Tragedi 911 Memaksaku Memakai Jilbab

Masa kecilku hingga remaja kuhabiskan bersama paman yang kala  itu belum menemukan Islam. Pamanku bahkan nyata2  tidak mau shalat karena beliau kala itu belum yakin walau akhirnya setelah mengalami kejadian demi kejadian beliau  justru menjadi Iman shalat bagi masyarakat sekitarnya.

Aku sendiri hingga dewasa dan menikah tidaklah lebih baik dari paman. Shalat tak teratur dan aku bahkan boleh jadi hanya menganggap shalat hanyalah sebuah ritual saja. Astagfirullah. Dan bahkan aku tak menutup aurat. Berpakaian ketat, jeans dan tak berkerudung. Hal itu berlangsung bertahun2, hingga 11 September 2001.

Seluruh dunia tahu apa yang terjadi hari itu. Twin Tower rontok rata dengan tanah dan yang salah adalah Muslim dan yang dibenci adalah Islam. Kala itu kami tinggal di Dallas dan pagi itu aku sedang mengantar sibungsu ke sekolah. Sambil nyupir aku terbiasa mendengarkan radio, menikmati lagu2 dan suara penyiar yang merdu. Tapi hari itu ada yang tak biasa. Berkali-kali penyiar kesayanganku menjerit “Oh My God, Oh My God” berulang2… “The building is burning and people are jumping from the top floor…”

Aku sangat penasaran jadi segera setelah aku serahkan anakku ke gurunya aku langsung tancap gas pulang dan menyalakan TV. Innalillahi, apa yang aku lihat dilayar TV berputar bagai film fiksi. Terlalu menyeramkan untuk dipercaya sebagai realita. Orang-orang berloncatan dari gedung yang tingginya lebih dari 100 lantai. Saat itu baru satu gedung yang terbakar. Tak lama ada gambaran pesawat yang terbang ke arah gedung satunya lagi, seolah memotong sepertiga bagian atas gedung, api berkobar dan hal yang sama terjadi lagi seperti pada gedung yang sebelumnya terbakar. Aku terpaku tak mampu berkata-kata, terhenyak dan kaku. Ya Allah…

Hari demi hari berlalu setelah itu dan kemanapun pergi tidak ada pembicaraan selain mengenai kejadian itu. Itu adalah hal yang wajar mengingat skala kehancuran yang menimpa kedua gedung serta jumlah korban yang meninggal termasuk brigade pemadam kebakaran yang tidak selamat.

Namun ada hal lain lagi yang menjadi trending topic di mana-mana: Islam, teror dan kebencian. Begitu banyak makian, cacian dan bahkan harassment secara fisik diterima oleh orang-orang muslim di Amerika yang bahkan tak tahu menahu tentang ini. Penangkapan terjadi disana sini, pria berjanggut dan bersorban jadi amuk masa. Bahkan mereka salah sasaran, seorang Singh dikira Muslim dan ikut dianiaya. Tak terkecuali perempuan berjilbab pun jadi sasaran.

Akan tetapi justru saat itulah hati ini berontak. Aku ingin menjerit pada dunia dan berkata ini bukan cara-cara Islam. Islam tak menyuruh menghancurkan gedung dan membabi buta membunuh orang-orang tak tak bersalah. Saat itulah aku memutuskan untuk memakai jilbab. Kala itu masih berupa segitiga.

Tidak mudah juga memperoleh jilbab di Dallas dan jilbabku yang pertama berbentuk segitiga dari bahan yang kujahit sendiri. Dan seperti sudah aku duga aku akan mendapatkan perlawanan akan perubahanku ini.

Perlawanan pertama adalah dari suami sendiri yang barangkali takut akan bahaya yang mungkin menimpaku dijalan. Aku gagal meyakinkan suami bahwa penjaga kita hanyalah Allah dan beliau memutuskan untuk tidak mau berjalan seiring dengan aku jika kita berpergian. Beliau mengambil jarak 30 meter di depan atau di belakangku.
Hal tersebut berlangsung beberapa lama, namun aku sudah bertekad bahwa aku tak lagi akan melepas jilbabku selamanya.

Aku mulai rajin hadir kepertemuan orangtua murid dengan harapan mereka para orangtua tersebut akan bertanya padaku tentang Islam. Aku jadi rajin membaca sejarah karena aku harus bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku ikut forum yang mendidik dan aktif berdiskusi antar agama. Aku juga menelan cacian, makian bahkan pengusiran melalui kata2 yang pedas.

Namun itu tak membuat aku gentar bahkan semakin bersemangat. Aku juga semakin banyak bergaul dengan tetangga baik orang kulit putih maupun berwarna. Tetanggaku ada yang Katolik dan ada juga yang Evangelist. Setiap hari aku keluar rumah hanya agar mereka mengenaliku dengan jilbabku: “aku seorang Muslimah, tanyailah aku.” Seolah-olah demikian pesan yang ingin aku sampaikan melalui jilbabku.

Temanku menjadi bertambah banyak. Jangankan takut kepadaku, mereka bahkan mempercayakan kisah pribadinya dan kesulitan hidupnya padaku. Bahkan ada yang menulis surat ucapan terima kasih atas kepedulianku akan keadaan mereka.

Alhamdulillah sejak kejadian itu aku mengetahui dari forum yang aku ikuti bahwa ribuan orang berbondong-bondong bersyahadah. Setiap hari ada laporan dari berbagai masjid di USA akan seorang yang baru saja menjadi mualaf. Hingga kini jumlah tersebut bukan berkurang malah semakin bertambah dan semua itu hanyalah menambah keyakinanku akan agama yang aku anut.

Islam dibangun atas dasar cinta. Cinta pada semua makhluk sebab kebencian tak mungkin melahirkan persatuan. Kebencian tak mungkin melahirkan sesuatu yang positif dari segi apapun juga.

Itulah kisah hijrahku awal aku memakai jilbab. Kesempurnaan hanya milik Allah, segala kekurangan adalah pada diriku.

Wassalam
Iin binti Hasan