Menakar Bangunan Peradaban

Umar Bin Khaththab ketika itu sedang mengadakan perjalanan ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak penggembala kambing. Anak ini hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia pun hidup mengandalkan upah yang diperolehnya dengan menggembala kambing. Melihat anak itu, Umar kemudian ingin menguji apakah anak ini dapat bersikap jujur dan amanah. Kemudian didekatilah anak ini.

“Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah kepadaku barang satu ekor saja,” kata Khalifah Umar kepada si anak gembala.

“Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan kambing-kambing ini dan memungut upah darinya,” kata anak gembala.

“Katakan saja kepada majikanmu, salah satu kambingnya dimakan serigala,” ucap Khalifah Umar.

Anak gembala itu terdiam. Sejenak kemudian, dia lalu berkata, “Di mana Allah? Di mana Allah? Jika tuan menyuruh saya berbohong, di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah tuan mau menjeruskan saya ke dalam neraka karena telah berbohong?”

Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar menitikkan air mata. Dipeluknya anak gembala itu, lalu dia meminta agar si anak gembala itu mengantarkannya kepada sang majikan.Setelah bertemu dengan majikan si anak gembala, Khalifah Umar kemudian menawar harga anak itu. Kesepakatan terjadi, dan si anak gembala ini dimerdekakan oleh Khalifah Umar.Selain itu, Khalifah Umar juga membeli semua kambing yang digembalakan si anak tadi. Kambing-kambing itu kemudian diberikan kepada si anak gembala, dan menjadi hak penuh miliknya, sebagai hadiah atas kejujuran dan amanah si anak tadi.

Dari kisah di atas, kita bisa merenung lebih jauh dalam menakar peradaban yang ada saat ini. Sudah seberapa dekatkah kita merasakan Allah hadir dalam kehidupan kita? Bisa jadi kita hanya merasa Allah dekat saat kita sholat, saat kita tilawah Al Qur’an, saat kita sholat di masjid atau saat Umroh atau yang terasa sekali saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Lihatlah kisah sang gembala tadi, ia seorang budak dimana saat itu status budak adalah dicabut hak-haknya namun ketika Iman menjadi sandaran dalam setiap langkah dalam hidupnya maka tak main-main Allah pertemukan dirinya dengan kebahagian sejati. Bukan hanya di dapat nanti di surga, namun pada saat di dunia pun Allah sudah berikan yakni sang budak tadi dimerdekakan dan kambing yang ia gembalakan menjadi hak penuh dirinya.

Jika kita tarik pada kondisi bagaimana peradaban sebuah tempat itu diukur, maka lihatlah masyarakat sebuah bangsa itu. Adakah disana tauhid itu mengakar kuat dalam relung jiwanya sehingga keimanan tidak bisa ditawar dan digantikan oleh apapun. Bagaimanapun sebuah bangsa sisi kualitasnya akan terlihat dari bagaimana kondisi masayarakat karena dari sanalah pada akhirnya terlahir pemimpinnya, dari sanalah terlahir sebuah aturan yang disepakatinya.

Saat ini adalah sebuah persimpangan jalan di saat negeri ini, negeri yang jumlah muslimnya terbesar di dunia sedang diuji dengan sebuah keistiqomahan dan juga diuji mengenai kerja-kerja dakwah Islam yang selalu menghembuskan nilai rahmatan lil ‘alamin. Akar dari kokohnya tauhid tentunya akan melahirkan sebuah peradaban yang selalu menjaga nilai dari sebuah kehidupan agar tetap berada dalam situasi yang menyenangkan dan menyegarkan jiwa bagi setiap orang yang menjumpainya.

Negeri ini, negeri yang sedang beranjak terus menjadi dewasa pastinya akan selalu menghadapi namanya ujian. Letak nilai-nilai religiutas dari Islam sebagai agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia harus terus didorong dan ditumbuhkan terus menerus agar tujuan dari negeri ini yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa ini bisa tercapai.

Begitu banyak para ulama yang ikut turun serta berjuang dalam kemerdekaan negeri ini, betapa banyak para intelektual muslim yang turun terjun ke masyarakat dalam menguatkan jiwa dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan, bahkan para politisi dan diplomat muslim yang taat pada agamanya begitu banyak yang memberikan kontribusi besar dalam ikut berjuang melalui jalur diplomasi untuk kemerdekaan Indonesia. Lalu adakah yang salah jika aku katakan bahwa aku muslim dan aku cinta indonesia, maka izinkan aku berkontribusi untuk Indonesia ?

Ridwan Visioner
Karawang