Kehilangan Figur Ayah

Seorang anak muda menyapaku di tengah keramaian Jakarta. Laki-laki muda yang keren. Berkaca mata, t-shipt putih dengan hiasan perusahaannya, celana panjang rapi, sepatu sport. Ramah. Menyapaku ramah. Dia tawarkan kerjasama untuk santunan rumah singgah anak jalanan. Aku dengar paparanku. Aku korbankan sedikit agendaku untuk mendengar paparannya secermat mungkin. Tanya-tanya sedikit dan beberapa kali menyela paparannya tentang anak-anak yang kehilangan figur ayah.

Seorang laki-laki muda yang lain pernah bercerita padaku bahwa karena tugas, dia merasa anaknya sudah kehilangan figur ayah.

Figur.

Secara bahasa, kata figur memiliki arti wujud, bentuk, atau tokoh. Kehilangan figur ayah, secara bahasa, adalah kehilangan wujud, bentuk, dan tokoh ayah.

Entah mengapa, rasanya, frasa kehilangan figur ayah terdengar merdu, indah, bermartabat, prestise, atau punya gengsi tersendiri di kekinian kita. Keren. Entah. Rasanya.

Tapi, lalu jadi agak banyak laki-laki yang mengungkapkan frasa ini. Berpisah dan meninggalkan anak-anaknya, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tugas beberapa hari ke luar kota, muncul frasa kehilangan figur ayah. Kerja atau beraktivitas di weekend, muncul frasa anak-anak kehilangan figur ayah. Berangkat dini, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tidak bisa liburan bersama, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tidak bisa makan malam bersama, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tidak bisa main game bareng, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tidak bisa nonton bareng, muncul frasa kehilangan figur ayah. Tidak bisa duduk-duduk bareng di ruang tengah sambil ngemil dan ngeteh, muncul frasa kehilangan figur ayah. Dan semacamnya.

Benarkah?

Benarkah itu kondisi yang menggambarkan kondisi kehilangan figur ayah?

Atau, ayah itu memang tidak ada meski ada dan banyak agenda makan-makan, jalan-jalan, dan main-main?

Jangan-jangan, semua agenda itu -sebenarnya- untuk memenuhi hasrat dari seorang laki-laki yang kita sebut sebagai ayah. Makan-makan itu untuk kepentingan ayah dan untuk hasrat ayah. Menginap di hotel dan jalan-jalan itu tuntutan gaya hidup ayah. Mengajak main ke arena permainan itu untuk ayah dan keharusan sosial seorang ayah. Semua itu ada cuma untuk kepentingan seorang ayah yang agak bodoh dan agak lemah.

Jangan-jangan, anak-anak memang kehilangan ayah ketika ayahnya ada di dekat mereka. Yang mereka lihat ayahnya hilang diperintah istrinya, disuruh-suruh lingkungannya, diperintah trend, dibimbing prestise, atau dituntun nafsunya.

Anak-anak memang kehilangan figur ayah meski ada sesosok laki-laki di dekat mereka.

Ayah itu hilang bukan karena pekerjaannya, bukan karena penempatan tugasnya, bukan karena mutasi kantornya, bukan karena tuntutan profesinya, dan bukan karena SK atau ST, tetapi ayah itu hilang karena dirinya sendiri.

Dirinya sendiri yang menyebabkan anak-anaknya kehilangan figurnya.

Laki-laki yang ayah memang harus bekerja keras menjaga anak-anaknya dari bahaya kehilangan dirinya. Namun itu tidak memerangi atau melawan orang lain. Yang pertama dan yang utama, dia harus melawan apa yang ada pada dirinya sendiri.

Dulu, para pejuang meninggalkan anaknya mencari mati, kita, sekarang pergi mencari makan, untuk beberapa rapat, untuk sedikit bincang-bincang, atau diskusi ngalor-ngidul. Dan anak-anak pejuang itu tak kehilangan figur ayah.

Dulu, para ulama menitipkan anaknya untuk belajar, bahkan ke tempat-tempat yang melintasi negeri. Kita cuma tak seujung kuku mereka. Dan anak-anak mereka meletakkan ayah mereka di posisi terhormat di hati dan benak mereka.

Dulu, para pahlawan dipisahkan dari keluarganya tanpa komunikasi. Sekarang, kita punya beberapa nomor kontak anak-anak dan anak-anak kita punya beberapa nomor kontak ayahnya. Tapi, anak-anak pahlawan itu punya kebanggaan menjadi anak pahlawan sampai sekarang.

Teko hanya bisa mengeluarkan apa yang diisikan padanya.

Singa melahirkan singa.

Laa sahlan illa maa ja’altahu sahlan..

Jakarta, 30 Mei 2015