Ramadhan dan Sirah Nabawiyah

Ilustrasi: Interior Masjid Nabawi.

John L. Esposito memberikan kekagumannya pada perkembangan Islam pada awal-awal perkembangannya. Menurutnya, kecepatan dan ketepatan perkembangan imperium Islam sangat mengagumkan. Dari sekelompok bangsa yang tidak menonjol lalu, dengan cepat, berubah menjadi pemenang dan penentu peradaban. Suatu yang sangat mengagumkan, bagi seorang Esposito.

Tapi apa yang membuat itu semua?

Dua tahun sebelum diangkat menjadi nabi, ada kebiasaan Muhammad bin Abdullah, sang calon rasul, yang sangat menonjol. Khola. Menyendiri. Gua hira di jabal Nur jadi pilihan. Tempat di ketinggian, sekitar 10 km dari Makkah, itu menjadi tempat Rasulullah menyendiri, berpikir, dan menatap Makkah dari kejauhan. Semua rasa, beliau bawa. Memikirkannya dengan intens. Sampai datang Jibril yang pernah menemui Musa as. Memerintah membaca. Sangat dekat. Memberi sensasi yang dirindukan sang Rasul.

Ramadhan adalah momentum yang diciptakan. Ia bukan rutinitas. Dia tak boleh menjadi suatu masa yang terlewatkan, setidaknya, dari tiga hal.

Pertama, aktivitas MENYENDIRI. Ramadhan adalah momentum untuk menyendiri, memperbanyak interaksi personal dengan Allah, berdua-duaan, curhat, berpikir, bahkan menikmati merengek-rengek padaNya. Ramadhan diciptakan untuk memperbanyak aktivitas menyendiri. Tentu tidak akan mudah. Pasti akan tercipta kegaduhan-kegaduhan, sampai pada tingkat -yang paling parah- Ramadhan berlalu penuh dengan kegaduhan dan tanpa saat-saat menikmati keberdua-duaan denganNya.

Kedua, totalitas IBADAH. Ramadhan adalah momentum yang diciptakan dengan banyak sweeteners. Pahala yang berlipat-lipat. Harta. Jiwa. Raga. Rasa. Selera. Dan semua. Tentu juga tidak akan mudah. Pasti akan tersedia hal-hal yang merusak konsentrasi dan determinasi. Pasti.

Ketiga, menambah ILMU. Membaca, mengkaji, meringkas, menulis, membedah, menganalisis, mengargumentasikan gagasan, menginspeksi buku atau kitab, menambah kapabilitas dan spesialisasi, dan semacamnya.

Esposito tidak ragu bahwa perkembangan Islam itu mencengangkan. Tapi itu diawali dengan tradisi menyendiri, berpikir, berdua-dua meminta dan merengek, dan memikirkan masyarakatnya.

Ramadhan -sebentar lagi- akan tersaji. Biidznillah. Semoga tak terlewatkan dari aktivitas menyendiri, ibadah, dan menambah ilmu. Perlu kesadaran kuat, atau akan terlewat.

Eko Novianto