Keranjingan Hape dan Keranjingan Telur

‘Pak, bagaimana cara menyikapi pasangan yang keranjingan hape?’, sebuah pesan datang.

‘Keranjingan itu apa? Apa yang anda maksud dengan keranjingan?, tanyaku balik. Prosedur standar.

Suatu pagi, saya baru sampai rumah. Trus pingin segera sarapan. Bu Warih masak Bunga Pisang. Ontong, kata orang Jawa.

Masuk dapur dan self service. Ambil seberapa dan mana yang aku suka.

Di dalam panci masakan bu Warih, bercampur dengan olahan Ontong itu, ada beberapa butir telur rebus yang belum dikupas. Saya tidak mengambil telur itu. Saya merasa cukup dengan ‘serpihan’ daging ayam dan tempe rebus. Lalu beranjak ke meja makan.

Tapi, setelah beberapa saat menikmati masakan bu Warih, saya ingin pake telur itu. ‘Can, tolong ambilkan telur. Dikupas ya, Can..’.

Bu Warih beranjak ke dapur. Lalu kembali dengan membawa piring kecil dan telur rebus itu. Tapi belum dikupas. ‘Kupasin, Can..’.

Piring dan telur rebus itu diletakkan di meja makan. Tapi belum dikupas.

‘Can, tolong kupasin..’, kataku cuma beberapa detik dan nyaris bersamaan dg pendaratan piring. Tapi, telur itu belum dikupas juga.

Terakhir. Bu Warih sudah duduk di dekat hapenya. Utak-utik. ‘Can,.. Can, tolong telurnya dikupas. Aku sudah mengucapkan ini tiga kali..’, kataku sambil mengupas sendiri telur itu.

‘Memang salahku tidak mengambil telur dari awal. Memang salahku tidak mengambil sendiri dan mengupas sendiri. Memang sudah lebih sopan dari pada mengambil piring makanku lalu membawa ke dapur untuk mengambil telur. Memang sudah lebih bagus dibanding kamu membawa telur pake tangan lalu ‘melempar’ telur itu ke piring makanku. Memang aku tahu bahwa urusan hp itu terkait jual beli dan bukan urusan haha dan hihi. Tapi aku sudah self servis sejak awal, sudah meminta tolong, dan sudah tiga kali’, kataku panjang lebar.

‘Keranjingan hp itu ke mana-mana nempel ama hape, pak’, dia menjawab pertanyaan tentang apa yang dia maksud dengan keranjingan.

‘Apa ada kewajiban yang terbengkalai atau karena anda cemburu?’, tanyaku lagi. ‘Lebih pada cemburu, pak’. ‘Kalau begitu, mulai saja dari rasa cemburu itu. Bilang pada pasangan anda bahwa anda cemburu. Ingin lebih banyak mendapat perhatian dan sentuhan dari pada hapenya’.

Kalau aku keranjingan telur, bu Warih jadi tampak keranjingan hape. Ketika aku cemburu, bu Warih jadi lebih mudah divonis keranjingan hape. Ketika aku merasa tidak didengar, bu Warih jadi sasaran empuk untuk dicap perempuan yang keranjingan hape sampai melupakan suaminya.

Cuma karena aku keranjingan anu, dia jadi keranjingan anu.

Dalam ketegangan itu, Ulfah mendekat dan berinisiatif membantuku mengupas telur. Jari-jari tangan kami bersentuhan. Sentuhan jari itu, sikap bu Warih, dan banyak karunia dariNya membuat semua tak melampaui batas. Dan semoga berguna ketika ditulis.

Jakarta, 9 April 2015

Eko Novianto