Akmal: “Peradaban Ilmu Bermula dari Tauhid”

#IndonesiaTanpaJIL kembali mengadakan perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) angkatan ke-2 yang keduabelas pada hari Kamis, tanggal 28 Mei 2015, pukul 18.30 WIB. Kuliah diadakan di Rumah Synergy, Kantor Tabloid Suara Islam, Jl. Kalibata Tengah No. 3A, Jakarta Timur. Perkuliahan kali ini membahas seputar “The Golden Age of Islam” yang dibawakan oleh Akmal Sjafril, ST. M.Pd.I.

Perkuliahan terakhir dalam rangkaian pendidikan di SPI ini dimulai dengan sedikit kilas balik tentang materi “Ghazwul Fikri”. Akmal menjelaskan ghazwul fikri terjadi sejak lama, bahkan sejak zaman Nabi Adam as diciptakan, yang terbukti dengan aksi Iblis menipu Nabi Adam as sehingga beliau melakukan perbuatan yang dilarang Allah. “Manusia adalah makhluk yang mengikuti akalnya. Jika akalnya tertipu, maka ia akan salah langkah. Sebaliknya, jika pikirannya sudah bangkit, maka tubuhnya akan mengikuti pula,” ujar Akmal.

Akmal menjelaskan berbagai pengaruh Islam terhadap perkembangan dunia modern. Dalam pendidikan misalnya ada seorang wanita bernama Fatima Al-Fihri yang membuat universitas pertama di dunia pada tahun 841 M. “Bahkan Shalahuddin Al-Ayyubi yang kita kenal sebagai panglima peperangan justru sangat memperhatikan pendidikan. Beliau membangun setidaknya lima perguruan tinggi di Kairo setelah menghancurkan Dinasti Fatimiyyah di Mesir. Dengan cara ini, beliau meruntuhkan dominasi pemikiran Syi’ah secara bertahap,” ungkapnya.

Dalam dunia engineering, Akmal mengatakan bahwa pada tahun 953 M Al-Mu’izz sudah membuat pena. Dalam dunia kesehatan, Al-Kindi, menulis beberapa karya seputar polusi udara dan teknik penangannya di saat udara masih belum tercemar seperti saat ini. Dalam bidang Eksplorasi ada Ibn Battutah, seorang petualang kelahiran Maroko yang telah berjelajah sejauh lebih dari 73.000 mil dalam 30 tahun. “Jaman dulu tidak ada dikotomi antara ulama dan saintis. Hal ini terlihat dari pribadi tokoh seperti Ibn Battutah, misalnya, yang selain seorang petualang juga seorang qadhi,” tutur Akmal.

Gaya hidup dunia pun dipengaruhi oleh orang Islam. Pada tahun 1400-an di Yaman, muncullah budaya meminum kopi yang terjadi di kedai-kedai kopi sambil membicarakan perihal bisnis. Dalam bidang Astronomi, Islam melakukan banyak terobosan. Hal ini, menurut Akmal, terjadi karena “Islamlah yang pertama kali memisahkan antara astronomi dan astrologi. Hal ini dimungkinkan karena aqidah yang lurus yang dimiliki cendekiawan muslim.” Khalifah Al-Ma’mun pada abad 9 M telah memerintahkan para astronom untukmenghitung diameter Bumi ketika orang Barat masih banyak yang percaya Bumi itu datar.

Akmal menjelaskan harapannya agar para peserta SPI menjadi orang-orang yang terus haus akan ilmu. Kuliah ini pun mendapat tanggapan baik dari para pesertanya. “Kuliah pekan ini bikin senyum-senyum kagum. Setelah mendengarkan penjabaran Kang Akmal, saya jadi semakin bangga menjadi seorang Muslim dan sadar bahwa hanya dengan ilmu umat akan dapat berjaya kembali,” ujar Huda Firmansyah, salah seorang peserta SPI.

Almay Shalahuddin Rasyidi