Don’t Cry for Me, Evan Dimas

Evan Dimas menangis saat menyanyikan Indonesia Raya sebelum pertandingan melawan Myanmar

Kekalahan Indonesia dari Myanmar dalam ajang sepakbola Sea Games 2015 tak lagi menyedot perhatian publik. Mungkin menjadi pecundang sudah lazim bagi masyarakat pecinta sepakbola, termasuk tak berdayanya Timnas Indonesia dihadapan tim dari negara yang membantai dan mengusir penduduk muslim Rohingya. Kita justru lebih menyoroti tetes air mata yang mengalir dari kedua sudut mata Evan Dimas saat menyanyikan Indonesia Raya sebelum pertandingan.

Evan Dimas, mantan kapten Timnas U-19 tak kuasa membendung aliran air matanya. Mulutnya terbata-bata ketika bait-bait lagu kebangsaan kita dikumandangkan. Ia memang masih tegap berdiri, namun liangan air mata dan bahsa tubuhnya tak bisa menyembunyikan kegetiran yang sedang dirasakannya. Anak muda yang bertubuh ringkih itu terguncang.

“Ketika lagu Indonesia berkumandang, beberapa pemain menangis. Begitu pula saya. Saya menyadari bahwa ajang ini menjadi laga internasional terakhir yang akan Indonesia mainkan sampai sanksi FIFA dicabut. Tidak ada yang bisa menebak berapa lama sanksi FIFA itu bertahan. Mungkin bisa 2-4 tahun?” ujar Pelatih Timnas Aji Santoso.

FIFA, induk sepakbola tertinggi di dunia memang telah menjatuhkan sanksi kepada Indonesia akibat pembekuan PSSI oleh pemerintah melalui Menpora. FIFA menilai telah terjadi intervensi penguasa—hal yang diharamkan—sehingga per 30 Mei mengetuk palunya untuk menghukum Indonesia. Seluruh turnamen sepakbola internasional tidak boleh diikuti oleh Indonesia, pengecualian di Sea Games yang sedang berlangsung.

Evan memang layak menangis. Ia dan rekan-rekannya korban dari kebijakan absurd pemerintahan Jokowi. Hanya dengan alasan banyak mafia sepakbola di PSSI, klub-klub yang tidak profesional, timnas yang tidak berprestasi, kemudian pemerintah membekukan induk sepakbola Tanah Air tersebut.

Jika alasan utamanya adalah mafia sepakbola, maka pertanyaannya adalah, apakah ada di negeri ini yang tidak disusupi mafia? Jawabnnya jelas: hampir tidak ada! Bukankah naiknya Jokowi ke tampuk kekuasaan pun tak bisa dilepaskan dari keberadaan mafia di belakangnya?

Ini adalah pemerintahan yang memiliki derajat kemalasan berpikir luar biasa. Pusing dengan APBN yang defisit, dengan cepat menjadikan kenakan harga BBM sebagai solusinya. Bingung dengan mafia sepakbola, dengan sigap membekukan PSSI. Haruskah membakar lumbung hanya untu menangkap seekor tikus kecil?

Tetes air mata Evan Dimas bisa jadi bukan cuma soal sepakbola. Melainkan karena anak muda itu tersayat-sayat hatinya membayangkan kondisi negeri tercinta yang tak sesuai dengan syair Indonesia Raya yang dinyanyikannya.

…Indonesia Raya
Merdeka…merdeka…
Tanahku negeriku yang Kucinta…

Indonesia, negeri kita dan Evan Dimas ternyata belum merdeka. Hari ini rakyat tercekik hidupnya. Harga-harga sembako melambung tinggi. BBM tak lagi disubsidi. Tarif listrik melonjak. Dan ongkos transportasi tak lagi ramah dengan kantong. Kita belum merdeka di tanah air sendiri.

Evan Dimas sudah meneteskan air mata saat Sang Presiden masih saja tebar pesona ke sana ke mari sambil cengar-cengir. Tak ada air mata yang mengalir dari kedua kelopak mata “Sang Nabi” meski rakyat yang dipimpinnya kian terhimpit. Senyumnya masih saja tersungging lebar.

Kita berharap tak ada tetes mata lagi ketika Evan Dimas menyanyikan Indonesia Raya sebelum pertandingan melawan Kamboja. Engkau tak layak menangisi kami, karena kami lah yang layak menangis untuk engkau, seorang anak muda yang menjadi idola dan harapan negeri ini, namun tumbuh di waktu yang tak tepat yakni ketika negara ini diselimuti kabut tebal pencitraan.

Please…don’t cry for me, Evan Dimas

Erwyn Kurniawan
Twitter: @Erwyn2002
FB: Erwyn Kurniawan
Pemred www.kabarumat.com