Duhai, Kalian Sang Pemimpin

“Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin … (HR. Bukhori dan Muslim)”. Potongan hadits tersebut mengisyaratkan bahwa setiap insan adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya bukan hanya di dunia melainkan di akhirat jua.

Bila berkaca dari hadits tersebut, sungguh sangat berat pertanggungjawaban bagi para pemimpin. Berat bagi ia yang tidak amanah, menyelewengkan wewenang dan bersikap apatis pada rakyatnya. Berbeda hal nya bila ia amanah, teguh memegang janji dan memberi fakta apa yang dikata, karena semakin tinggi jabatan seseorang maka akan semakin luas jua cakupan kebermanfaatannya dan itu akan bernilai pahala.

Hal ini senada dengan apa yang di sabdakan oleh Rosulullah “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain (al hadits).
Namun kini, hampir semua orang berebut tampuk kekuasaan dengan menghalalkan berbagai macam cara. Menginjak yang dibawah, menyikut yang disamping dan menjilat yang diatas. Naudzubillahi min dzalik. Bila calon pemimpin sudah mempraktikkan hal seperti itu, seujung kuku pun ia tak layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Sebentar lagi, Indonesia akan mengadakan Pilkada yang menurut wacana akan dilaksanakan secara serentak di beberapa daerah pada tahun ini. Maka, dari sinilah masyarakat harus cerdas dalam memilih pemimpin, karena ia akan menentukan mau dibawa kemana arah langkah masyarakatnya. Digiring kepada ketaatan kah?? Atau menuju kemaksiatan??

Saat ini, masyarakat sudah merindukan pemimpin yang adil, bertanggung jawab dan menjunjung tinggi ajaran agama Islam. Karena hanya dengan Islam lah negeri ini menjadi sejahtera dan memberikan ketentraman bagi masyarakat. Kini, masyarakat sedang mengalami krisis keteladanan dari pemimpin dan alim dalam beragama. Yang sering muncul justru mereka (pemimpin) yang gemar mencari popularitas dengan gaya blusukan ke masyarakat kecil dan ‘ucapan’ yang penuh fitnah.

Pemimpin yang dibutuhkan negeri ini adalah mereka yang mempunyai sifat kepekaan terhadap masyarakat, dengan kata lain ‘pintar merasa’ bukan ‘merasa pintar’. Pintar merasa (kepekaan sosial) yang muncul dari hati, akan segera bertindak untuk membela kaum yang papa. Sedangkan pemimpin yang mersa pintar, ia enggan untuk diberikan nasehat meski dari staff ahlinya.

Selain itu, pemimpin juga harus memiliki sifat cerdas dalam berfikir, amanah dalam kepemimpinannya, menyampaikan apa-apa yang menjadi hak rakyatnya, dan dapat dipercaya setiap tutur katanya. Ke empat kriteria tersebut telah dicontohkan oleh manusia yang agung nan sempurna, yakni baginda Nabi Besar Muhammad saw. Sungguh ironis, bila kini pemimpin yang enggan untuk mengaji dan mengkaji akhlak mulia sang pembawa risalah dalam memimpin.

Semoga pemimpin-pemimpin kita mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah, sehingga mampu memegang tampuk kepemimpinan dan menjaga amanah itu hingga sekuat tenaganya. Amiin ya Allah ya Robbal’alamiin.

Syahrul Mustopa, Bogor