Perjalanan ke Kobisonta: Dari Jilbab hingga Rem Blong

Salah satu sudut di Kobisonta

Kobisonta adalah nama salah satu pulau di Maluku, kalau tidak salah dari Ambon ke arah Selatan ( kata Dora buka peta buka peta he.he). Hampir 15 tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di Ambon, ada teman yang mau menikah dan kedua calon mempelai berasal dari sana. Saya ketika itu bersama dua teman mengantar kedua calon mempelai pulang kampung ke Kobisonta untuk menikah.

Tibalah hari keberangkatan kami menuju ke pelabuhan. Tapi sesampainya di pelabuhan, ada kabar bahwa kapal tidak bisa melewati Tanjung Alang karena ombak besar. Akhirnya kami disarankan untuk naik kapal dari Leihitu atau Hila, saya agak lupa namanya. Akhirnya kami menyeberang naik motorboat ke Wayame, lalu kami naik mobil menuju Hila. Setibanya di Hila trnyata kapal yang akan kami naiki rusak. Akhirnya kami duduk-duduk di depan musholla setelah sholat.

Hari menjelang maghrib tapi kapal belum selesai diperbaiki. Saya katakan kepada teman-teman bagamana kalau malam ini belum juga selesai kapalnya diperbaiki? Di sini tidak ada penginapan. Tiba-tiba ada seorang ibu lewat langsung menawarkan, “nginep aja bu di rumah saya”. Akhirnya kami menerima tawaran ibu tadi karena tidak ada pilihan lain.

Saya begitu terharu ketika mendengar alasan ibu tadi kenapa beliau mau menampung rombongan kami. Kata ibu tersebut yang sampai sekarang saya ingat, ” Nak ibu melakukan begini karena mengingat anak ibu tinggal di Ujung Pandang (Makassar). Harapan ibu semoga anak ibu diperantauan juga mendapatkan kemudahan, kalau ada kesulitan ada yang menolong juga”.
Subhanallah ibu yang sangat mulia. Keesokan malamnya kami pamitan menuju kapal. Saya kaget karena perkiraan kapalnya besar, ternyata kapal kayu seperti kapal di Tanjung Pasir. Ya Allah seumur hidup, ini pengalaman dlm perjalanan yg paling menegangkan. Kapal yg kami naiki gelap tidak ada lampunya dan jalur yg dilalui pinggiran lautan lepas.

Ya Rabb…hati ini hampir tidak berani lepas dari mengingat Allah, karena antara hidup dan mati. Apalagi sebelumnya ada kejadian yang sungguh menegangkan. Ketika itu saya duduk di depan dekat pengemudi, tiba-tiba di depan ada kapal lain yang jalannya mengarah ke lintasan kapal kami. Saya bilang ke nahkodanya yg sudah tua sekali.

“Pak di depan ada kapal, takut tabrakan.”

Namanya kapal tidak seperti mobil yang tinggal banting setir. Akhirnya saya memandang detik-detik kapal akan tabrakan dengan lisan mengucap macam-macam dzikir terutama istighfar. Akhirnya benar kapal tabrakan, kapal kami oleng, penumpang yang di luar berhamburan jatuh tapi secara reflek mereka bergelayutan di sisi kapal, sehingga tidak sampai tercebur ke laut. Alhamdulillah Mba Wafa yang waktu itu baru berumur kurang dari dua tahun selalu saya peluk. Karena dari awal naik, kapalnya kurang meyakinkan sehingga saya sama sekali tidak berani melepas Mba Wafa.

Setelah ketegangan mereda akibat tragedi tabrakan dan kapal tidak ada kerusakan, perjalanan dilanjutkan. Kapal kami melaju, namun tidak berapa lama kapal yang tadi tertabrak mengejar kapal kami. Ada yg berteriak, “kapal yang tadi, ngejar kita”.

Ya Rabb… suasana mulai panik lagi. Hati ini rasanya menciut, jantung berdebar-debar. Kapal di belakang semakin mendekat. Tiba-tiba terdengar suara takbir dari penumpang kapal yang mengejar kami.
“Allahu Akbar katong semua akan menyesal ternyata mereka saudara kita (sama-sama muslim)”.

