SPI #IndonesiaTanpaJIL Membahas Kompleksitas Konsep Ad-Diin

Bertempat di kantor Aula Insists di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, hari Kamis, 26 Maret 2015, #IndonesiaTanpaJIL kembali melaksanakan agenda rutin kuliah Sekolah Pemikiran Islam (SPI) untuk keempat kalinya di Jakarta. Kuliah yang dimulai sejak pukul 18.30 WIB ini membahas tema “Konsep Ad-Diin”, menghadirkan Ustadz Wido Supraha, M.Si sebagai narasumbernya.

“’Ad-diin’ sebagai kata diulang sebanyak 92 kali di dalam Al-Qur’an dalam ragam lafazh-nya. Kata ad-din mengandung makna agama, kepercayaan, tauhid, hari pembalasan, tunduk, dan patuh,” ujar Wido. Selanjutnya Wido menjelaskan sejumlah kata yang seakar dengan kata “Ad-Diin”. Debtor atau creditor (daa-in) memiliki kewajiban (dayn), berkaitan dengan penghakiman (daynunah) dan pemberian hukuman (idanah) yang mungkin terjadi dalam aktivitas perdagangan (mudun atau mada-in) dalam sebuah kota (madinah) dengan hakim, penguasa, atau pemerintah (dayyan), dalam proses membangun atau membina kota, membangun peradaban, memurnikan, memanusiakan (maddana), sehingga lahirlah peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial (tamaddun).

“Keseluruhan makna dengan akar kata di atas memiliki hubungan secara konseptual, kesatuan makna yang tidak terpisahkan, dan semua ini terkait dengan upaya menghambakan diri atau ‘dana nafsahu’ yang bermuara kepada Ad-Dayyan yang merupakan salah satu nama Allah,” ungkap Ustadz Wido.

Di akhir perkuliahan, Wido menekankan bahwa Islam bukan agama historis, tetapi agama metahistoris. “Sebelum sejarah ada, agama Islam sudah ada. Maka Islam ini bukan agama yang baru. Islam merupakan agama metahistoris diatas semua konsep yang ada,” pungkasnya.

Perkuliahan SPI Jakarta yang keempat ini disambut positif oleh para pesertanya. “Meskipun dilakukan dalam waktu yang singkat, materinya memberi wawasan yang cukup mengenai Ad-Diin, “ demikian komentar Almay Shalahuddin Rasyidi, peserta SPI asal Depok.

Ramadhan Yoyo