Pak JK…Please…Jangan Tiru Attaturk

Aneh. Ini kata yang paling tepat dituliskan saat mendengar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) meminta agar istilah bahasa arab dalam dunia perbankan syariah di Indonesia diubah. JK meminta istilah teknis di bank syariah seperti mudarabah atau wakalah diganti dengan bahasa Indonesia.

“Tadi Pak wapres juga arahannya supaya istilah instrumen yang sekarang pakai Bahasa Arab semua, mudarabah, wakalah itu bisa di-Indonesiakan. Supaya ini bunyinya adalah ekonomi Islam ala Indonesia bukan ala Timur Tengah,” kata Bambang Brodjonegoro yang menghadap JK dala kapasitasnya sebagai Ketua Umum DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di kantor Wapres, Kompleks Istana, Selasa (10/3/2015).

Bambang yang juga menteri keuangan itumelanjutkan, ia akan membicarakan usulan dari JK kepada pihak asosiasi perbankan syariah. Agar proses pengubahan istilah Arab ke Indonesia lebih tepat.

“Jadi terjemahkan kan nggak sekedar lihat kamus,” katanya.

Permintaan JK, jika memang benar apa yang disampaikan Bambang, mengingatkan kita pada sosok Mustafa Kemal Attaturk, presiden Turki pertama paska runtuhnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924. Ia bertindak radikal guna menghancurkan peradaban Islam.

Di antaranya menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan, mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup beberapa masjid dan madrasah, mengganti agama Negara dengan sekularisme, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum, melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Kebijakan tersebut akhirnya menjadikan Turki sebagai Republik Sekuler yang sangat anti terhadap dakwah Islam. Ciri Islam di Turki hampir – hampir hilang sama, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan jejak peradaban Islam di Turki.

Kita berharap Bambang salah menafsirkan permintaan JK. Berkaca pada latar belakang JK yang religius dan bahkan hingga kini masih menjadi Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), mudah-mudahan ide tersebut tidak benar. Namun jika ternyata JK memang menginginkan perubahan tersebut, maka kita hanya bisa berucap: Pak JK…Please…Jangan Tiru Attaturk…

Fauzan Farzandi