Madzhab Cinta Shahabat

@ Catatan Ramadhan

Shahabat adalah orang yang bertemu dengan rasul, beriman terhadap risalahnya dan meninggal dalam kondisi muslim. Jika semua sarat itu terpenuhi, maka ia layak dimasukkan dalam kelompok shahabat.

Dalam perkembangannya, shahabat diklasifikasikan dengan sifat dan karakteristik tertentu, seperti shahabat besar, assabiqunal awwalun, golongan muhajirin dan anshor, masuk islam sebelum atau sesudah hijrah dan/atau fathu makkah dll.

Ekspresi Cinta

Golongan nahdliyin sudah lama dikenal menghidupkan dan meneruskan tradisi amaliah para shahabat. Mulai dari adzan jumát dua kali, pemakaian gelar sayyid, dzikir berjamaáh sampai tradisi membaca surat al áshr saat mengakhiri suatu majelis.

Selama ramadhan, kita menyaksikan eskpresi cinta yang sangat besar dari kaum nahdliyin kepada para shahabat nabi. Diantaranya :

Imsak. Imsak berfungsi sebagai “lampu kuning” bagi mereka yang tengah santap sahur agar bersegara menyelesaikan sahurnya dan bersiap menunaikan shalat subuh. Rasul dan para shahabat menjaga batasan antara sahur dengan waktu subuh sekitar 50 ayat. Dari situlah perhitungan imsak dimulai.

Bilal. Bilal adalah shahabat nabi yang menjadi muadzin rasulullah. Dalam tradisi shalat tarawih kaum nahdliyin, ada seorang yang khusus ditunjuk menjadi Bilal. Tugasnya mulai dari adzan isya sampai memimpin taradhi saat jeda shalat tarawih.

Taradhi Shahabat. Dalam jeda shalat tarawih, kaum nahdliyin mengisinya dengan membaca doa, taradhi shahabat dan shalawat nabi. Yang sering disebut adalah 4 khalifah nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Saat nama mereka disebut oleh bilal, serentak jamaáh menjawab : “Radhiyallahu ánhu”.

Rakaát Tarawih. Shalat tarawih pada masa rasul tidak ditentukan jumlahnya. Pada masa Umar, shalat tarawih ditetapkan berjumlah 20 rakaát dan menjadi ijma sukuti para shahabat. Jumlah rakaát tarawih yang 20 menjadi pegangan kaum nahdliyin dan “saudaranya” di masjidil haram dan masjid nabawi hingga saat ini.

Cinta Shahabat & Ahlul Bait

Mencintai dan memuliakan ahlul bait adalah perintah nabi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Diantara dzuriyah nabi, kelak ada yang akan menjadi Imam Mahdi. Kaum nahdliyin sangat menghormati para habaib sebagai bagian dzuriyah nabi.

Kaum nahdliyin meyakini sepenuhnya bahwa mencintai shahabat dan ahli bait adalah satu paket, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Salah besar jika ada golongan yang mengaku mencintai ahlul bait tapi menistakan para shahabat. Mulai dari menghina, mencaci maki sampai mengkafirkan para shahabat.

Kaum nahdliyin dididik dan dibesarkan sebagai golongan yang mencintai shahabat nabi (dan ahlul baitnya). Dan hal itu diekspresikan secara nyata dalam amaliah kesehariannya, baik dibulan ramadhan maupun diluar ramadhan.

Seruan Batil

Sulit dipungkiri bahwa kaum nahdliyin juga memiliki beragam kesamaan dengan kaum syiah. Mulai dari lirik qasidah sampai penghormatannya kepada para kyai. Sampai-sampai Alm Gus Dur pernah berkata secara hiperbolis “NU adalah syiah minus imamah”.

Namun, upaya untuk menyatukan keduanya adalah hal yang mustahil, sampai kiamat sekalipun. Baik diserukan oleh pihak luar maupun internal NU. Baik atas nama HAM, Pluralisme maupun bungkus Islam Nusantara. Karena kaum nahdliyin diajarkan memuliakan shahabat sedang kaum syiah ajarannya menistakan shahabat.