Lagi-Lagi Tempo

Lagi-Lagi Tempo. Itu kata yang terbersit di benak saya saat melihat halaman depan Koran Tempo hari ini, Jumat, 13 Maret 2015. Di halaman mukanya terpampang gambar seorang pria berkopiah hitam dengan janggut tipis dan celana agak mengatung. Pria tersebut sedang memanggul senjata api laras panjang dan bersiap untuk pergi. Sebuah goodie bag bertuliskan I Love Turkey dijinjingnya. Gambar itu dibuat Koran Tempo untuk memvisualkan berita hilangnya 16 Warga Negara Indonesia (WNI) di Turki. Muncul dugaan mereka raib karena membelot ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Ilustrasi tersebut sangat tendensius dan stigmatif. Belum ada bukti kuat bahwa ke-16 WNI yang hilang itu akan bergabung dengan ISIS. Itu dapat dibaca dalam berita di Koran Tempo sendiri.

Dengan demikian, berarti ada dua kelompok warga Indonesia dengan jumlah anggota sama persis, yakni 16 orang, yang diduga berniat bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)—belakangan menjadi Negara Islam (IS).

Soal yang lebih serius adalah stigmatisasi atau labeling yang ingin disampaikan melalui gambar tersebut. Siapapun yang melihat ilustrasi Koran Tempo dengan cepat menyimpulkan bahwa pria itu adalah santri atau muslim. Dan itu artinya Koran Tempo ingin mencitrakan pria bercirikan seperti itu berafiliasi kepada ISIS.

Usaha mengaitkan Islam dengan terorisme, kekerasan, lalu ISIS bukanlah ulah baru bagi Koran Tempo. Kita masih ingat dengan kasus Monas tahun 2008. Diberitakan , umat islam melakukan aksi kekerasan umat Islam terhadap AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Islam pun diopinikan sebagai antikebhinekaan, mengingat saat peristiwa terjadi bertepatan dengan Hari Pancasila. Padahal, bentrokan antara FPI dan AAKBB disebabkan oleh provokasi AKKBB. Tapi media tak mau tahu. Fakta itu mereka sisihkan, dan hanya memberitakan aksi kekerasan FPI.

Keesokan harinya, Koran Tempo menampilkan foto headline saat Munarman, tokoh FPI, sedang “mencekik” seorang laki-laki –yang ditulis mereka sebagai anggota AKKBB–, untuk memberikan efek dramatis aksi kekerasan FPI. Ternyata, fakta yang sesungguhnya tidak demikian. Munarman justru sedang berusaha mencegah anggota FPI melakukan serangan kepada anggota AKKBB.

Kita juga masih ingat Koran Tempo kerap kali menampilkan foto para tersangka teroris dengan wajah khas para aktivis Islam: berjanggut, bersorban dan lainnya. Pernah, dalam headlinenya—salah satu koran yang juga bersemangat menentang UU Pornoaksi– itu menulis pemikat beritanya dengan kalimat berikut. “Ia ahli bekam dan pengobatan herbal,” tulisnya menunjuk pada sosok Syaifudin Zuhri, ustadz yang menurut mereka adalah teroris.

Atau foto Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS yang dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi. Saat itu, Luthfi sedang dijerat kasus dugaan percobaan suap Rp 1,3 miliar dari Ahmad Fathonah. Dan wanita-wanita itu mendapat aliran dana dari Fathonah.

Entah ada agenda apa sehingga Koran Tempo begitu bersemangat untuk urusan menghubungkan Islam dengan kekerasan, korupsi, terorisme dan ISIS. Yang lebih memprihatinkan bukan cuma tentang agenda, tapi Koran Tempo kini semakin hobi menabrak prinsip-prinsip dasar jurnalisme hanya untuk menstigmatisasi umat Islam.

Ke depan, ulah serupa bisa dipastikan akan terulang, terlebih di bawah rezim sekarang yang setali tiga uang dengan Koran Tempo: tidak berpihak kepada umat Islam.

Erwyn Kurniawan
Pemred www.kabarumat.com