“Islam Ajarkan Pemahaman yang Komprehensif Tentang Allah Tanpa Adanya Spekulasi Filosofis”

Perkuliahan dengan tema “Tauhidullaah” diselenggarakan pada hari Kamis, 19 Maret 2015, di Aula INSIST, Kalibata, Jakarta Selatan. Kuliah ini diadakan sebagai kajian ketiga bagi dalam Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL. Narasumber yang hadir pada malam itu adalah Akmal, M.Pd.I.

Pembahasan dimulai dengan memperkenalkan beberapa konsep ketuhanan, dimulai dari mitologi Yunani kuno. “Zeus, sebagai dewa yang paling kuat diantara dewa Yunani lainnya, meskipun perkasa namun ia tidak mampu mengetahui segalanya. Zeus juga sering berperilaku tidak mulia. Ia memakan istri pertamanya, Metis, dan melakukan hubungan seks dengan anak laki-laki bernama Ganymedes. Apa yang dilakukan dalam keseharian bangsa Yunani kemudian tidak jauh berbeda dengan tuhan-tuhan mereka,” ungkap Akmal. Perilaku yang sama kemudian juga dilakukan oleh bangsa Romawi.  “Romawi hanya mengambil mitologi Yunani dan mencantumkan nama-nama dewa yang berbeda saja,” ujarnya lagi.

Akmal melanjutkan pembahasa dengan konsep Tuhan pada agama Kristen yang menurutnya juga sulit dipahami, terutama konsep Trinitasnya. “Konsep Trinitas mustahil dapat dicerna oleh akal. Oleh karena itu, iman dalam agama Kristen senantiasa bertentangan dengan logika,” papar penulis buku Islam Liberal 101 ini. Akmal juga menggarisbawahi konsep penebusan dosa manusia dalam agama Kristen. “Akibat pemahaman bahwa dosa harus ditebus dengan penderitaan, ada masa-masanya ketika Gereja sendiri memprakarsai berbagai penyiksaan sadis,” ujarnya.

Lain lagi dengan kepercayaan Hindu. “Hinduisme pada dasarnya bukan satu agama. Kepercayaan ini sangat mudah menyerap ajaran dari agama lain. Karena itu, Hindu sarat dengan sinkretisme,” ungkapnya.

Komparasi ini kemudian ditutup dengan penjelasan konsep Tauhid dalam Islam. “Surah Al-Ikhlas sangat jelas sekali memperkenalkan Allah SWT. Islam mengajarkan pemahaman yang komprehensif tentang Allah tanpa adanya spekulasi filosofis. Pada akhirnya, pemahaman manusia terhadap Tuhannya akan menentukan worldview yang digunakannya dan menentukan posisinya di antara manusia lainnya,” pungkas inisiator SPI ini.

Kuliah malam itu ditutup dengan sebuah pertanyaan mengenai agama Budha dan mengapa orang Barat banyak tertarik dengan Budha.  Menurut Akmal, hal tersebut terjadi karena Budha tidak banyak berbicara soal Tuhan, namun tentang pencerahan. Karena orang Barat sudah lelah dengan gaya hidup sekuler dan liberalnya, maka mereka memilih Budha yang justru sangat kuat mengekang hawa nafsu manusia. “Tapi kemudian kita pun perlu bertanya. Dengan mengekang hawa nafsu seperti itu, berapa lama manusia akan bertahan? Ataukah tindakan ekstrem seperti itu juga akan membawa efek samping yang lain?” ujar Akmal beretorika.

Kaisar Akbar