SPI ITJ Bandung Membahas Sejarah Kelahiran Syi’ah

Selasa (05/05), #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) kembali menyelenggarakan kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) di aula gedung Mi’raj Tours and Travel, Bandung. Materi kuliah kali ini mengupas seputar Syi’ah, khususnya sejarah kelahirannya.

Ustadz Ahmad Rofiqi, yang dihadirkan sebagai narasumber pada kuliah kali ini, menjelaskan bahwa Syi’ah merupakan satu-satunya fikrah yang usianya sepantar dengan pertumbuhan Islam itu sendiri. “Mereka memiliki entitas kelompok. Berbeda dengan kelompok-kelompok selain ahlu sunnah lainnya seperti Khawarij yang tidak memiliki entitas, hanya pemikirannya saja yang masih berkembang,” ujar Naib Mudir Ibad Ar-Rahman Islamic Boarding School Banten ini.

Kelahiran Syi’ah bermula dari interaksi peradaban Islam dengan peradaban bangsa lain ketika jaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra. “Pada era tersebut, umat Islam menaklukan kekaisaran Persia yang kemudian memperluas wilayah kekuasaan Islam. Sayangnya, banyaknya orang yang masuk Islam setelah penaklukan tersebut tidak berbanding dengan kualitas pemahamannya terhadap Islam sehingga menyimpan potensi konflik,” ujar Ustadz Rofiqi. “Banyak muslim asal Persia yang masih memiliki kebanggaan terhadap peradabannya dan menyimpan dendam kepada Islam,” jelasnya lagi.

Sepeninggalan Umar ra, terjadi perseturuan ketika diangkatnya ‘Utsman bin Affan ra. “Perseteruan ini diprakasai oleh’ Abdullah bin Saba’ yang melakukan provokasi. Ialah tokoh penting yang meletakkan pengkultusan pada Ali dan keluarga Rasulullah (ahlul bait). Setelah ditetapkan sebagai pihak yang bersalah, ‘Abdullah bin Saba’ dibuang ke wilayah Iraq. Di sanalah ia mengumpulkan massa yang kemudian digunakannya untuk memulai politik pecah belah dalam tubuh umat Islam. Salah satunya melalui isu nepotisme yang dihembuskan terhadap ‘Utsman pada masa pemerintahannya. Konspirasi tersebut berlanjut hingga menyebabkan ‘Utsman terbunuh oleh para pemberontak,” ungkap Rofiqi.

Setelah kepemimpinan ‘Utsman ra berakhir, diangkatlah ‘Ali ra sebagai khalifah. Para sahabatpun meminta ‘Ali ra untuk meng-qishas para pelaku yang membunuh Utsman. Namun, para pelaku pembunuhan berhasil memaksa ‘Ali ra sehingga menunda hukuman qishas tersebut. “Inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan pendapat di antara para sahabat, karena dari pihak sahabat ada yang menuntut agar ‘Ali segera melakukan qishas, di antaranya Thalhah, ‘Aisyah, dan beberapa sahabat lainnya,” lanjut lulusan program pascasarjana Jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor ini.

Kelanjutan konflik tersebut adalah terbunuhnya ‘Ali ra sehingga diangkatlah Hasan bin Ali, cucu Nabi Muhammad sebagai khalifah berikutnya. Akan tetapi, kepemimpinan tersebut kemudian diserahkan kepada Muawwiyah ra. Setelah Muawwiyah ra 20 tahun berikutnya, diangkatlah Yazid bin Muawwiyah sebagai penerusnya.

Pada masa kepemimpinan Yazid inilah terjadi peristiwa Karbala yang merenggut nyawa Husain bin ‘Ali, saudaranya Hasan. “Husain datang ke Kuffah karena tertipu oleh ajakan orang-orang yang menginginkan kepemimpinannya. Di tempat yang bernama Karbala tersebutlah terjadi peperangan antara pasukan kiriman Yazid dan Husain yang mengakibatkan Husain dan keluarganya terbunuh. Setelah peristiwa Karbala inilah mengkristalnya ajaran Syi’ah, yaitu karena adanya ideologi pengkultusan ahlul bait,” lanjut Rofiqi.

Menurut Rofiqi, pengkultusan terhadap para ahlul bait ini merupakan pencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran Majusi yang kerap mengkultuskan para rajanya dahulu. Hal inilah yang kemudian memunculkan konsep imamah yang menjadi sistem keyakinan kaum Syi’ah. “Pemahaman terhadap imamah inilah yang kemudian menyimpang sehingga menyebabkan Syi’ah berbeda dengan umat Islam umumnya, salah satunya adalah tindakan orang-orang Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi,” tambahnya.

Pada perkuliahan SPI ini, Rofiqi juga memaparkan beberapa contoh keyakinan Syi’ah yang membuat mereka menjadi sesat seperti meyakini bahwa Al-Qur’an dan mushhaf utsmani tidak asli lagi, taqiyyah, dan sebagainya. “Pemahaman ‘aqidah menyimpang tersebut karena melayani ‘aqidah imamah mereka,” pungkas ustadz yang berdomisili di Jatinangor ini.

Eko Apriansyah