Dylan Roof, Jokowi dan Redefinisi Teroris

Dylan Roof, pelaku penembakan Gereja Emanuel AME di AS

Dylan Storm Roof. Begitu nama lengkap pria yang pada Rabu (17/6) lalu mengguncang dunia. Seperti nama tengahnya yang berarti “badai”, ia beraksi bagai badai dengan menembakkan peluru membabi buta ke Gereja Emanuel AME di Charleston, South Carolina, AS. Sembilan orang tewas dalam peristiwa yang disebut sebagai serangan terburuk di tempat ibadah AS selama kurun waktu 24 tahun.

Jumat (19/6), Dylan muncul di pengadilan. Kepada penyidik, lelaki yang masih berusia 21 tahun itu mengatakan bahwa penembakan yang dilakukannya bertujuan memicu perang ras di Amerika Serikat. Dylan Roof dikenai denda satu juta dolar atas tuduhan kepemilikan senjata. Tetapi ia akan tetap ditahan karena belum ada putusan untuk tuduhan pembunuhan.

Aksi brutal Dylan Roof mengingatkan kita pada Anders Behring Breivik, seorang pria Norwegia yang memuntahkan peluru di Oslo dan Pulau Utoya, Juli 2011. Kebrutalan Breivik menewaskan 77 orang dan menimbulkan kecaman. Keduanya memiliki kesamaan: melakukan aksi secara brutal dan dilakukan pria bule. Perbedaannya pada penyikapan paska peristiwa tragis tersebut.

Dalam kasus Breivik, sesaat setelah kejadian, semua media Barat dengan cepat menuduh Al Qaeda sebagai dalangnya. Sabtu, 23 Juli, koran Inggris the Sun pada headlinenya memuat judul: ‘Al Qaeda’ Massacre: 9/11 Norwegia. The Wall Street Journal (WSJ), menghubungkan tragedi itu dengan kartun Nabi Muhammad yang menghebohkan Denmark pada 2005 lalu. Menurut WSJ, pegiat jihad memprotes kartun itu dengan keras dan menjadikan Norwegia sebagai target utama.

Sementara The Washington Post dalam editorialnya menulis, penyerangan itu pasti dilakukan sekelompok pegiat jihad. ”Petinggi kelompok jihad telah menyatakan penyerangan Norwegia adalah timbal balik dari ulah negara itu yang terlibat memerangi Afghanistan,” tulis kolumnis Washington Post, Jennifer Rubin.

Dalam kasus Dylan Roof, ada nuansa yang berbeda. Bukan tuduhan tergesa-gesa yang dilontarkan, melainkan justru mulai munculnya kesadaran baru terhadap istilah teroris. Sejumlah pihak menyebut serangan itu sebagai terorisme. Terlebih karena adanya sejarah panjang kekerasan rasial di AS.

“Radikalisme bisa datang dalam banyak bentuk yang berbeda. Salah satunya bisa sebagai muslim pendukung ISIS, dan lainnya seorang rasis sayap kanan,” tutur Max Abrams, profesor ilmu politik di Northeastern University, Boston.

“Kita perlu menggunakan standar yang konsisten dalam hal menyebut suatu insiden sebagai terorisme atau tidak,” katanya seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (19/6/2015).

Hal serupa disampaikan Richard Cohen, direktur organisasi Southern Poverty Law Center.

“Sejak 9/11 (serangan teroris 11 September 2001 di New York -red), negara kita telah terpaku pada ancaman terorisme jihad. Namun tragedi mengerikan di Emanuel AME mengingatkan kita bahwa ancaman terorisme yang tumbuh di dalam negeri adalah sangat nyata,” kata Cohen.

Pendapat ini sangat menarik. Terminologi teroris yang kerap diarahkan ke tubuh umat Islam mulai dimentahkan oleh kalangan Barat sendiri. Dan mereka mendesak untuk meredefinisi arti teroris bercermin dari kasus Dylan Roof. Bagaimana kita menjelaskan ini?

Setidaknya ada dua hal yang bisa diapungkan untuk menganalisis soal ini. Pertama, karena stigmatisasi teroris kepada Islam tak benar. Mereka yang meminta untuk mendefiniskan kembali arti teroris sepertinya melihat bahwa isu terorisme hanyalah propaganda massif untuk kepentingan politik Barat melanjutkan hegemoninya. Dan mereka menemukan ternyata Islam tak seperti yang digambarkan oleh media Barat: sadis dan menakutkan. Kian hari kian banyak fakta yang menunjukkan bahwa Islam itu agama damai dan menyejukkan.

Kedua, aksi kekerasan yang berujung pada tewasnya orang-orang tak bersalah semakin sering dilakukan oleh pelaku yang justru non muslim. Muslim Rohingya ditindas oleh ekstrimis Budha, muslim Xinjiang dizalimi oleh pemerintah China, Zionis Israel yang terus membunuh rakyat Palestina, lalu kekejaman Breivik empat tahun lalu yang membantai 77 orang, dan terakhir Dylan Roof. Fakta ini spertinya mulai sedikit membuka mata mereka bahwa aksi kekerasan bisa datang dari siapa saja dan berlatar belakang agama apa saja. Dan karenanya, teroris perlu untuk didefiniskan ulang: tak melulu identik dengan Islam.

Jika kesadaran semacam ini telah menyeruak di kalangan Barat yang notabenenya sebagai pihak yang memproduksi istilah teroris dan mengidentikkannya dengan Islam, apakah hal serupa juga muncul di Indonesia, negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam? Bisakah kita berharap Presiden Jokowi meredefinisi istilah teroris?

Berharap tentu saja boleh. Namun jika rezim ini dengan mudahnya memblokir situs Islam dengan dalih menyebarkan radikalisme, masihkah kita bisa berharap?

Wallahua’lam bishshowab.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2003
Pemred www.kabarumat.com