Ramadhan Sang Pencerah

Lelaki itu berdiri dengan napas yang tersengal-sengal, air kehidupan menetes dan sebagian meresap pada pakaian yang dikenakannya. Rasa lelah yang menyergap ia pasrah menerimanya. Disandarkan tubuhnya pada dinding tuk sekedar  meringankan beban lelahnya.

Seorang kawan melihatnya dan menawarkan minuman tapi ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum agar sang teman tidak kecewa atas penolakannya. Teringat ia pada gadis kecil yang berjilbab pink yang selalu bertanya tentang puasa, Ah, rasanya tak mungkin dia harus membatalkan puasa selelah apapun dia bekerja.

Apa yang harus dikatakan kepada gadis kecil kesayangannya di rumah seandainya dia tidak berpuasa. Bibir mungil itu selalu bertanya, “Ayah kenapa sih orang harus berpuasa?” Sebuah pertanyaan lugu khas kekanak-kanakan.

Puasa Ramadhan adalah sebuah bentuk pengakuan bahwa seseorang itu beriman maka dia menyambut seruan Allah SWT.

Dalam surat al-Baqarah ayat 183, perintah puasa dimulai dengan lafaz iman, yaitu Ya ayyuhalladzina amanu – wahai orang beriman. Orang yang mengakui keimanannya maka dia menyambut seruan itu dengan rasa yang ringan tanpa beban dan tidak mencari cari alasan agar mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.

Puasa Ramadhan juga menjadi sesuatu alarm pengingat kehidupan manusia agar tidak terlena untuk memperturutkan ambisi perut dan kemaluan. Dua ambisi yang merupakan lambang dari semua sumber kerusakan di dunia.

Hujatul islam Imam al-Ghazali rahimahullah jauh-jauh hari mengingatkan kita, ‘Ketahuilah, sesungguhnya pangkal segala kerusakan bersumber dari syahwat perut. Dari syahwat perut, muncul syahwat seks. Karena syahwat perut, Adam keluar dari surga. Karena syahwat perut, orang berlomba-lomba mengejar dunia secara berlebihan’.
Cukuplah dalam satu bulan dalam satu tahun ini, Ramadhan menjadi pencerah dalam hidup kita untuk membersihkan kotoran-kotoran diri  dan jiwa kita.

Memasuki  pertengahan Ramadhan semoga Allah SWT memberikan keistiqomahan dan magfirah kepada kita semua  untuk terus menjalankan kewajiban berpuasa. Semoga  Ramadhan tahun ini menjadi yang terbaik buat kita.  Sehingga kita bisa sampai pada muara dari puasa Ramadhan yaitu menjadi hamba-hamba yang bertakwa kepada-Nya. Amin ya Rabbal Alamin. Wallahu a’lam.

Holil Sumarna