Dakwatuna, Sri Sultan, dan Politik Asbak Jokowi

“Selalulah meminta kepada Tuhan dan teruslah berbuat, sehingga hidup ini menjadi lebih berarti.”

Kalimat bijak itu milik Perdana Menteri Mohammad Natsir yang dikutip oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pembukaan makalahnya yang berjudul  Berdamai dengan Masa Lalu. Dalam makalah yang disampaikan Sri Sultan di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 10 Juni 2008 itu, tertulis jelas pada catatan kaki bahwa kalimat tersebut diambil dari www.dakwatuna.com (25 Mei 2008). Dan ketika situs yang menjadi rujukan Raja Yogya itu diblokir karena diduga radikal, saya pun berkesimpulan ini tak sekadar Islamphobia, tapi kelanjutan politik asbak Benny Moerdani yang kini dilanjutkan oleh Jokowi.

Begini kisahnya. Saat diwawancara majalah Tempo soal Tragedi Tanjung Priok, Jenderal Benny Moerdani mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan asbak.Ucapan Benny ini dimuat di Majalah Tempo edisi 19 Januari 1985.  Apa yang dimaksud Benny dengan asbak? Umat Islam diprovokasi untuk marah, kemudian Tanjung Priok dijadikan asbak untuk memadamkan amarah itu. Persis seperti orang yang merokok, asbak dijadikan sebagai wadah untuk membuang puntung atau memadamkan apinya. Di era Jokowi, kita, umat Islam yang mayoritas ini dijadikan sebagai asbak. dengan menjadikannya sebagai kambing hitam kegagalannya mensejahterakan rakyat.

Politik asbak itu dengan fasihnya dijalankan oleh Presiden Jokowi. Sejak menjadi orang nomor satu di negeri ini, mantan Walikota Solo itu kerap memainkan politik asbak. Ada wacana penghapusan kolom agama di KTP, doa yang akan dihilangkan di sekolah, karyawan BUMN tidak boleh berjilbab, dan lainnya. Kini, isu ISIS dan terorisme, dengan mudah akan mengingatkan kita pada rekayasa sejenis yang dibuat oleh Benny Moerdani. Mulai dari kasus Wayloya, Tanjung Priok sampai Talangsari. Dan, terakhir, pembredelan terhadap 19 media Islam online yang hanya berselang beberapa hari dari kenaikan harga BBM kian menguatkan politik asbak rezim Jokowi..

Kelindan politik asbak Benny Moerdani dan Jokowi tidaklah mengejutkan. Sejak awal Jokowi didukung oleh kalangan Kristen fundamentalis semacam James Riyadi, maupun kalangan Katolik fundamentalis seperti Sofyan Wanandi, serta jenderal anti Islam Hendropiyono yang merupakan binaan Benny Moerdani.

Tentang Hendropriyono yang merupakan anak didik Benny Moerdani, bisa kita simak dalam memoar Jusuf Wanandi di bukunya yang berjudul “ Menyibak Tabir Orde Baru”. di halaman 374. Kepada Agum Gumelar dan Hendropriyono, Benny Moerdani berkata: “Kita harus melindungi Megawati. Jangan sampai mengecewakan dia. Saya tahu orang tua itu ingin menggesernya. Ini tidak adil.” Tentu yang dimaksud “orang tua itu” adalah Soeharto. Dari sinilah Peristiwa 27 Juli meletus.

Dengan melihat sosok-sosok yang ada di sekitar Jokowi, tentu saja kesimpulan bahwa rezim ini melanjutkan politik asbak Benny Moerdani tidak berlebihan. Politik semacam ini tak pandang bulu dan menghalalkan segala cara karena kadung bencinya mereka kepada umat Islam. Karena itu tak mengejutkan jika situs semoderat www.dakwatuna.com yang menjadi rujukan Raja Yogya sekalipun diblokir dengan alasan mengajarkan radikalisme.

Erwyn Kurniawan
Pemred Kabarumat.com