Pelajaran Penting Tentang Poligami dari Film Surga yang Tak Dirindukan

“Aku akan menikahimu. Malam ini juga. Pegang kuat tanganku, naiklah…!” ujar Prasetya meyakinkan Meirose agar tidak bunuh diri, lalu menariknya agar tidak terjatuh dari gedung rumah sakit.

Malam itu juga mereka menikah.

Dialog diatas adalah cuplikan adegan dalam filem Surga Yang Tak Dirindukan (#SYTD), yang diangkat dari novel karya Asma Nadia, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia tulis menulis Indonesia. Dialog diatas itu pula awal konflik serius dalam filem #SYTD.

Catatan saya setelah menonton filem #SYTD yang menceritakan tentang poligami kurang lebih sebagai berikut :

Bahwa poligami adalah bagian tak terpisahkan dari syari’at Islam, ia adalah aturan yang berasal dari Allah. Menentangnya, seperti menganggap poligami adalah penindasan terhadap perempuan, poligami bertentangan dengan hak asasi perempuan, maka berarti itu menentang syari’at Allah. Saya menyebutnya dengan Well Belief.

  • Bahwa Poligami harus dilihat sebagai bagian (meski bukan satu-satunya) solusi yang disediakan Allah. Oleh karenanya, ilmu tentangnya haruslah diketahui secara baik. Bagaimana ‘adil yang dimaksud syari’at, bagaimana memenuhinya. Bagaimana jika sudah berusaha adil namun tetap dianggap tidak adil. Ini harus dipelajari. Karenanya pula, bila tanpa ilmu, maka poligami yang seharusnya menjadi solusi akan menjadi bagian dari problem rumah tangga. Saya menyebutnya dengan Well Educated.
  • Selanjutnya, agar syari’at Allah tentang poligami ini teraplikasi dengan baik, maka harus ada persiapan yang matang dari pelakunya. Persiapan yang paling utama -menurut saya- adalah kemampuannya untuk menafkahi lahir dan bathin. Saya menyebutnya dengan Well Prepared.
    Termasuk dalam mempersiapkan ini adalah, bagaimana kita memahamkan syariat Islam kepada anak-anak, agar kelak jika dewasa tidak gagap terhadap syari’at.
  • Hal berikutnya adalah, melakukan komunikasi dengan hikmah kepada pihak-pihak terdampak poligami. Istri, anak, mertua dan keluarga. Semua keluarga yang memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.
    Ini penting agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Paling tidak, meminimize sakit hati utamanya dari istri. heheeh… Diberitahu akan lebih baik daripada tahu sendiri seperti Arini dalam filem #SYTD. Saya menyebutnya dengan Well Communicated.
  • Betapa hancur hati Arini, suami yang dicintainya, yang telah berjanji pada ayahnya utk tidak menyakitinya, ternyata menikah lagi tanpa lebih dulu memberitahunya.– Ini karena tidak ada komunikasi yang baik.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari filem #SYTD adalah tentang IKHLASH.

Ikhlash atas taqdir Allah. Seperti sikap yang ditunjukkan ibunya Arini, setelah dikomplen Arini karena menyembunyikan fakta bahwa ayah Arini ternyata poligami, yang diketahui Arini saat ayah Arini wafat dan anak istrinya datang takziah.

Ikhlash itu tidak berarti tidak ada sakit hati. Ada rasa sakit hati pada ibu Arini saat ayah Arini menikah lagi. Tapi demi Arini, sang ibu berusaha ikhlash.

Hal yang sangat ditekankan dalam poligami adalah mampu berlaku ADIL. Ini memang sulit, meskipun kita sangat menginginkannya. Adil itu belum tentu tidak menyakiti. Kalau sudah emosi yang bicara, maka tidak akan ada rasa diperlakukan adil. Maka, kalau sudah diperlakukan adil, tapi masih juga sakit hati, ya derita loe, hehehe…

Kiranya itulah pandangan saya. Kalo yg mau nikah lagi, pasti sepakat dengan saya. Sementara buat para istri, termasuk istri saya, boleh jadi tidak sepakat dengan saya.

Namun sekali lagi, ini bukan tentang sepakat atau tidak. Ini tentang syari’at, ini tentang ilmu. Begitu…

Dan kata para istri shalihah, “Surga tidak hanya bisa didapat dengan ikhlash dimadu”

Nah…!!!

Wahid Irsyadi Ali