Tentang Manusia dan Kesepian

Apakah takdir manusia adalah sepi, seperti kata Chairil Anwar, “karena manusia adalah kesunyiannya masing-masing”? Mungkin seharusnya Descartes mengganti diktum keraguan “cogito ergo sum”-nya menjadi “solitario ergo sum” (aku kesepian maka aku ada) karena seperti kata Rumi, “tenggelam di keramaian kita akan kehilangan diri sejati dan ia baru akan kembali ketika kita sunyi”.

Ibn Bajah (ابن باجة) dalam kitab “تدبير المتوحد (Tadbir al-Mutawahhid)” (atau undang-undang kesepian) menceritakan bagaimana orang-orang bijak selalu kesepian di negeri yang tidak sempurna, dan hanya di negeri sempurna-lah ia akan menemukan kedamaian sejati, negeri utopia seperti yang diimajinasikan oleh Al Farabi dalam “Ara Ahlul Madinah Al Fadilah” (negeri keutamaan, yang dipimpin oleh kaum bijak yang tidak berbicara kecuali dengan dengan intelek yang bebas dari nafsu dan kepentingan), atau dalam istilah Ibn Bajah “المدينة الكرامة (Al Madinah Al Karamah)”, kota kemuliaan, arete.

Apakah orang-orang bijak itu mengasingkan diri dari kerusakan zaman, atau apakah itu tindakan yang paling bermoral menurut Ibn Bajjah? Sebaliknya, menurut Ibn Bajah, mengasingkan diri demi menghindar dari keguncangan moral adalah kesombongan, suatu imoralitas tersendiri. “Ghurbah” atau sunyi, bagi Ibn Bajah, tidak sama dengan “uzlah” atau steril dari suara-suara “an nafs al dhamm” (suara jiwa yang tercela), tapi ia adalah imunitas, suatu keteguhan diri, karena orang bijak selalu [yastami’unal qawla] berkenan mendengarkan suara-suara, tapi mereka mampu [fayattabi’una ahsanah] memilah dan hanya mengikuti yang baik.

Bagi Ibn Bajah, uzlah atau menyendiri dapat menjadi metode mencapai moral tinggi dalam bentuk ‘spiritual devotion’ (as sura al ruhaniyah) seperti yang dilakukan kaum sufi, tapi ia sebagai filsuf, tidak menganggap itu sebagai hal yang tertinggi karena tujuan paling mulia adalah ‘spiritual inquiry’ (as sura al aqliya), pencarian kebijaksanaan sebagai bentuk kebahagiaan tertinggi. Pengetahuan itu meskipun seringkali berisi kepahitan dan sakit, buahnya (“ribh”) adalah kebahagiaan (“as sa’adah”) yang dirasakan setelah mengalami penyingkapan-penyingkapan (“al-kawasyif) atas pengetahuan.

Mutawahhid atau sosok yang kesepian itu, bukan mengalami kesepian fisik, dia tetap berada di samping manusia, dari jalan ke jalan, mengetuk satu pintu ke pintu lain, berbicara dengan raja dan awamnya, menghadapi tentara yang zalim, menghibur para tawanan, menyelimuti orang yang terbuang, menemani yang terasing dan mengobati luka orang-orang bodoh, tapi jiwanya sendiri kesepian, sebuah isolasi mental karena manusia sulit memahami dirinya, ia sendiri kesulitan menjelaskan pikiran-pikiran, pengalaman, mimpi dan kesedihan-kesedihannya. Meskipun terasing atau diasingkan tapi mereka tetap melayani manusia. Kata Ibn Bajah ini adalah natural di suatu jaman yang rusak, bukan sesuatu yang dicari dan didambakan oleh pencari hikmah.

Faktanya, kata Ibn Bajah, disadari atau tidak مقام التوحد “maqam at-tawahhud” (kondisi soliter, kesendirian) selalu mendambakan مقام الاتصال “maqam al-ittishal” (kondisi konjungsi, pertemuan), yaitu bertemu dan tersambung dengan sesama jiwa yang kesepian yang bertanya, yang mencari, yang bergulat dengan ragu, yang jenuh dengan kedangkalan klise, yang rindu dengan mereka yang bisa berbicara di tingkat kedalaman jiwanya.

