SPI Bandung Bahas Upaya Dekonstruksi Al-Qur’an

Penulis buku Menangkal Virus Islam Liberal, Dr. Nashruddin Syarief, menjadi dosen tamu pada perkuliahan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL, Selasa (28/04). Pada kuliah kedelapan ini, Nashruddin membahas tema “Dekontruksi Wahyu”.

Nashruddin mengawali pemaparannya dengan menegaskan pentingnya untuk umat muslim mengkaji konsep wahyu. “Dengan mengetahui konsep dasar tersebut, umat Muslim dapat menangkal pemikiran-pemikiran dari Barat yang menyangkal konsep wahyu dalam Islam,” tutur Nashruddin.

Orang-orang Barat, menurut Nashruddin, meyakini bahwa Al-Qur’an yang diterima umat Islam pasti terpengaruh oleh berbagai faktor saat diturunkan ke dunia. “Ada anggapan bahwa telah terjadi tiga tahapan dalam proses turunnya wahyu kepada manusia. Pertama, wahyu yang masih berupa firman Allah yang berasal dari langit. Kedua, Al-Qur’an berupa firman Allah yang masih berbentuk oral. Ketiga, mushaf utsmani berupa Al-Qur’an yang dibukukan. Ketika berlangsungnya ketiga tahapan tersebut, menurut kaidah hermeneutika yang mereka gunakan, firman Allah akan terpengaruh oleh banyak hal, seperti bahasa dan sejarah. Dalam teori hermeneutika, kalau sesuatu itu berbahasa maka pasti itu buatan manusia,” ujar doktor lulusan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini.

Jika merujuk pada hermeneutika, maka latar belakang Nabi Muhammad yang dari Arab juga dianggap mempengaruhi Al-Qur’an. Al-Qur’an pun kemudian dianggap tidak asli lagi atau tidak 100% sama dengan firman Allah karena adanya hal-hal yang menurut mereka cuma sesuai dengan bangsa Arab saja. “Akibatnya, terjadi desakralisasi Al-Qur’an yang dapat berujung pada dekonstruksi wahyu. Bahkan, para kaum liberal ingin mengamandemen ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka nilai kurang sesuai,” paparnya.

Ulama muda dari Persatuan Islam (Persis) ini menjelaskan, teori hermeneutika ini kerap diterapkan oleh kalangan liberal dalam menafsirkan Al-Qur’an karena dianggap sudah disepakati bersama oleh masyarakat lintas agama, berbeda dengan ‘ulumul Qur’an yang dibuat para ulama Islam untuk menafsirkan Al-Qur’an yang dianggap hanya untuk kalangan muslim. “Inilah yang kemudian menyebabkan banyak orang yang nyeleneh dalam menafsirkan Al-Qur’an,” ujar Nashruddin.

Pendapat-pendapat yang mengacu pada hermeneutika ini dapat dibantah dengan konsep wahyu tanzil. Konsep yang dikemukakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib (SMN) al-Attas ini dinukil Nashruddin dalam kuliahnya. “Konsep wahyu, Al-Qur’an, dan mushaf pada dasarnya satu hakikat. Dari Allah sudah berbahasa Arab, dibaca pun sama dengan bahasa Arab, dan dari sejak jaman Nabi Muhammad saw. sampai sekarang bacaan dan bahasanya terus terpelihara,” jelasnya.

Singkatnya, klaim bahwa Al-Qur’an tidak utuh lagi merupakan pendapat yang tidak dapat dibenarkan. “Allah berkehendak menurunkan Al-Qur’an seperti apa adanya dan terus terjaga wujudnya hingga sekarang. Maka, dekontruksi wahyu selamanya takkan berlaku pada Al-Qur’an,” pungkas Nashruddin dengan mantap.

Eko Apriansyah