Jadi mereka mengira kapal kami musuh yang sengaja tadi menabrak kapal mereka. Maklum ketika itu Ambon masih dalam kondisi kerusuhan. Lalu apa yg membuat mereka urung menyerang kapal kami, dan tahu kami kumpulan orang muslim. Kata mereka ada yang melihat kibaran jilbab, yang ternyata jilbab itu yang dipakai calon pengantin yang kebetulan duduk di pinggiran kapal. Subhanallah sungguh Maha benar firman Allah, dengan jilbab identitas kita akan mudah dikenali. Mungkin itulah salah satu hikmah agar kita tidak ragu lagi untuk menjalankan syariat Allah dalam berbusana muslim.

Saya tidak mengira jika perjalanan ke Kobisonta itu jauh sekali. Saya pikir naik kapal hanya beberapa jam, ternyata seperti saya naik bus dari Cikarang ke Klaten, kurang lebih 12 jam. Jadi semalaman di atas kapal dengan kondisi yang mencekam terasa lamaaaa sekali. Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga turun di dermaga. Rasanya hati ini lega banget ibarat burung mungkin baru terlepas dari sarangnya he.he.

Saya tanya ke teman,”dari sini kita naik apa lagi Mba?” Katanya naik angkot, bayangan saya naik angkot tandanya jaraknya tidak jauh. Tapi ternyata kok lama banget, tidak sampai-sampai. Kurang lebih 5 jam perjalanan naik angkot dan itu tdak ada kata macet karena lewat hutan. Kita bisa bandingkan saat ini di tempat kita, selama lamanya naik angkot paling 1 jam diukur jarak dari keberangkatan sampa tempat tujuan tanpa macet. Sehingga bisa kita bayangkan betapa jauhnya lokasi rumah teman saya.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Kobisonta, sebuah daerah transmigrasi. Penduduknya berkomunikasi dengan Bahasa Jawa. Saya jadi merasa bukan di Maluku tapi seperti di Jawa. Saya menduga mereka dulu ikut transmigrasi bedol desa, karena komunitas mereka sama . Selama di sana saya senang sekali, karena suasana Jawa begitu kental. Tidak hanya bahasa Jawanya tetapi kehangatan mereka dalam menyambut tamu. Saya merasa seperti bertemu dgn klrga sendiri. Hari demi hari tidak terasa kami lalui. Sepuluh hari sudah kami di Kobisonta.

Mungkin saya tipe orang yang jiwanya suka petualang, sehingga kalau di tempat baru rasanya ingin mengeksplorasi daerah itu. Maka, sambil menunggu jadwal kapal yang tidak menentu, saya mengisi waktu buat jalan-jalan menikmati pemandangan. Mungkin karena terlihat saya dan teman bukan penduduk setempat, ada yang menyapa.

Bade tindak pundi (mau kemana)?” sapa salah seorang penduduk.

Bade mlampah-mlampah pak (mau jalan2 pak)”.

Saya menjawab dengan Bahasa Jawa juga, kebetulan saya dari Jawa. Kalau teman saya orang Tidore, dia hanya tersenyum, mungkin karena tidak tahu artinya apa. Saya bersyukur walaupun tinggal lama di Jakarta, Bahasa Jawa tetap kami pakai dalam keluarga bapak ibu saya. Ternyata betul, dengan kita tahu bahasa kaum maka akan mempermudah interaksi. Dan ketika saat acara pernikahan teman saya , benar-benar seperti saya di Jawa karena baik tuan rumah maupun tamu semua menggunakan Bahasa Jawa.

Tibalah saat yang mengharukan, ketika kami berpamitan mau pulang. Hati saya sedih karena saya membayangkan apakah saya bisa bertemu dengan mereka lagi. Mengingat perjalanan menuju ke sana begitu berat. Kami ketika pulang mengambil jalur yang berbeda karena tidak ada kapal sehingga kami putuskan lewat jalur Masohi. Tapi perjalanan arah pulang ini tidak kalah mendebarkan dengan perjalanan saat kami berangkat.

