Konferensi Asia Afrika Antara Ada dan Tiada

Konferensi Asia Afrika (KAA) saat ini tidak lebih dari nostalgia tanpa signifikansi apa-apa, setidaknya ada beberapa point indikator nya :

1. Jokowi katakan dalam pidatonya tidak butuh Bank Dunia, ADB (Asian Development Bank), dan IMF (International Monetary Fund) untuk sebuah tatanan ekonomi dunia baru.Hal ini terasa sekali pidato politik pencitraan yang tidak mengindahkan reality dan feasibility.Padahal faktanya, RI hutang kepada IMF untuk membangun infrastruktur, serta Jokowi mengambil kebijakan untuk menaikkan BBM dinilai sarat akan tekanan IMF. (Googling keyword: Jokowi IMF BBM)

2. Presiden Iran, Rouhani, menggalakkan kampanye lawan ekstrimis. Terlihat sekali kampanye nya hanya ingin memukul rata semua pihak yg melawan Ajaran Syiah.

3. KAA tidak lebih dari ajang nostalgia ini dijadikan tempat kampanye dari misi masing2 negara, serta ajang khususnya bagi China dalam merebut pengaruh di Pasar Asia Afrika, apalagi melihat potensi kekuatan ekonomi china dalam skala global yang telah mendapuk dirinya sebagai ekonomi terbesar di Dunia, PDB china USD 17,6 Triliun sedangkan PDB USA sebesar USD 17,4 Triliun (katadata,2014).

4. Nilai kemanusiaan pada KAA telah dinodai dengan kehadiran Negara-negara yang telah dinilai melanggar HAM seperti Mesir (dalam pembantaian di tragedi Rabia dan kudeta pemerintahan Morsi yang sah dan demokratis), Myanmar (membantai dan mengusir warga Rohingya), serta Korea Utara (negara diktator dengan kejahatan HAM di masa lalu dalam mempertahankan kekuasaan).

4. Memerdekakan palestina tanpa ruh kekuatan dan keseriusan.
Kalau Joko Wi serius, maka rezim nya harus buka hubungan dengan Hamas sebagai entitas yang didukung rakyat palestina, penolakan kantor cabang Hamas di Jakarta menimbulkan keraguan perihal keseriusan rezim Jokowi untuk memerdekakan Palestina.

KAA bukan ajang yang mampu (dan relevan) untuk memerdekakan palestina, kepentingan negara KAA berbeda, potensi ekonomi dan militer negara-negara KAA mostly masih jauh dibawah USA (israel) & Rusia.
Dibutuhkan sebuah terobosan (yg radikal) oleh negara2 mayoritas islam dlm menyatukan sgl potensi ekonomi dan militer kalau memang mau merdekakan Palestina.

Eksistensi dan pengaruh dari konferensi yang telah lahir sejak 60 tahun lalu ini dinilai begitu lemah dengan adanya tarik menarik kepentingan politik global. Padahal KAA dibentuk sebagai perimbangan peta kekuatan Dunia.

Indonesia, sebagai negara penduduk muslim terbesar di Dunia, harus memposisikan diri untuk memenangkan kepentingan Islam di panggung internasional agar tidak terjebak nostalgia dan seremonial KAA apalagi hanya memainkan politik pencitraan di pentas internasional.

Aji Teguh P