Tangis Bayi yang Mengubah Jalan Hidup Insinyur Mesin ITB

Ida S Widayanti

Malam terus merambat. Seorang ibu terlihat bingung di sebuah rumah sederhana. Anaknya yang masih berusia kurang dari satu bulan menangis. Sementara itu suaminya tercinta tak ada di rumah karena sedang bertugas ke luar kota. Sang ibu tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangis anak pertamanya itu. Tapi siapa yang menduga jika episode kebingungan pada malam itu mengubah drastis jalan hidupnya.

Ida Supilah Widayanti, nama ibu tersebut, tiba-tiba saja teringat dengan Mata Kuliah Maintenance (Perawatan) Mesin saat rasa bingung mencapai puncaknya. Ilmu yang ia dapatkan ketika kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu membayang di benak Ida seiring tangis Muhammad Zaidan Feikar yang tak kunjung reda.

Ida ingat dengan teori Efisiensi atauCOP (Coefficient of Performance). Misalnya kalau mobil standarnya harus  1:20 1 liter untuk menempuh jarak 20km,  tapi baru 10 km sudah habis. Ini artinya 10/20 x 100%=50%. Efisiensi mobil tersebut hanya 50% sehingga dikategorikan bermesin boros. Agar mesinnya bekerja optimal dihitung dengan COP.

“Nah jika untuk mesin saja sedemikian dipikirkan dan diperhitungkan, lalu bagaimana dengan manusia? Bagaimana mendidik anak agar kelak menjadi  seseorang yang efisien dan kinerjanya optimal? Jarang orangtua mempelajarinya,” jelas Ida.

Malam itu Ida mendapat kesadaran baru. Jika untuk mesin yang benda mati harus belajar cara merawatnya apalagi manusia makhluk yang Allah titipkan pada kita dalam keadaan fitrah.

“Mampukah kita kembalikan pada Allah juga dalam keadaan fitrah?” ungkap Teh Ida sapaan akrab Istri Dadang Kusmayadi itu.

Perubahan drastis terjadi pada diri Teh Ida. Ia menjadi rakus membaca buku-buku dan mengikuti seminar pengasuhan anak. Kesadaran tentang sangat pentingnya pengasuhan anak kian menguat ketika ia melihat fenomena masyarakat saat ini yang lebih menyiapkan anak-anaknyadi bidang profesional.

“Orangtua sibuk menyiapkan anaknya menjadi dokter, insinyur, pilot yang hebat. Tapi untuk menjadi ayah dan ibu tidak dipersiapkan sama sekali,” kata ibu tiga anak ini.

Teh Ida semakin bergejolak setelah banyak melahap buku parenting. Keinginannya untuk menuliskan butiran gagasan tentang pengasuhan anak tak tertahankan. Dan Allah swt sepertinya telah menyiapkan takdir untuknya. Ketika semangatnya untuk menulis kian membuncah, sebuah tawaran datang dari Majalah Hidayatullah.

“Mereka menawarkan saya untuk menulis di rubrik Jendela Keluarga secara rutin,” kenang wanita yang juga pernah kuliah di Fakultas sastra Universitas Padjajaran, Bandung Jawa Barat itu.

Teh Ida mulai menulis di majalah Hidayatullah saat anak pertamanya baru berusia kurang lebih 7 bulan. Tulisannya bertemakan parenting yang umumnya diawali dari kisah nyata lalu dirangkai dengan apa yang dialaminya saat mengasuh anak. Hingga kini Teh Ida masih dipercaya menjadi penulis rubrik tersebut.

“Kurang lebih sudah 15 tahun saya penulis tetap di sana,” ujar ibu tiga anak yang telah menulis lebih dari tujuh buku parenting tersebut.

Kumpulan tulisannya itu kemudian menjadi buku dengan masing-masing judul:Mendidik Karakter dengan Karakter (Arga Tilanta, 2012), Belajar Bahagia Bahagia Belajar (Arga Tilanta 2012), Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia (Arga Tilanta, 2013). Buku-buku tersebut laris manis.  Yang paling banyak diminati buku Mendidik Karakter dengan Karakter yang membuat Teh Ida diundang di berbagai tempat.

Sudah banyak daerah di Indonesia yang Teh Ida sambangi untuk mengisi seminar. Dari yang di pusat kota hingga wilayah terpencil. Beragam kenangan ia dapatkan silih berganti. Ada haru dan bahagia. Semuanya bercampur menjadi satu.

Pernah Teh Ida mengisi seminar pada bulan Ramadhan. Ia harus menempuh perjalanan selama 5-6 jam dari pusat kota Jambi melewati hutan karet.Jalannya penuh kelokan dan berlubang sehingga mobil travel yang ia tumpangi kerap terguncang.

“Di sana tidak ada sinyal HP,” kenang Teh Ida yang juga mengisi seminar parenting di Mekah-Madinah dalam program Umroh Smart Parenting ESQ Tours.

