Berkata Baik atau Diam

sumber: jenkna.wordpress

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia dalam hidupnya tidak bisa sendiri, pasti kita akan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki berbagai latar belakang berbeda. Oleh karena itu, agar interaksi kita kepada mereka tidak banyak kendala, maka kita harus memperhatikan pilihan kata yang baik dan tepat. Dalam Islam ada beberapa macam perkataan yg bisa kita pakai sesuai dengan kebutuhan: Qaulan karimah (perkataan yang mulia), qaulan layyina (perkataan yang lembut), qaulan tsaqila (perkataan berkualitas dan berbobot), qaulan sadiida (perkataan yang benar dan lurus), qaulan baligha (perkataan yang jelas).

Rasulullah SAW bersabda: ” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam .” ( HR. Bukhari Muslim ) Dari konteks hadits ini, saat berbicara pilihannya hanya dua: berkata baik atau diam. Hal ini mengantisipasi agar perkataan yang keluar dari lisan kita hanya perkataan yang bermanfaat saja.

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:”Orang yang banyak bicara akan banyak salahnya, orang yang banyak salahnya akan banyak dosanya, orang yang banyak dosanya akan masuk neraka”. Mungkin ada benarnya ungkapan diam itu emas. Karena dalam kondisi marah, diam itu lebih baik. Biasanya orang yang marah tidak terkontrol ucapannya. Sehingga banyak sekali permasalahan yang ada di dunia salah satu penyebabnya karena buruknya dalam berkomunikasi.

Dalam dunia da’wah, kecakapan dalam berkomunikasi sangat diperlukan dalam diri seorang da’i. Karena tutur kata menjadi salah satu tolak ukur penilaian kepribadian seseorang. Perkataan yang baik kepada seseorang menjadikan dia seperti dihargai , sehingga menimbulkan perasaan nyaman di hati. Kalau seseorang sudah tersentuh hatinya, maka dengan izin Allah akan banyak kemudahan untuk menakhlukan hatinya untuk cinta kepada Allah SWT.

Da’wah yang baik bukan sekedar menyampaikan. Tapi bagaimana pesan itu sampai tanpa merasa orang tersakiti . Karena da’wah dengan cinta akan menyampaikan hasil yang sebenarnya. Hasil yang sebenarnya adalah orang memahami Islam dan melaksanakannya karena bukan ada unsur keterpaksaan. Prinsip dalam da’wah kita hanya menyampaikan sementara hasil adalah haq perogratif Allah SWT. Sampaikanlah dengan penuh cinta maka kita akan mendapatkan hal yang sama. Karena pada hakekatnya manusia ingin dicintai, dihargai dan dihormati.

Ratih, Cikarang