Ketika kami pamitan kami diantar naik motor unttk menuju tempat jalur angkot. Setelah cukup lama menunggu akhirnya angkotnya datang juga. Kami melewati hutan, hampir sepanjang perjalanan saya tidak memejamkan mata karena tidak mau menyia-nyiakan pemandangan yang mungkin tidak akan pernah lagi saya lewati. Dalam perjalanan kadang- kadang kami ngobrol tapi lebih sering diam karena konsentrasi menikmati pemandangan.

Tiba-tiba saya bilang kepada teman saya “Mbak saya pengen banget bakso, sudah hampir 2 minggu nggak makan bakso,” karena selama di Kobisonta tidak ada yang jualan bakso sementara hobi saya makan bakso. Teman saya tersenyum karena memahami keinginan saya. Menjelang Maghrib kami melewati perkampungan, tiba-tiba mobil berhenti.

“Bu, itu ada yang jualan bakso kalau mau beli dulu,” kata supirnya.

Ternyata supirnya mendengar omongan kalau saya ingin bakso, mungkin karena tempat duduk saya persis di belakang supir. Bakso kering tanpa kuah saya santap. Sebagai tanda tanda ucapan terimakasih, pak supirnya tak lupa dapat jatah bakso juga. Alhamdulillah betapa nikmatnya kalau kita makan sesuatu yang kita inginkan.

Tak terasa jalur perjalanan kami makin gelap karena selain malam juga karena suasana di hutan. Ketika kami akan melewati jalan yang menurun, supir menyuruh seluruh penumpang turun. Dan itu berulang kali terjadi, kami hsrus turun dan berjalan sampai jalur landai. Akhirnya kami baru tahu mengapa penumpang harus selalu turun setiap melewati jalur menurun? Ternyata rem mobilnya blong. Kita semua kaget, tapi alhamdulillah kita masih dilindungi Allah.

Yang saya takutkan, ketika harus berjalan, ada monyet yang tibatiba menubruk saya.. hiii ..makanya saya jalannya di tengah he.he. Setelah jalan landai kami naik lagi, tapi hari sudah sangat larut malam. Kata sopirnya

“Memang mau kemana?”

“Mau ke Wai,” kata teman saya.

Tapi sudah malam dan tidak ada kapal. Akhirnya sopir yang baik hati tadi menawarkan agar kami menginap di rumahnya karena memang tidak ada penginapan. Ya Rabb…bapak ini begitu baik walaupun hidupnya sangat sederhana tapi jiwa sosialnya luar biasa. Sesampainya di rumah beliau, kami dibuatkan minum dan mie oleh anaknya. Mengapa saya bilang sangat sederhana? Ketika saya melihat MCKnya hanya beratapkan langit, berlantaikan kerikil dan bertembok bilik. Setelah pagi menjelang, kami berpamitan dan tak lupa mengucapkan terimkasih banyak kepada pak sopir dan keluarganya.

Perjalanan kami lanjutkan dengan naik perahu yang digerakkan motor. Orang sana menyebutnya ketinting utk menyeberang ke Masohi. Alhamdulillah lautnya tidak berombak besar dan pemandangan di sekitarnya sangat indah. Saya benarbenar sangat menikmati perjalanan. O ya, saya belum menjelaskan tentang Masohi. Masohi nama suatu kota di Pulau Seram di Maluku Tengah. Tak terasa kami sudah sampai, mungkin karena sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan indah sehingga perjalanan jadi terasa cepat.

Sesampainya di Masohi perjalanan dilanjutkan dengan mobil angkutan penumpang. Tapi berhubung suasana kerusuhan masih terasa, mobil angkutan umum diganti dengan truk tronton tentara lengkap dengan persenjataan. Karena saya bawa anak kecil, oleh prajurit yang mengawal truk kami disarankan duduk di depan. Posisi duduk saya di tengah, diapit oleh dua tentara dan yang dekat pintu tentara dengan senjata lengkap.

