Pengembaraan Spiritual

Ilustrasi. [foto: wahdah.or.id]

Di sepertiga ramadhan yang akhir, ada syariat khas yang dilaksanakan oleh umat Islam yaitu i’tikaf. I’tikaf yaitu berdiam di masjid (jami), memperbanyak ibadah dengan tujuan utama menjemput lailatul qadar.

Menasakh Tahanuts
Sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad ber-tahanuts di gua hira selama beberapa kurun waktu. Tahanuts adalah bagian sisa-sisa syariat Ibrahim yang dikenal oleh suku quraisy selain haji dan kurban.

Setelah diangkat menjadi rasul, Muhammad tidak pernah lagi melakukan tahanuts di gua. Gantinya adalah I’tikaf di masjid, bersama dengan shahabat dan istrinya. Dan saat ini, kita mewarisi syariat I’tikaf di masjid, bukan tahanuts di gua, hutan atau petilasan.

Manjemput Lailatul Qadar
Beberapa pakar sirah menjelaskan bahwa saat itu, bukan hanya Muhammad yang bertahanuts. Tercatat ada beberapa tetua quraisy yang juga bertahanuts ditempat lain. Namun atas perintah Allah, malaikat Jibril datangnya kepada Muhammad.

Kenabian adalah hak prerogatif dari Allah dan tahanuts bukanlah metode untuk menjemput wahyu dan kenabian. Namun, hal itu bisa menjadi gambaran bahwa karunia Allah hanya akan datang kepada hamba-Nya yang terpilih. Meskipun sedang melakukan amalan yang sama, disaat yang sama. Kiranya, begitupula lailatul qadar hanya akan mendatangi mereka yang benar-benar terpilih.

Uzlah Ruhani
Islam adalah agama yang menganjurkan pemeluknya untuk beramal secara berjamaáh dan hidup dalam lingkup jamaáh. Karenanya, uzlah diharamkan kecuali dalam kondisi menghindari fitnah sebagaimana yang dilakukan oleh Maryam.

Namun uzlah secara ruhani justru menjadi kewajiban. Berada ditengah masyarakat dengan segala problematikanya, membuat hati mudah keruh. Seorang dai perlu ber-uzlah secara ruhani untuk membersihkan jiwanya, mendekatkan diri sekaligus memohon petunjuk kepada Allah. Ada qiyamullail sebagai sarana reguler, ada pula I’tikaf sebagai momentum khusus uzlah ruhani.

Khatimah
Setiap ramadhan, rasulullah ditemui malaikat Jibril. Mereka bermajelis qurán, dimana malaikat Jibril menyimak murajaáh wahyu Al Qurán dari rasulullah. Seakan mereka bernostalgia, mengenang saat pertama kali bertemu di gua hira. Pertemuan indah yang diisi dengan majelis al qurán.

Setiap ramadhan, kita beri’tikaf. Alangkah baiknya jika dihidupkan dengan majelis qurán bersama rekan sejawat. Dengannya, kita ikut mengenang peristiwa diturunkannya Al Qurán. Dengannya, kita ikut merasakan keakraban malaikat Jibril dengan rasulullah. Dengannya, semoga Allah menurunkan rahmat kepada kita semua.

Ya Allah, …
Curahkanlah rahmat kepada kami dengan Al Qurán …

Eko Jun
Cilacap, Jawa Tengah