Mudik yang Sebenarnya

Kita semua punya tanah tumpah darah, tanah dimana kita dilahirkan dengan darah, keringat dan airmata ibunda kita.

Di sanalah, di atas tanah itu kita lahir dan dibesarkan.

Ketika dewasa kita bergerak, menuntut ilmu pengetahuan, berjalan di muka bumi, bekerja, menemukan pasangan hidup dan berketurunan, kita menetap di tempat yang baru.

Budaya kita, ya budaya kita mengajarkan pulang kembali ke desa atau dimana saja tempat kita dilahirkan dan dibesarkan, setiap tahun sekali. Yaitu pada Hari Raya. Berkumpul bersama orang tua dan keluarga besar kita. Kita (fisik) mudik, dan kembali ke tanah baru ketika sudah dianggap cukup. Cari bekal lagi, belajar, dan bekerja berkumpul dengan manusia lagi.

Namun, ada saatnya kita akan mudik, dan tak akan kembali. Mudik ke kampung nenek moyang kita Adam dan Hawa berasal, kampung Syurga.

Di sanalah kampung tempat kita (ruh) berasal. Dan di sanalah semestinya kita harus kembali.

Apakah kita bisa pulang di kampung syurga itu? Tergantung iman kita dan bekal kita selama di sini. Di tanah kita dibesarkan.

Jika bekal kita cukup kita akan pulang ke kampung yang luasnya seluas langit dan bumi. Kampung idaman orang beriman.

Jika tanpa keyakinan akan perjumpaan dengan Tuhan dan tiada kesiapan, kampung kita adalah kampungnya manusia dan jin yang durhaka kepadaNya, dan kampung tersebut adalah sejelek-jelek tempat kembali.
Na’udzubillah..

Tetangga saya, Mbak Kismi, tadi malam dijemput dan diminta mudik oleh Allah.  Tadi pagi jam 03.00 pagi diantar dengan ambulan ke kampung halaman tempat dia dilahirkan. Dia juga mudik untuk selama-lamanya, di kampung tempat ruhnya berasal. Dengan segala kebaikan dan pengorbanannya saya yakin mbak Kis kembali ke kampung halaman bersama ashaabul yamin di syurga (Amin).

Mbak Kis, telah lebih dulu mudik. Dan kami menunggu giliran untuk dijemput dan mudik ke kampung halaman tempat kakek nenek kita, Nabi Adam dan Hawa berasal.

Mudik ke kampung halaman ibarat kita tidur dan bangun kembali, tidak meninggal (kan) kecuali sementara… dan mudik yg sebenarnya adalah tidur yang tidak bangun lagi.. alias kematian.

Allahummaghfirlaha warhamha wa’aafiha wa’fu’anha…. selamat jalan mbak Kis…

Agus Salim