Reklamasi, Beda Sensitivitas Antara Masyarakat Jakarta dan Bali

Lain padang lain belalang. Lain Bali lain pula Jakarta.

Di Bali, masyarakat sana menolak keras reklamasi Teluk Benoa. Beberapa kali demonstrasi digelar untuk mendesak Gubernur Bali Made Mangku Pastika tidak memberikan izin reklamasi karena dianggap dapat merusak lingkungan.

Penolakan di Bali disuarakan juga oleh seniman. Band Superman Is Dead cukup gencar mengkampanyekan penolakan reklamasi Bali di social media yang kemudian diikuti juga oleh penggemar mereka.

Bahkan demonstrasi tidak hanya digelar di Bali, tapi juga di Jakarta. Pada ahad 23 November 2014 lalu, ratusan massa yang tergabung dalam Forum Rakyat Bali (FRB) melakukan aksi demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI) untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Kami mengutuk reklamasi itu karena bagian dari campuhan agung, itu jelas kami tolak sebagai rakyat Bali,” ucap salah satu orator, I Putu Gede Ari Sute.

Tapi hal sebaliknya terjadi di Jakarta. Reklamasi malah berjalan mulus tanpa ada protes masyarakat setelah mendapat izin pemerintah Provinsi DKI Jakarta berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 2238 Tahun 2014 tertanggal 23 Desember 2014 tentang Pemberian Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau G kepada PT Muara Wisesa Samudra.

Proyek reklamasi kawasan Pluit menjadi Pulau G alias Pluit City pun makin mendekati kenyataan. Izin telah diperoleh Agung Podomoro lewat anak usahanya PT Muara Wisesa Samudera (MWS) dengan kepemilikan tidak langsung melalui PT Kencana Unggul Sukses (KUS). Investasi untuk mengembangkan pulau itu sendiri ditaksir mencapai Rp 50 triliun.

Tak banyak yang menyuarakan protes reklamasi ini. Padahal setiap reklamasi tentu punya dampak pada lingkungan. Saat ini masyarakat tengah direbut perhatiannya kepada perseteruan antara Gubernur dan DPRD DKI Jakarta. Dukungan kepada Gubernur pun sedang ramai oleh setting media yang apik. Masyarakat sedang ribut soal UPS dan anggaran 12T, tanpa mempedulikan lingkungan yang terancam akibat reklamasi pantai.

Suara protes kepada Gubernur DKI Jakarta Ahok pun akan tenggelam oleh dukungan mainstream kepadanya. Apa pun yang diperbuat Ahok kali ini akan dibenarkan oleh masyarakatnya. Apa pun isu negatif tentang Ahok akan dikonversi menjadi kecurigaan bahwa isu itu pesanan dari musuhnya.

Di tengah mabuknya masyarakat dengan gaya Ahok, kekuatan kapitalis sukses mencengkeram tanah Jakarta. Kaum bermodal berpesta di tanah reklamasi, tanpa perlawanan dari masyarakat yang buta.

M Fikri