Kisah Perkembangan Pesat Umat Muslim di Kota Moskow

Susana sholat Ied di Kota Moskow. Sumber: Al Jazeera

“Perlahan tapi pasti, Moskow berbenah menjadi kota muslim terbesar di Eropa. Begitu pula umat muslim yang mulai beradaptasi dengan perubahan sosial di kotanya,” ujar Alexei Malashenko, seorang analis politik Rusia.

*****

Lokasi itu dikelilingi oleh pagar besi dan polisi dengan tongkat terhunus. Namun ribuan orang tak jadi segan untuk menghampiri lokasi itu. Di tengah lokasi, tepatnya di depan Masjid Sobornaya, orang-orang itu membentangkan sejadah, menekuk lututnya, dan menggumam serempak bacaan takbir dan tahmid.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar…” Suara 60.000 muslim di alun-alun masjid utama kota Moskow itu membahana hingga ke tengah kota. Syahdu iramanya membangkitkan bulu kuduk. Mengalun bersama 180.000 muslim lain di lima masjid dan tiga puluh enam tempat penyelenggaraan sholat Ied di ibukota Rusia.

Pagi itu hari yang sibuk bagi polisi Moskow karena harus memeriksa identitas tiap jamaah, meski detektor logam juga diperbantukan untuk menjaga keamanan.

Di Rusia ini, umat muslim harus mengurut dada akibat perlakuan masyarakat kepada mereka selama ini.

“Kalau anda ingin sholat di masjid, anda harus masuk ke kandang,” sindir seorang muslim untuk perlakuan yang diterimanya dalam menjalankan aktivitas keagamaan. Ia bernama Murad Abdullaev, berusia 29 tahun dan berjanggut lebat. Ia merantau dari kota Derbent, kota paling selatan Rusia di provinsi yang bergolak, Dagestan.

“Kalau kamu sholat di tempat kerja, kamu akan mendapat teguran. Tetapi kalau rekan kerjamu kongkow-kongkow atau cabut buat merokok, itu OK,” sindirnya lagi menggambarkan suasana tempat kerjanya di perusahaan konstruksi di Moskow selatan.

Beberapa penduduk Moskow juga ada yang merasa tidak nyaman dengan perayaan dua hari besar Islam: Idul Fitri dan Idul Adha.

“Sekali lagi, jalan-jalan dipenuhi dengan orang yang berdoa. Jalan-jalan ditutup. Dan ada ketegangan dengan polisi,” tulis seorang blogger populer, Ilya Varlamov.

“Beberapa tahun ini masyarakat dikagetkan dengan pemandangan yang terjadi rutin dua tahun sekali,” tulisnya lagi.

Dengan populasi 12,5 juta jiwa, ibu kotaRusia kini menjadi rumah bagi 1,5 juta jiwa muslim. Menurut Analis politik Alexa Malashenko, angka ini jauh lebih banyak daripada populasi muslim di kota Eropa lainnya yang penduduk lokal di kota itu tak beragama Islam.

Sejarah Rusia selama berabad-abad dipenuhi catatan konfrontasi, koeksistensi, hingga kerjasama dengan wilayah tetangga yang berpenduduk muslim. Pemeluk agama Islam yang tinggal di Moskow sebagain besar keturunan warisan sejarah itu. Etnis Tatar, kelompok terbesar ketiga di Rusia setelah Slavia Rusia dan Ukraina, telah bertempat di kota itu selama berabad-abad.

Sejak awal 2000-an, jutaan tenaga kerja migran dari pecahan Uni Soviet di Asia Tengah juga membanjiri Rusia. Sebagian besar bekerja di sektor upah rendah. Juga hadir muslim dari sub-Sahara Afrika, benua India, dan Timur Tengah.

Namun, baik ia keturunan Rusia atau pendatang, muslim tak merasakan perlakuan yang menyenangkan di kota itu. Hal ini karena orang Rusia merasa terancam dengan keberadaan agama yang fitrah itu. Serangan mujahid Checnya di awal tahun 2000-an turut menghantui masyarakat Moskow.

Hasil survei tahun 2013 oleh VTsIOM mendapati bahwa hampir satu dari tujuh orang Rusia tidak ingin memiliki tetangga Muslim, seperempat tidak ingin tinggal berdekatan dengan orang Kaukasus, dan 28 persen tidak ingin memiliki tetangga orang Asia Tengah. Empat puluh lima persen orang Rusia mendukung slogan nasionalis: “Rusia untuk etnis Rusia”.

Moskow kini hanya memiliki enam masjid. Sedangkan usaha untuk membangun masjid baru akan berbenturan dengan protes publik dan unjuk rasa.

Hanya terdapat dua hotel halal di kota ini yang dikunjungi jutaan orang tiap tahun. Hanya satu pusat kebugaran muslim dan klinik kesehatan yang sayangnya tak bertahan lama. Dan hanya segelintir TK muslim. “Lokasinya jauh, dan jumlahnya sedikit,” terang Jannat Babakhanova dari Limpopo, jaringan TK muslim.

Namun, tak terhitung produk makanan, kafe dan restoran yang menjual makanan khas Timur Tengah seperti Samosa dan Kebab.

Makanan halal telah menjadi bisnis yang menguntungkan. Dan banyak non muslim yang khawatir dengan rendahnya kualitas makanan yang diproduksi Rusia, beralih ke makanan halal.

“Pasar (produk makanan muslim) belum tersentuh, dan sangat mudah mengisinya,” terang Venera Kaderova dari Halal Ash, produsen kecil daging halal saat ia bercerita tentang berdirinya perusahaan itu di awal tahun 2000-an. “Namun belakangan ini pasar makan kompetitif,” lanjutnya.

Kehadiran muslim di Moskow memicu peningkatan jumlah etnis Rusia yang memeluk agama Islam.

Anastasiya Korchagina contohnya, ia mengubah namanya menjadi Aisha setelah masuk Islam hampir lima tahun yang lalu. Kini ia istiqomah mengenakan jilbab.

“Saya mendengar banyak pujian tentang bagaimana saya berpakaian dan betapa indah terlihat,” ujarnya. “Saya tidak pernah menghadapi sikap buruk. Tidak ada,” ia meyakinkan. (aljazeera)