Rusaknya Budaya Bangsa Oleh Gubernur Tak Beretika

Telah masyhur pepatah yang diajarkan oleh para leluhur bangsa ini sejak dulu, bahwa bahasa mencerminkan budi, dan budi bahasa mencerminkan bangsa.

Karena itu bangsa ini begitu kaya dengan keindahan bahasa. Dalam upacara-upacara adat, pantun dan basa-basi percakapan menjadi keabsahan sebuah prosesi. Lihatlah bagaimana dalam proses meminang dan pernikahan, adat di beberapa tempat di nusantara mengharuskan berbelitnya prosesi melalui acara saling menanggapi pantun. Atau adanya lenggam dan senandung berisi petuah dengan keindahan syair yang mewejangi mempelai .

Bangsa ini juga dididik melalui pepatah-pepatah yang sarat perumpamaan dan keindahan bahasa. Pada budaya bangsa ini, berlaku siapa yang bertutur kasar akan tersingkir dari pergaulan, dan siapa yang bertutur halus dan santun akan memiliki banyak kawan. Kebijaksanaan seseorang terlihat dari bagaimana ia bertutur, dan itu pula yang menjadi ukuran kelayakan seorang pemimpin.

Lalu apa yang terjadi bila kini bangsa ini dipimpin oleh manusia yang tak mampu menjaga tutur katanya tetap santun. Di depan khalayak, ia tunjukkan budi bahasa buruk. Dan ia bangga dengan perilaku begitu.

Itulah yang terjadi di wawancara live di KompasTV yang menghadirkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Ringan saja Ahok mengumbar kata-kata buruk. Dengan memasamkan muka ia keluarkan kata-kata makian. Saat pemandu acara berkata dengan sopan, “dengan segala hormat,” agar Ahok menjaga kata-katanya pada tayangan langsung itu, Ahok tak mengindahkannya. Ia malah balik menyalahkan pihak stasiun televisi yang telah memintanya untuk wawancara langsung.

Entah mau di bawa kemana jati diri bangsa ini. Sudah tak ada lagi kah di tengah masyarakat yang mampu tampil memimpin dengan kekuatan tuturnya yang bijaksana? Tentu saja, kita memusuhi korupsi dan mendambakan pemimpin yang melawan korupsi. Tapi bukan memeranginya dengan merusak budaya yang luhur.

Celakanya, sebagian anak bangsa ada yang menyanjung cara berbahasa yang rusak seperti yang ditunjukkan Ahok. Mereka menjadikannya dewa tanpa cela hanya karena tidak (belum) terjerat kasus korupsi. Gaya Ahok menentang DPRD DKI – yang dianggap sebagian masyarakat ini sebagai gudang koruptor – dijadikan pembasuh segala kesalahannya. Bahkan menjadikan kesalahan Ahok sebagai sebuah kebenaran.

Entah dengan budaya apa Ahok dibesarkan hingga tak mampu mengendalikan kata-katanya di depan khalayak. Entah pelajaran budi seperti apa yang didapatnya sehingga merasa bangga telah berbicara buruk di depan massa. Dan kini tata bahasa rusak budaya itu dipuja-puja oleh para pembelanya.

Bila begini, makin daruratlah kehidupan berbudaya di nusantara. Pemimpin yang tak mampu menjaga tutur kata namun dipuja, mengingatkan pada kisah di akhir zaman, tatkala Dajjal berkuasa dan memiliki banyak pengikut yang tersihir meski sang ia bergelimang dosa. Tentu Dajjal belum turun, namun fenomena “yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan” begitu gamblang terlihat akhir-akhir ini.

Aduhai, bukalah mata kalian wahai anak bangsa!