Kami melewati hutan. Kondisi jalan yang buruk dan kadang berliku membuat perjalanan memakan waktu lama. Ketika memasuki wilayah pemukiman, tampak rumah penduduk banyak yang hangus terbakar akibat kerusuhan. Suasana mencekam, akhirnya saya paham mengapa angkutan umum diganti truk tronton dengan kawalan tentara dengan persenjataan lengkap.

Pak tentara yang duduk disamping saya tiba-tiba berkata,”Tenang saja bu, mereka nggak akan berani,” saat melihat sekumpulan orang menatap saya dengan sorotan aneh karena saya ebrbusana muslim. Saya berdzikir terus karena keselamatan saya di tangan Allah, bukan di tangan tentara meskipun itu menjadi salah satu ikhtiar. Terimakasih pak tentara, anda begitu antusias menjaga keamanan walaupun harus hidup jauh dari keluarga. Saya do’akan semoga Allah memberkahi anda semua.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai di pelabuhan Masohi, tempat penyeberangan menuju Tulehu. Sebelum perjalanan kami istirahat sejenak memandangi lautan yang akan kami seberangi. Setelah merasa cukup istirahatnya, perjalanan dilanjutkan. Untuk ke Tulehu kami naik perahu boat dgn laju yg lumayan kencang. Langit begitu indah dengan pantulan cahaya matahari yang akan tenggelam. Saat maghrib, kami sampai di Tulehu, lalu perjalanan kami lanjutkan dengan naik mobil bus sejenis kopaja. Karena perjalanan jauh kami tidak tahu akan menginap dimana.

“Apa kita menginap di daerah sini aja ya kebetulan rumah teman saya ada di sini,” ujar teman saya.

Tiba-tiba ada seorang ibu menyahut”Ibu mau kemana tujuannya? Kalau gitu nginep di rumah saya aja.”

Ketika ibu tadi turun dari mobil, kami pun turun dan ikut beliau ke rumahnya. Ya Allah, perjalanan begitu panjang dan sulit , tapi Engkau selalu mempertemukan kami dengan orang-orang baik.

Paginya kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Dari Tulehu kami menyeberang ke Hila dengan naik kapal kayu kecil dan alhamdulillah jaraknya tdk terlalu jauh. Sesampainya di Dermaga Hila, nampak pemandangan pasar ikan yang ramai dikunjungi pembeli. Dari sana untuk menuju ke Wayame kami naik mobil bus tiga perempat. Hati ini lega sekali ketika sudah sampai Wayame karena jarak menuju rumah sudah dekat. Tapi tetap saja dari Wayame kami harus naik lagi perahu menuju Ambon, ibukota Maluku.

Setibanya di Ambon, kami menuju rumah dengan naik angkot. Alhamdulillah, akhirnya saya dan anak bisa kembali lagi ke rumah dengan selamat, setelah selama dua minggu menjadi musafir. Temen saya yang kebetulan tidak ikut ke Kobisonta berseloroh:

“Mba Ratih hebat, saya yang asli lahir di Ambon saja belum pernah ke sana.”
Saya bersyukur sekali sepanjang perjalanan pulang pergi Kobisonta banyak hikmah yang didapat. Bagaimana saya mendapatkan contoh menolong orang ikhlas tanpa pamrih, untuk berbuat baik bisa dilakukan kepada siapa saja, apalagi orang yang dalam kondisi sulit.

Sabar menjadi kunci sukses dalam menikmati perjalanan sekalipun banyak kita temui situasi yang tidak nyaman. Jadikan perjalanan menjadi ajang mencari pengalaman sehingga kita bisa memahami berbagai karakter manusia. Kita bisa menjadi orang yang bijak dalam memandang perbedaan. Yang lebih luar biasa lagi kita akan merasakan ketergantungan kita kepada Allah menjadi besar.

Laa haula walla quwwata illa billah ( tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).

Ya Rabb…I love you full.

Ratih