Organisasi Muslim Amerika Surati Presiden Cina, Protes Larangan Puasa

Organisasi muslim di Amerika Serikat yang tergabung dalam Council on American-Islamic Relations mengirimkan surat kepada Presiden Cina Xi Jinping. Dalam suratnya mereka meminta agar pemerintah Cina membebaskan etnis muslim Uighur untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

“Muslim di Xinjiang dihalangi oleh otoritas lokal yang rutin berusaha melarang puasa selama Ramadhan. Ini jelas sebuah tekanan  terhadap praktek Islam di sana,” terang Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad, dikutip dari Onlislam, Kamis (25 Juni 2015).

CAIR mengecam segala bentuk diskriminasi yang terjadi di Xinjiang, wilayah etnis muslim Uighur tinggal. Nihad menyebut pelarangan ini sebagai pelecehan terhadap umat muslim.

Dalam surat tersebut CAIR mengingatkan pemerintah Cina tentang jaminan kebebasan beragama yang diucapkan pemerintah Cina saat penandatanganan piagam PBB saat deklarasi universal PBB tentang hak asasi manusia.

Menurut CAIR, pemerintah Cina bertanggung jawab untuk memastikan umat Islam di Xinjiang dapat melaksanakan syariat agamanya.

“Komunitas Muslim Amerika dan CAIR meminta Republik Rakyat China untuk menegakkan hukum dan juga mematuhi konvensi internasional dengan menghapus semua hambatan untuk kebebasan beragama bagi umat Islam di Xinjiang. Tidak hanya di Xinjiang tapi juga bagi umat Islam serta kebebasan bagi pemeluk agama lainnya di seluruh China,” tulis CAIR dalam suratnya.

Selain menyurati langsung presiden Cina, CAIR juga meminta kepada pemerintahan Amerika untuk melakukan pertemuan dengan Duta Besar Cina untuk Amerika di Wahington agar mendesak kedua negara membicarakan masalah kebebasan beragama di Cina.

Seperti diketahui, pemerintah Cina melarang anggota partai, PNS, siswa, dan guru dilarang berpuasa. Larangan ini berlaku sejak tahun lalu. Mereka juga memerintahkan restoran halal tetap buka pada siang hari. Presiden Xi Jinping menilai agama yang ada di Cina tidak boleh dipengaruhi asing. Seluruh warga dan agama mana pun harus berjanji hanya setia untuk negara.

Selain melarang puasa, pemerintah Cina juga melarang jilbab, jenggot serta berbagai hal yang berkaitan dengan Islam.