Jiwa-jiwa ini di dunia berserak di mana-mana, dan dalam kesepian pengembaraannya mereka saling mencari. Pencarian ini tak selalu disengaja karena pengembara tak pernah tahu apa yang akan ia alami, tapi jika mereka bertemu, tahulah mereka bagaimana jiwa-jiwa mereka telah muttashil (bersambung) dalam kalam dan percakapan, bahkan pada pertemuan yang ruhani, seringkali kelezatan, kebajikan, keindahan, kecantikan, kehangatan, ilham, delight, seringkali tak terbahasakan (“laddzat al musyahadat”).

Barangkali maqam ittishal seperti yang dibahasakan Nabi, [al arwaahu junudun mujannadah, fa ma ta’arafa minha i’talafa, wa ma tanakara fiiha ikhtalafa] “ruh-ruh itu seperti tentara yang telah ditentukan barisannya, mereka yang jiwanya ditakdirkan saling mengenal, akan terikat dan bersatu, mereka yang ditakdirkan saling mengingkari, akan saling menjauh”.

Tapi jika maqam ittishal itu adalah kesempurnaan bagi jiwa-jiwa pencari itu, watak dunia, yang tak lain adalah sebuah negeri fana yang dystopian (dalam istilah Ibn Bajah dunia yang kita huni adalah “المدينة الجماعية – Al Madinah Al Jama’iyah” -kota yang sesak, acak tanpa ketertiban atau chaos dan tanpa kebijaksanaan, anarki atau sebaliknya “المدينة التغلب – Al Madinah At Taghallub” kota kefasisan atau dystopia dalam bentuk lain, kota yang tertib tapi karena ia dikekang dan diseragamkan dengan rantai, cambuk dan penjara) – maka kesenangan ittishal itu juga fana- meskipun kita mengklaimnya bersifat ruhani: “bukankah tiada sesuatu yang sempurna kecuali ia akan menjadi rusak”, kata Abu Bakar menangis menjelang perpisahan dengan Nabi saw. Inilah undang-undang kehidupan: setiap yang bertemu akan berpisah!

Dalam risalah al wada’ (risalah perpisahan), Ibn Bajah memberi alasan, karena “al-ittishal” adalah maqam, dan semua maqam adalah temporer, baik itu mahshub ataupun ghairu mahshub (dicari ataupun tidak), dia bukanlah pertemuan yang hakiki dan kebahagiaan yang ditimbulkannya, bukanlah tujuan dari pertemuan itu. Tujuan pertemuan, adalah untuk mengubah kita. Pertemuan adalah “nuqthah al-tahawwul” (titik transformasi), “tajalli” atau epifani yang mengubah cara pandang kita. Kita -yang baru- diperlukan untuk memulai perjalanan baru, menempuh jarak yang lebih jauh, mendaki lebih tinggi, menyelam lebih dalam. Pertemuan adalah terminal bukan kampung halaman yang kita tuju. Perpisahan, barangkali adalah cara kita mengingat pertemuan, karena adakah yang lebih sakit daripada dilupa selain melupa?

Barangkali memang benar perpisahan adalah batu Sisyphus-nya manusia, jika kata Chairil, “manusia adalah kesunyiannya masing-masing” tapi ia sekaligus salah ketika mengatakan “mampus kau dikoyak sepi”. Kita tahu, dia bukannya tak bermakna seperti penderitaan tak berujungnya Sisyphus, karena betapapun menyakitkannya perpisahan, kita tak akan menyesal kenapa harus ada pertemuan itu.
—————————————————————-

Catatan: Buku “Tadbir al Mutawahhid” ini adalah sebuah risalah filsafat politik, bukan novel melankolia. Boleh dibilang, karya Ibn Bajah ini menimpali karya Al Farabi, yang banyak mengutip Plato. Tapi, adakah perbedaan antara filsafat platonis-nya Plato di “The Republic” dengan filsafatnya Ibn Bajah? Ibn Bajah tidak terlalu sibuk dengan konsep ideal yang tidak realistis tentang “kota orang-orang bijak”, tapi dia tetap mengatakan bahwa orang-orang bijak itu selalu ada, hanya saja karena watak negeri yang mereka tinggali jauh dari sempurna, seringkali mereka menjadi marjinal. Dia hendak memberi petunjuk bagaimana mereka hidup dalam kemarjinalan, bagaimana mereka harus tetap melayani meskipun terasing.

Ibn Bajah mati muda, karena diracun. Dia adalah seorang jenius polimath, menguasai fisika, biologi, kedokteran, matematika, selain filsafat itu sendiri.

Priyo Jatmiko