Bukan Semata Soal Jempol

Kita hidup di era yang memudahkan kita untuk memproduksi karya literasi, mendistribusikan, dan juga mengkonsumsi. Beberapa kesulitan soal produksi, konsumsi, dan distribusi khas era sebelumnya sudah nyaris terselesaikan semuanya.

Masuk surga meski dengan kerja-kerja jempol menjadi gagasan baru di era ini. Share. Menjadi aktivitas yang mengemuka.

Ndak papa.

Tapi.

Jempol tak boleh sendiri. Harus ada pikir dan rasa. Jempol tak boleh sendiri.

Apakah informasi yang kita terima adalah hal yang benar?
Bagaimana mengkonfirmasi?
Bagaimana melakukan validasi?
Apakah perlu dibagikan?
Adakah pihak yang mungkin terluka?
Siapa yang diuntungkan?
Siapa yang dirugikan?
Apa manfaatnya bagi kita?
Apa manfaat bagi orang lain?
Pesan apa yang akan kita sampaikan?
Pesan bahwa kita hebat, cepat, dan menjadi yang pertama membagikan informasi?
Apakah untuk alasan kemulian jiwa atau untuk gagah-gagahan?
Adalah pertanyaan-pertanyaan penting di era ini untuk menemani sang jempol.

Jempol tak boleh sendiri. Kalau pun untuk ke surga, jempol -seharusnya- memasukinya dengan segenap perasaan dan pikiran kita.

Nasehat-nasehat orang terdahulu menjadi nasehat beberapa zaman karena mereka memikirkan dan mencerna peristiwa yang mereka alami dengan seluruh pikiran dan perasaan mereka.

Hati-hati.

Eko Novianto