Teh Ida juga pernah tampil di tv sebagai nara sumber acara bertemakan parenting. Sebanyak enam episode ia diundang di sebuah stasiun TV yang lokasinya mendekati wilayah Tangerang. Ada kisah menarik saat Teh Ida menuju lokasi acara. Berikut penuturannya.

“Saya diantar teman menggunakan bis menuju lokasi cukup jauh dari rumah saya di Cibubur, Jakarta Timur. Ada seorang ibu bertanya di bis. ‘Ibu seorang guru, kepala Sekolah, atau pemilik Sekolah?’ Lalu saya tanya, ‘Memangnya kenapa?’  Katanya, ‘Saya Sudah dua kali satu bis dengan ibu, dari mulai duduk hingga turun yang Ibu bicarakan hanya soal pendidikan.’ Setelah saya ceritakan bahwa saya penulis buku, ibu itu membeli buku saya. Beliauadalah bendahara di sebuah Sekolah ternama. Beberapa hari kemudian saya diundang seminar di sebuah sekolah besar. Ternyata buku yang sayaberikan kepada si ibu itu diberikan kepada direktur sekolah tersebut. Dan si direktur sangat menyukai buku saya.”

Peran Orangtua
Apa yang diraih Teh Ida saat ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada jejak asuh ayah dan ibunya yang membuat Teh Ida bisa seperti sekarang. Kalimat bijak bahwa buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya tercermin dari episode perjalanan hidup Teh Ida.

Bapaknya, H. Toto yang berprofesi sebagai guru, membesarkan Teh Ida dengan nilai-nilai pendidikan. Kalimat yang terucap dari bapaknya selalu tentang pendidikan dan agama. Selain itu, Teh Ida kerap dibacakan buku. Kalau Sang Bapak bercerita, ia lebih banyak mengajak diskusi buku sehingga membuat anak-anak terstimulasi membaca buku sendiri kemudian didiskusikan.

“Biasanya buku cerita rakyat maupun sastra,” kenang Teh Ida.

Pernah Bapak membawa buku Monte Christo karya Alexander Dumas. Bapak dan kakak-kakak Teh Ida yang sudah sekolah di SMP ke atas mendiskusikan isi buku tersebut. Apa yang dilakukan mereka membuat Teh Ida yang masih duduk di kelas 2 SD jadi tergerak untuk membacanya.

“Saya ikut membaca buku yang tebalnya lebih dari 1000 halaman itu karena seisi rumah mendiskusikan buku tersebut dengan seru,” sambung Teh Ida.

Soal buku ini, ada yang paling berkesan buat Teh Ida.  Saat ia masih berumur kurang dari tiga tahun, Sang Bapak memangkunya sambil membacakan buku cerita berjenis pop up yang gambarnya muncul jika dibuka.

“Entah dari mana pada masa itu bapak sudah memiliki buku pop up semacam itu. Kenangan itu membuat saya sangat mencintai buku dan senang membaca,” ujar Teh Ida.

Sementara itu Sang Ibu, HJ. E. Sofiah sangat senang dunia sastra. Nama-nama sastrawan, pujangga, karya puisi dan prosa banyak dihafal oleh ibunya.. Ibu juga sering membuat puisi sendiri terutama kalau sedang memghadapi masalah.

“Ibu paling senang bercerita masa masa sekolahnya juga sosok guru-gurunya,” kata Teh Ida lagi.

Untuk membantu ekonomi keluarga, ibu bisnis berbagai hal sehingga secara kesejahteraan keluarga Teh Ida tercukupi. Namun demi pendidikan anak-anak, kedua orangtuanya tak segan-segan menjual harta yang dimiliki. Perhiasan, rumah,  Baby Benz, tanah, kebun teh, dan lainnya habis untuk menyekolahkan 11 anaknya.

“Bapak pensiun saat saya masih SMP dan Ibu sudah tidak berkembang lagi bisnisnya, sedangkan masih ada tiga lagi adik saya. Jadi semua harta dujual,” ungkap Teh Ida, anak kedelapan dari 11 bersaudara itu.

Totalitasnya Sang Bapak terhadap pendidikan anak-anaknya tak lepas dari filosofi yang dimilikinya. “Bapak tidak akan mewariskan harta tapi mewariskan ilmu,” ucap Teh Ida menirukan kalimat yang selalu terulontar dari bapaknya tercinta.

Filosofi hidup bapak tak cuma dirasakan anak-anaknya, tapi juga keluarga besarnya. Pernah saat masih SD, Teh Ida datang datang berkunjumg ke rumah sepupu yang tinggalnya cukup jauh. Sepupu ini sudah berumah tangga. Begitu bertemu, ia bercerita dengan antusias bahwa banyak hal yang diajarkan Bapak dan sangat membekas.

