Jadi Ahok Itu Enak

[foto: youtube]

Sungguh enak menjadi seorang Basuki Thahja Purnama. Gubernur DKI Jakarta yang akrab disapa dengan Ahok itu mempunyai satu hal sangat penting yang tak dimiliki pejabat lainnya, kecuali sekondannya yang kini menjadi presiden yakni Jokowi. Apa itu?

Tak sulit untuk menjawabnya. Cukup anda melihat berita seputar Ahok di berbagai media semacam detik, kompas, metro dan lainnya. Sebuah benang merah dengan mudahnya akan anda dapatkan yakni dimanjakannya Ahok oleh media dan penegak hukum.

Media sangat permissif kepada mantan politisi Partai Golkar itu. Apapun yang diucapkan dan dilakukan Ahok selalu benar dan kalaupun secara kasat mata jelas salah, maka berbagai cara dilakukan untuk menjustifikasi lisan dan aksi Ahok. Dan kian hari, kelakuan media semakin memprihatinkan karena kian vulgarnya pembelaan mereka kepada Ahok.

Hampir setiap hari Ahok mencaci maki. Salah satu hobinya adalah menyalahkan anak buah dan pihak lain. Tak mau introspeksi dan anti kritik. Salah satunya tercermin dalam kasus mutakhir yakni penemuan BPK terhadap potensi kerugian negara hampir Rp 7 Triliun di APBD Pemprov DKI Jakarta. BPK kemudian memberikan rapor merah terhadap laporan keuangan Pemprov DKI Jakarta.

Apa reaksi Ahok? Dia marah besar. BPK dijadikan sasaran amukan verbalnya dengan menuduh BPK tak bersih dan sebagainya. Lalu media pun memberitakan ini dengan memframing bahwa pihak Ahok yang benar dan BPK yang salah.

Pertanyaannya, bagaimana jika itu dilakukan oleh gubernur, walikota atau bupati selain Ahok? Apakah media akan bersikap dan memperlakukan serupa?

Ahok tak cuma dimanjakan media. Ia juga mendapat perlakuan istimewa dari penegak hukum di negeri ini. Temuan BPK itu sudah menjadi bukti kuat dan menjadi pintu masuk untuk memeriksa Ahok. Tapi apa mau dikata, trio penegak hukum kita(KPK, Polri dan Kejaksaan) seolah mati kutu. Tak ada satu pun yang berani memeriksa Ahok. Sampai-sampai pakar hukum Prof Romli Atmasasmita geram. Dalam akun twitternya @romliatma, ia menuliskan kekecewaannya.

@romliatma: kpk, kejagung, bareskrim hrs sgr sidik kerugian negara dg nilai 7 triliun dlm APBD pemda DKI, jika tidak; jelas diskriminatif!

Kisah dimanjakannya Ahok ini sungguh berbahaya bagi negeri tercinta. Kita akan terperosok ke dalam lubang yang sama dalam waktu yang sangat singkat. Bukankah Jokowi juga mendapat perlakuan serupa kemarin? Kini, setelah menjadi presiden, ia tak kunjung membuat rakyat tersenyum. Justru negara kian carut marut dan kondisi ekonomi makin terpuruk. Ya, pemimpin yang begitu dimanjakan oleh media dan penegak hukum tak lebih hanyalah sosok ringkih yang hanya akan membuat bangsa ini terjerembab ke dalam jurang penderitaan.

Erwyn Kurniawan
Pemred Kabarumat.com
@Erwyn2002