Gatal PKS

Sejak awal kericuhan antara DPRD DKI Jakarta dengan Ahok, anggota legislatif dari PKS minim sekali tampil di tengah pusaran. Hanya dua tokoh yang terkenal frontal melawan Ahok, yaitu Lulung Abraham Lunggana dan M Taufik. PKS memang terlibat dalam penandatanganan Hak Angket saat DPRD DKI Jakarta menilai Ahok telah melakukan pelanggaran undang-undang karena menyerahkan draft APBD, bukan hasil pembahasan antara DPRD DKI Jakarta dengan Pemprov ke Mendagri.

Tapi karena gatal, ada saja pihak yang ingin menyeret PKS ke tengah kericuhan. Seperti yang terjadi hari ini, muncul fitnah bahwa politisi PKS Tubagus Arif telah memaki Ahok dengan kata Anjing, saat rapat mediasi antara DPRD DKI dengan Gubernur 6 Maret 2015 kemarin.

Bukti tuduhan itu benar-benar lemah. Hanya berbekal video yang di situ terdengar suara “Woy Anjing.” Tidak jelas kata-kata itu ditujukan ke siapa, dan oleh siapa. Malah dalam sebuah video terlihat bahwa asal suara dan lokasi Tubagus Arif berada tidak sama. Asal suara berasal dari barisan belakang peserta rapat, sedangkan Tubagus Arif berada di depan.

Fitnah keji ini kemudian dijawab tenang oleh Tubagus Arif melalui akun twitternya. Ia menulis: “Di pagi ini kita dikagetkan dg tuduhan yang keji & fitnah. Alhamdulillah lisan ini masih terjaga & tidak mengucapkan spt hal yang dituduhkan”.

Pihak yang melawan Ahok memang menjadi sasaran bully habis-habisan di dunia maya. Mengingatkan pada saat awal popularitas Jokowi, siapa yang mengkritiknya akan diserang habis-habisan. Belakangan diketahui bahwa ada “pasukan” yang memang bertugas mem-bully siapapun yang mengkritik Jokowi.

Selama ini orang-orang itu tidak menemukan PKS sebagai sasaran bully dalam kasus kisruh DPRD DKI Jakarta dengan Ahok. Yang ada hanya Lulung atau Taufik. Dan saat media massa membahas kedua orang itu, minim sekali disebut asal partainya. Berbeda dengan Tubagus Arif yang langsung dilekatkan dengan kata PKS.

PKS memang sayang sekali untuk tidak dibully dalam kisruh ini. Pihak pembenci kalangan Islamis tentu merasa ada yang kurang saat membela Ahok. Mereka kehilangan PKS untuk dijadikan sasaran kemarahan. Mereka gatal, hingga ketika sudah tak tertahankan lagi, mereka pun melempar fitnah. Kasihan.

Fikri, Depok