ‘Imarah atau pemakmur bumi. Apakah ideologi perang kita adalah cermin keputus-asaan kita karena tak kunjung mampu menjadi seperti yang diperintahkan?

Priyo Jatmiko