Sentuhan Penting Tak Penting

Kereta Sembrani siap mengangkutku ke Surabaya kemarin sore. Gambir menjelang 19.15 WIB. Aku sudah duduk di kursi sesuai tiket.

Duduk di belakangku, pasangan senior. Kakek dan nenek. Si kakek ingin gordyn jendelanya terbuka. Tapi beliau tak tahu cara membukanya. Agak mengeluh. Tapi lalu sang nenek berinisiatif memintaku untuk membukakan gordyn. ‘Terbuka semua, bu? Segini?’. ‘Ndak. Buka semua saja’, jawab sang nenek dengan medoknya setelah meminta persetujuan si kakek.

‘Pak, nanti berhenti berapa menit?’, tanya sang nenek pada pak kondektur. Belum dijawab, sang nenek segera memberitahukan bahwa suaminya sulit berjalan dan membutuhkan waktu untuk turun. Sang nenek minta tambahan waktu nanti ketika mereka akan turun. Pak Kondektur setuju dan mencatat.

Menjelang sampai di Surabaya. Dini hari.

Di empat atau lima deret bangku di depanku, duduk pasangan muda. Pengantin baru, mungkin. Si laki-laki berkaos t-shirt n celana tiga perempat. Perempuan muda di kanannya berkerudung.

Gerakan laki-laki muda dan sarung yang baru saja dia kenakan menegaskan bahwa dia sedang sholat. Dini hari. Sebelum subuh. Mungkin qiyamul lail. Mungkin isya yang tertunda. Bergantian. Perempuan muda itu mengenakan mukenahnya lalu shalat.

Setelah itu mereka bercengkerama. Punggung tangan laki-laki itu dicium, bantal kereta dibekapkan pelan ke wajah si perempuan, berbisik-bisik lalu tertawa-tawa, dan lainnya. Sampai waktu subuh datang. Mereka shalat lagi dan bercengkerama lagi dengan banyak variasi.

Beda usia, beda sentuhan.
Sentuhan penting tak penting.

Eko Novianto