SPI ITJ Mengkritik Paham Kesetaraan Gender

Kamis malam, sekitar pukul 16.45 WIB, 7 Mei 2015, telah dilangsungkan kembali perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL Jakarta. Pemateri pada malam itu adalah Ustadz Akmal Sjafril yang membawakan materi bertema “Kesetaraan Gender dan Feminisme”.

“Banyak sekali hal yang buruk diakibatkan oleh konsep kesetaraan gender atau feminism ala Barat. Di Barat kaum perempuan merasa tubuhnya adalah hak mereka sepenuhnya dan mereka mempunyai hak untuk melakukan segala hal yang mereka mau dengan tubuh mereka, mulai dari mengumbar aurat hingga aborsi. Feminisme ini juga berdampak buruk terhadap keluarga. Kaum perempuan penganut feminisme menganggap kewajiban-kewajiban sebagai istri dan ibu itu adalah beban, bahkan penindasan,” papar Akmal.

Pada kesempatan ini juga Akmal membeberkan fakta mengerikan seputar aborsi. “Telah terjadi 50 juta aborsi semenjak tahun 1973. Ini akibat langsung dari paham feminisme yang dianut masyarakat Barat. Konsep gender juga melahirkan masalah lain, yaitu LGBT. Feminisme juga membuka pintu-pintu terhadap pengakuan atas hak-hak LGBT, sebab kaum feminis radikal menganggap bahwa lesbianisme adalah pembebasan yang sempurna dari dominasi laki-laki,” ungkap Akmal lagi.

Akmal menjelaskan Islam dalam sejarah tidak pernah mengekang perempuan. “Universitas pertama di Maroko didirikan pada tahun 841 oleh seorang Musimah. Di Barat, pada tahun 1821 masih diperjuangkan hak-hak pendidikan bagi perempuan,” ujarnya.

Lelaki dan perempuan derajatnya sama dalam Islam. Akan tetapi, Islam tidak mencampuradukkan peran masing-masing. “Pernikahan menjadi hal yang menakutkan di dunia Barat, salah satunya karena banyak perempuan yang tidak mau mengambil perannya sebagai ibu rumah tangga”, ujar Akmal. Ia menambahkan, “Di barat itu ada pasangan yang sudah menikah namun sepakat tidak mau punya anak, karena anak dianggap sebagai beban. Ini kan jelas tidak benar dan menyalahi naluri kemanusiaan,” tukasnya.

Akmal juga mengkritik Indonesia sebagai negara yang sok sekuler dan ikut-ikutan meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women atau CEDAW. “Tentu kita menolak diskriminasi, apalagi kekerasan terhadap perempuan. Tapi Barat punya pemahaman yang berbeda terhadap diskriminasi dan kekerasan tersebut. Bagi orang sekuler, jika suami mengajak berhubungan, maka istri boleh menolak begitu saja. Dalam Islam, hal ini sangat tercela. Anehnya, sementara banyak negara meratifikasi CEDAW, dedengkot sekulerisme sendiri, yaitu Amerika, malah tidak meratifikasinya. Jadi, mengapa harus ikut-ikutan?” pungkas Akmal.

Kaisar Akbar