Masalah Utama Pluralisme Agama Adalah Definisinya Sendiri

Akmal Sjafril, penulis buku Islam Liberal 101, kembali menjadi narasumber pada hari Kamis (24/04/2015), untuk acara rutin kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL. Kuliah kali ini, yang bertempat di Aula Rumah Shynergy / Kantor Tabloid Suara Islam di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, mengangkat tema “Pluralisme Agama”.

Akmal membuka kuliah dengan menjabarkan masalah utama dalam konsep pluralisme agama. “Masalah utama dalam konsep pluralisme agama adalah definisinya itu sendiri,” ungkap Akmal. Peneliti INSISTS itu juga menjelaskan bahwa para tokoh pluralisme, terutama di Indonesia, memberikan penjelasan yang berbeda-beda dan penjelasan-penjelasan itu bukan merupakan sebuah definisi yang jelas.

Sebagai contoh, Akmal menjabarkan definisi pluralisme agama menurut Nurcholis Madjid yang menjelaskan pluralisme sebagai ‘pertemuan yang sejati dari keserbaragaman dalam ikatan-ikatan kesopanan’. “Disini ada nilai yang sangat relatif dari kesopanan itu sendiri. Apa yang dianggap sopan di setiap daerah berbeda-beda. Apakah semua keragaman itu akan diterima setiap saat?” ujar Akmal. “Apa penjelasan yang mengambang seperti ini dapat dikatakan sebagai definisi?” tambahnya lagi.

Kuliah kali ini diikuti oleh 34 peserta. Salah seorang di antaranya adalah Almay, seorang aktivis dakwah di kampus IPB, yang memberikan tanggapan positif terhadap kuliah ini. “Kuliah kali ini semakin memperjelas pernyataan Akmal Sjafril bahwa kaum Islam liberal di Indonesia tidak ada yang ideologis seperti di luar negeri. Hal ini terbukti dari keengganan mereka untuk memilih satu definisi pluralisme yang tunggal, sehingga mereka tidak akan pernah bermain fair play,” jelas Almay.

Huda Firmansyah