Dulu waktu sekolah, kakak sepupu ini tinggal di rumah kami. Saat itu begitu banyak tamu yang datang terutama rekan kerja bapak. Ia suka cemberut dan marah-marah kalau banyak tamu karena pekerjaan rumah jadi  menumpuk. Suatu hari bapak mengajaknya bicara bahwa kalau ada tamu kita tersenyum dan menyapanya saja sudah pahala yang besar, apalagi kalau membukakan pintu dan mempersilakan masuk.  Apalagi kalau menggelarkan tikar untuk tamu, apalagi kalau memberi nya minum dan makan, apalagi kalau membereskan bekas tamu dan mencucikan gelas dan piringnya. Tak terbilang banyaknya pahala jika kita ikhlas memuliakan tamu. Sejak saat itu, kata Kakak sepupu, is selalu senang jika kedatangan tamu.

Soal pilihannya kuliah di ITB, tak lepas dari kondisi ekonomi orangtuanya. Teh Ida menurutkan kisahnya berikut ini:
Tak ada alasan yang spesifik mengapa saya memilih ITB. Bidang teknik adalah pilihan terakhir yang sebenarnya tidak terlalu diinginkan. Mungkin lebih pada faktor ikut-ikutan teman. Saat itu memang saya akui belum mengerti betul sebenarnya minat bakat saya dimana. Ketika pilihan akhir itu diterima saya kaget sendiri karena sesungguhnya kurang siap dengan bidang tersebut.Saat itu yg terpenting saya bisa kuliah di universitas Negeri mengingat biaya yangg harus orang tua tanggung untuk saya dan saudara-saudara.

Saya lulus D3 Teknik langsung direkrut jadi dosen Politeknik ITB. Karena dosen harus kuliah lagi saya mengikuti seleksi untuk mendapat beasiswa kuliah S1 lagi di ITB. Ketika diterima saya bingung lagi harus menjalani Bidang yang ternyata tidak terlalu diminati, namun karena sudah terlanjur PNS apa boleh buat saya jalani kuliah 5 tahun teknik mesin yang cukup berat.  Saat itu saya rasakan berat karena dari 55 org teman seangkatan,  25 orang drop out yang dilakukan setiap semester bagi yang nilainya kurang.

Parenting telah mengisi hari-hari Teh Ida. Menurutnya, kesadaran orangtua terhadap pola asuh anak yang baik dan benar sudah semakin meningkat. Itulah mengapa Teh Ida menekankan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas. Sekarang marak PAUD tapi sayang banyak yang menyalahi prinsip pembelajaran anak usia dini.

“Balita sudah diajari calistung, dan pembelajarannya tidak menyenangkan karena bukan melalui bermain,” ungkapnya.

Saat ditanya soal Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari parenting, Teh Ida berujar:

“ABK adalah anak-anak istimewa yang Allah titipkan kepada orang-orang yang dipercaya mampu membesarkannya dengan cara istimewa juga.”

Kini Teh Ida telah menemukan jalannya. Dari seorang insinyur teknik mesin ITB menjadi pegiat parenting yang telah menjelajah ke berbagai sudut Nusantara dan luar negeri.  Semuanya bermula dari tangisan anaknya yang memecah keheningan malam.

Ida S. Widayanti, ST, SS sangat ‘concern’ terhadap dunia pendidikan dan pengasuhan anak (parenting). Secara rutin selama 15 tahun menjadi penulis tetap rubrik Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah. Aktif mengisi seminar, bedah buku, pelatihan, kajian di berbagai kota juga  di SIN  (Sekolah Indonesia Netherland) Wassenaar, Belanda 2007 dan memberi materi pada “Umroh Smart Parenting” ESQ Tours, Mekkah-Madinah, 2013.

Buku-buku parenting yang ditulisnya: Mendidik Karakter dengan Karakter (Arga Tilanta, 2012), Belajar Bahagia Bahagia Belajar (Arga Tilanta 2012), Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia (Arga Tilanta, 2013), Smart Choice (Hikmah, 2005), Mengapa Surga di Telapak Kaki Ibu (Arga Publishing, 2010 sebagai co-writer), Untuk Anak-anakku, Masyarakat, & Dunia (Arga Publishing, 2008 sebagai co-writer), 9 Pilot Mencari Tuhan (Arga Publishing, 2008), dll.

Saat ini sedang berusaha menuangkan konsep-konsep pengasuhan dan pendidikan  ke dalam buku-buku cerita anak. Buku anak yang pernah ditulisnya: 6 Serial Buku untuk Kakak (Ufuk Kecil, 2011), Princess Bashira & Kuda Kesayangan  (DAR Mizan, 2011).

Pernah menuntut ilmu di Politeknik ITB, Sastra UNPAD, Teknik Mesin ITB, kini sedang menempuh Magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Selama 12 tahun pernah menjadi dosen Politeknik ITB. Kini bekerja di ESQ Leadership Center sebagai Staf Ahli dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ESQ Life & ESQ-News.com. Saat ini menjadi konsultan pendidikan di beberapa sekolah.